Auliya’ adalah kata majemuk dari kata tunggal wali. Tentunya yang dimaksud di sini adalah wali Allah, bukan wali setan, karena wali ada dua, yaitu wali Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah wali-wali setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. (QS. an-Nisa’: 76)

Sehingga sangat jelas diterangkan dalam ayat di atas bahwa wali ada dua, yaitu wali Allah dan wali setan.

Gelar ‘waliyullah’  atau wali Allah Ta’ala telah sering terdengar di telinga kaum muslim. Gelar ini menjadi suatu yang sangat sakral dalam agama Islam karena Allah Ta’ala telah menjelaskan keistimewaan dan kelebihan para wali-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus: 62)

Juga dalam hadits Qudsi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ

Allah Ta’ala berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, aku telah mengumumkan perang kepadanya. HR. Al-Bukhari

Hadits ini dibawakan oleh al-Imam an-Nawawi dalam al-Arba’in an-Nawawiyyah no. Hadits 38.

Dari ayat dan hadits Qudsi di atas kita bisa menyimpulkan bahwa waliyullah memiliki keutamaan sebagai berikut:

  1. Tidak memiliki rasa takut atau khawatir.
  2. Tidak bersedih.
  3. Allah Ta’ala telah mengumandangkan perang kepada orang yang memusuhi wali-Nya.

Demikianlah di antara sekian kelebihan dan sifat yang Allah berikan kepada auliya’-Nya. Sehingga tidak heran jika kaum muslimin sangat menghormati seorang wali ketika disebutkan di hadapannya.

Hanya saja dalam menempatkan dan menghormati para auliya’ tidak boleh keluar dari koridor dan batasan dalam agama Islam, yaitu tidak boleh keluar dari aturan-aturan yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits itu sendiri. Secara garis besar dalam menempatkan dan menghormati para auliya’ adalah  mengambil jalan yang tengah, tidak berlebihan dan tidak melecehkan atau mengurangi hak mereka. Sebagaimana sifat seorang muslim itu sendiri sebagai umat yang pertengahan.

Untuk kali ini kita akan simak penjelasan dari ulama tentang sifat waliyullah atau auliya’ agar tidak salah pula dalam memasukkan seseorang sebagai waliyullah atau bukan. Karena jika tidak mengetahui hakikat sebenarnya siapa waliyullah akan menyebabkan seseorang terjatuh dalam kesalahan yang sangat fatal. Berikut adalah penjelasan dari sebagian ulama kita yang telah dikenali oleh sebagian besar kaum muslimin:

  1. Al-Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah:

Dalam karya yang monumental, yaitu Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan yang dimaksud dengan waliyullah. Beliau mengatakan,

 

المُرَادُ بِوَلِيِّ اللهِ : الْعَالِمُ بِاللهِ الْمُوَاظِبُ عَلَى طَاعَتِهِ الْمُخْلِصُ فِي عِبَادَتِهِ

Yang dimaksud dengan waliyullah adalah orang yang mengetahui (memiliki ilmu) tentang Allah, senantiasa menjalankan ketaatan kepada-Nya, dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. (Fathul Baari: 11/342-versi Maktabah Syamilah)

Penjelasan ini beliau sampaikan ketika memberikan syarah (penjabaran) hadits riwayat al-Bukhari di atas.

 

  1. Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahullah,

Ibnu Daqiq al-‘Id dalam Syarah Arbain Nawawiyyah menukilkan definisi waliyullah yang disampaikan oleh penulis kitab al-Ifshah ‘an Ma’ani ash-Shihah (yang dikenal dengan Ibnu Hubairah meninggal pada tahun 560 H):

وَوَلِيُّ اللهِ عز وجل هُوَ الَّذِي يَتَّبِعُ شَرْعَ اللهِ

Dan waliyullah ‘Azza wa jalla adalah orang yang mengikuti syari’at Allah.

 

  1. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah,

Dalam Tafsir Ibnu Katsir beliau membawakan penjelasan tentang auliya’:

يُخْبِرُ تَعَالَى أَنَّ أَوْلِيَاءَهُ هُمُ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ، كَمَا فَسَرَّهُمْ  رَبُّهُمْ، فَكُلُّ مَنْ كَانَ تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا: أَنَّهُ {لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ} [أَيْ] فِيمَا يَسْتَقْبِلُونَ مِنْ أَهْوَالِ الْقِيَامَةِ، {وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ} عَلَى مَا وَرَاءَهُمْ فِي الدُّنْيَا.

Allah Ta’ala memberitakan bahwa auliya’-Nya adalah orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa sebagaimana Rabb mereka menafsirkan tentang mereka. Sehingga setiap orang yang bertakwa, ia akan menjadi waliyullah, yaitu tidak khawatir terhadap apa yang akan mereka hadapi dari keadaan yang mencekam pada hari kiamat nanti dan tidak pula bersedih atas apa yang mereka tinggalkan di belakang mereka dalam dunia ini.

 

Kesimpulan:

            Sebagai kesimpulan dari penjelasan di atas bahwa para waliyullah atau auliya’ adalah orang-orang yang memiliki ciri-ciri berikut:

  1. Berilmu tentang Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya, tidak hanya sekadar tahu bahwa Allah Ta’ala itu ada dan sebagai Sang Pencipta, akan tetapi mencakup pula konsekuensi ketika telah mengetahui tentang-Nya.
  2. Berusaha melaksanakan ketaatan dengan terus menerus.
  3. Ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala (ini juga menjadi salah satu konsekuensi ketika seseorang memiliki ilmu tentang Allah Ta’ala).
  4. Karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala dengan penuh ikhlas, mereka tidak khawatir terhadap keadaan yang akan dihadapi di hari kiamat nanti. Mereka juga tidak takut terhadap apa yang telah lalu di belakang mereka baik dari perkara dunia yang luput dari mereka atau amalan telah mereka kerjakan karena mereka menjalankannya ikhlas semata karena Allah Ta’ala dan sesuai dengan syari’at yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian waliyullah bukanlah seorang yang melakukan amalan yang keluar dari aturan dan bimbingan syari’at. Bahkan sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang tekun menjalankan syari’at Allah Ta’ala.

Setelah mengetahui kedudukan waliyullah yang demikian mulia dan adanya ancaman bagi orang yang memusuhinya, lalu mungkinkah ada orang yang akan memusuhinya?

Dan permusuhan apakah yang dimaksud dalam hadits sehingga diumumkan perang oleh Allah Ta’ala kepada pihak yang memusuhi atau menyelisihi auliya’?

Penjelasan tentang dua permasalahan di atas akan kita saksikan bersama dari penjelasan dari para ulama pada tulisan berikutnya insyaAllah.

 

 

Iklan