Pada artikel yang telah lalu, kita telah menyebutkan Imam Syafii telah mencela sufiyah (shufiyyah) karena kesesatan mereka. Beliau telah menyebutkan ciri-ciri mereka untuk memperingatkan agar tidak tertipu dengan mereka dan masuk ke dalam bid’ah sufiyah.

Dalam pertemuan ini, kita akan membawakan beberapa landasan pondasi sekte sufiyah secara ringkas, sehingga kita mengetahui dengan sebenarnya hakekat sufiyah.

1.    Sufiyah Membuat Perpecahan Dalam Agama

Aliran Sufiyyah mempunyai banyak tarekat (jalan). Antara lain: Tijaniyyah, Qadariyyah, Naqsyabandiyyah, Syadzaliyyah, Rifa’iyyah dan lainnya yang semuanya mengaku diatas jalan yang benar dan menganggap jalan yang lain adalah batil/salah.
Padahal Islam telah melarang adanya perpecahan (membuat jalan baru), seperti firman Allah:
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum :31-32)

2.    Sufiyyah berdo’a kepada selain Allah yaitu kepada Nabi, para wali yang hidup dan yang telah mati.
Mereka berdoa menyeru: “Yaa Jailani! Yaa Rifa’i! Wahai Rasulullah!” dengan tujuan istighatsah dan memohon pertolongan atau dengan ucapan, “Wahai Rasulullah! Engkaulah tempat bersandar.”

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika engkau berbuat yang demikian itu maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (Yunus: 106)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)

Maka do’a itu adalah ibadah seperti halnya shalat. Kalau shalat tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, maka demikian pula doa tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, sekalipun kepada Rasul dan para Nabi. Karena hal itu termasuk perbuatan syirik akbar (besar) yang dapat menghapus amal baiknya di dunia, menjadikan pelakunya keluar dari Islam menjadi seorang yang kafir dan pelakunya kekal di neraka.

3.    Aliran Sufi meyakini bahwa di bumi ini ada badal-badal dan kutub-kutub juga wali-wali yang Allah menyerahkan kepada mereka segala urusan dan pemeliharaannya, seperti mencipta, mengatur dan sebagainya

Padahal orang musyrikin di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak meyakini demikian, sebagaimana yang dikisahkan Allah ketika ditanya siapa pencipta alam ini:
“… dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka orang-orang musyrik itu menjawab: Allah.” (Yunus: 31)

Sedang orang-orang sufi itu meyakini bahwa ada selain Allah yang mengatur alam ini. Mereka ini adalah wali-wali Allah menurut mereka.

4.    Aliran Sufi berharap kepada selain Allah ketika ditimpa musibah
Padahal firman Allah:
“… Dan bila kamu ditimpa kemudharatan (musibah), maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-An’am: 17)

5.    Sebagian aliran Sufi meyakini adanya wihdatul wujud (menyatunya hamba dengan Allah)
Sehingga tidak berbeda antara pencipta dan makhluk dan semua makhluk bisa menjadi sesembahan. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Arabi (tokoh sufi) yang telah dikubur di Damaskus, dia mengatakan:
Hamba ini adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba
Wahai siapa yang dibebani (ibadah)?
Jika saya katakan saya adalah hamba itu betul.
Dan jika saya katakan saya adalah Tuhan, maka bagaimana akan dibebani?

Ini adalah kesyirikan akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Bagaimana seorang manusia mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, yang berikutnya ia mengatakan bahwa ia terbebas dari kewajiban ibadah (karena ia sudah berkedudukan sebagai Tuhan)?

6.    Aliran sufi menyeru untuk zuhud kepada dunia dan meninggalkan asbab-asbab (dalam memperoleh kebutuhan di dunia)
Mereka berlebihan dalam meninggalkan kehidupan dunia sampai kepada batasan terjatuh dalam kerahiban.

At-Tusturi (-283 H) mengatakan: “Seorang sufi adalah orang yang memandang darahnya (jiwanya) itu sia-sia tidak bernilai dan miliknya itu boleh dijamah siapapun.”

Abul Husain An-Nuri ( – 295 H) berkata: “Tashawwuf (tasawuf) itu meninggalkan setiap kepentingan jiwa.”

Padahal ini menyelisihi firman Allah:
وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kebutuhan) duniawi.” (Al-Qossos: 77)

Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu pernah memberi nasehat:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Dirimu juga mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Keluargamu pun juga mempunyai hak yang harus kamu penuhi. Maka berikanlah hak kepada setiap yang berhak!”
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkan Salman. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

7. Pengkultusan /pemujaan syaikh-syaikh dan menyerahkan ketundukan kepada mereka, bersikap ghuluw (berlebihan) kepada mereka.
Bahkan aliran Sufi memberikan kedudukan ihsan kepada Syaikh-Syaikh mereka. Mereka meminta kepada pengikut-pengikutnya untuk membayangkan syaikh-syaikh mereka itu ketika berdzikir kepada Allah, bahkan dalam shalat mereka sekalipun. Pernah seorang dari mereka meletakkan gambar syaikhnya di hadapannya dalam shalat, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Al-Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihat-Mu.” (HR. Muslim)

8.    Aliran Sufi mengatakan bahwa beribadah kepada Allah itu jangan takut neraka-Nya atau mengharap surga-Nya.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh Rabi’ah Al-‘Adawiyyah (salah seorang tokoh sufi wanita, yang pekerjaannya adalah sebagai biduawanita):
“Ya Allah! Jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu maka tenggelamkanlah aku di dalamnya, dan jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku darinya.”

Dan juga pernah pengikut aliran sufi menyanyikan perkataan Abdul Ghani an-Nabilisy:
“Barangsiapa beribadah karena takut neraka Allah, berarti dia penyembah api. Dan barangsiapa yang beribadah karena menginginkan surga berarti dia penyembah berhala.”

Sementara Allah SWT memuji para Nabi yang mereka itu berdo’a untuk mendapatkan surga Allah dan takut dengan neraka-Nya. Allah SWT berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا (90)
“Sesungguhnya mereka adalah orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Anbiyaa’: 90)
Maksudnya, mereka sangat mengharapkan surga Allah dan takut (cemas) pada siksa (neraka) Allah.

Allah menerangkan kepada Rasul-Nya :
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (15)
“Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan azab yang besar (hari kiamat) jika kamu mendurhakai Tuhan-ku.” (Al-An’am: 15)

Ibnu Baththah rahimahullah memperingatkan dari Sufiyah yang menggugurkan dua rukun ibadah, yaitu: rasa takut (khouf) dan rasa harap (roja’), karena mereka mengaku merasa cinta (hubb) dan rindu (syauq) kepada Allah. Beliau berkata tentang Sufiyah:
“Mereka ini orang-orang yang punya keinginan yang rendah, dan aturan-aturan agama yang bid’ah (diada-adakan). Mereka menampakkan seolah-olah zuhud. Dan semua penyebab mereka adalah kegelapan. Mereka mengaku rindu dan cinta kepada Allah, dengan menggugurkan khouf (rasa takut) dan roja’ (rasa berharap). Mereka mendengarkan dendangan para pemuda (tampan) dan juga para wanita. Mereka menyanyi, pingsan dan pura-pura pingsan serta pura-pura mati. Semua itu karena akuan mereka sangat rindu dan cinta kepada Allah.” (Talbis Iblis hal. 237)

9.    Aliran Sufi membolehkan menari, bermain musik dan mengeraskan suara ketika berzikir.
Kita dapat menyaksikan pengikut aliran sufi itu berdzikir dengan lafadz Allah saja dan pada akhirnya berdzikir dengan lafadz ‘Hu’ (Dia) saja. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan shahih)
Jadi, tidak dengan ‘Allah’ dan ‘Hu’ saja.

Di dalam berdzikir mereka mengangkat suaranya dengan keras dan bersamaan (koor/berjama’ah), padahal berdo’a seperti itu terlarang berdasarkan firman Allah:
“Berdo’alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55)
Maksudnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan dalam berdo’a dengan terlalu cepat dan dengan suara yang keras. (Lihat Tafsir Jalalain Imam Suyuthi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar para shahabat mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka :
“Wahai manusia! rendahkanlah suaramu, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada dzat yang tuli dan tidak ada, tetapi kalian berdo’a kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat dan Allah senantiasa bersamamu.” (HR. Muslim)
Allah bersamamu dengan Pendengaran dan Ilmu-Nya dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

10.    Aliran Sufi biasa berdzikir dengan menyebut nama arak (khomer) dan memabukkan
Seperti yang diucapkan oleh seorang penyair Sufi yang bernama Ibnu Farid:
“Kami minum (mabuk) dengan menyebut Yang Tercinta, kami mabuk dengan mudamah sebelum diciptakannya anggur.”
Ada kelompok Sufi bernyanyi di dalam masjid dengan ucapan syair: “Berilah kami Ar-Raah, tuangkan untuk kami semangkok.”

Ar-Raah dan Al-Mudamah dalam syair ini maksudnya adalah khamer.

Mereka aliran sufi tidak punya malu, berdzikir dengan nama khamer di masjid-masjid Allah yang semestinya masjid digunakan untuk menyebut nama Allah saja, bukannya khamer yang haram itu.

11. Mereka membuka pintu bid’ah (mengada-adakan) dalam agama.

12. Mereka juga menutup pintu amar ma’ruf nahi munkar, dengan alasan tidak mau menentang syaikh, meskipun syaikhnya melakukan perbuatan nista. Karena mereka mengaku bahwa syaikh mereka dapat wahyu dari Allah sebagaimana para nabi. Padahal para nabi pun yang mendapat wahyu, mereka adalah orang yang paling taat kepada syariat Allah dan sangat jauh dari perkara maksiat.

13. Pembagian ilmu menjadi Syari’at dan Hakikat, yang mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.

Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat, tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini)

14. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib. Allah Ta’ala dustakan mereka dalam firman-Nya:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

15. Keyakinan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dari nuur / cahaya-Nya, dan Allah Ta’ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Padahal Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al-Kahfi: 110).
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat’.” (Shaad: 71)

Dan sufiyah jaman dulu itulah yang menanamkan benih penyimpangan dalam tasawwuf mereka. Meskipun hal itu tidak nampak melainkan secara bertahap sesuai berjalannya masa.

Sedang tasawwuf pada masa sekarang adalah penerus dari para pendahulunya. Ini dibuktikan dengan keadaan sufiyah pada masa sekarang.

Saudara-saudaraku, ini sedikit pembahasan tentang sufiyah. Hal ini karena aliran sufi telah berpengaruh besar pada kehidupan muslimin sejak abad ketiga Hijriah sampai hari ini, dan mencapai puncaknya pada abad terakhir. Ia telah besar mempengaruhi keyakinan muslimin dan menyelewengkannya dari jalan yang benar, yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an Al-Karim dan Sunnah yang suci.

Hal ini adalah sisi yang paling berbahaya dari aliran sufi karena pemikiran sufi telah digabung dengan pemujaan terhadap para wali dan para masyayikh dan ghuluw (berlebihan) dalam memuja orang-orang mati. Sebagaimana ada di antara mereka yang berpendapat bahwa segala sesuatu keberadaannya dalam hakikat Alloh (wihdatul-wujud).

Sebagaimana mereka telah menghilangkan semangat jihad, yaitu berperang di jalan Alloh untuk membuat kalimat Allah itu yang mulia, dengan sesuatu yang mereka akui sebagai jihad terbesar, yaitu jihad dalam melawan jiwa mereka sendiri (jihadun-nafs). Mereka mendasarkan pada hadits: “Kita kembali dari jihad kecil kepada jihad yang besar: yaitu berjihad melawan jiwa mereka sendiri.” Padahal ini bukan hadits dan tidak ada asalnya. Dan telah hadits palsu ini telah memberikan kesempatan dalam dua abad lalu bagi penjajah untuk menjajah negri-negri Muslim, dan aliran sufi telah menjangkiti setiap rumah di semua wilayah negri-negri Muslimin.

***
Iklan