Islam Mengatur Manusia Demi Kebaikan dan Maslahat Manusia Sendiri

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Mungkin terbersit pada sebagian benak bahwa aturan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia, yaitu aturan syari’at Islam, adalah untuk memberikan keuntungan dan menambah kekayaan Allah Ta’ala. Padahal tidak demikian halnya. Allah Ta’ala tidak butuh kepada amalan kita, tidak butuh kepada shalat, puasa, dan bahkan syahadat kita. Allah Ta’ala tidak butuh kepada alam ini, akan tetapi alam ini – termasuk manusia – yang sangat butuh kepada penjagaan dan perhatian dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)

Lagi

Iklan

BIMBINGAN PUASA RAMADHAN 2

Tinggalkan komentar

Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui sebagian bimbingan terpenting dalam menjalankan ibadah puasa, bahkan menjadi bimbingan yang paling penting dan harus dilakukan oleh setiap muslim yang hendak melakukan ibadah puasa Ramadhan. Sebagai kesimpulan dari bimbingan terdahulu adalah

Bimbingan pertama: menjalankan ibadah shiyam Ramadhan ikhlas karena Allah ta’ala

Bimbingan kedua: mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi dalam beribadah

Bimbingan ketiga: berpuasa karena melihat hilal, bukan karena perhitungan ilmu hisab

Bahkan pada bimbingan ketiga ini telah kita ketahui adanya larangan untuk memulai dan mengakhiri puasa kecuali apabila melihat hilal, bukan berdasar perhitungan ilmu hisab atau ilmu perbintangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Jika terhalangi atas kalian maka kira-kirakanlah. Muttafaq ‘alaih.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan judul dalam Shahih Muslim

بَاب وُجُوبِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَالْفِطْرِ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَأَنَّهُ إِذَا غُمَّ فِي أَوَّلِهِ أَوْ آخِرِهِ أُكْمِلَتْ عِدَّةُ الشَّهْرِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Bab wajibnya puasa Ramadhan karena melihat hilal dan berhari raya juga karena melihat hilal, dan apabila terhalangi pada permulaan atau akhir bulan maka dilengkapi jumlah bilangan bulan menjadi 30 hari.

Lagi

As-Suyuthi: Siapakah yang Mengadakan Shalat Raghaib Pertama Kali

Tinggalkan komentar

Al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab berkata: Yang dituduh membuat shalat raghaib adalah Abdullah bin Juhdham. Ia mengadakan shalat itu berdasar hadits yang semua perawinya tidak dikenal dan belum pernah ditemui dalam semua kitab yang ada.

Asalnya ialah apa yang diceritakan oleh at-Thurthusyi dalam kitabnya, ia berkata: Abu Muhammad al-Maqdisi mengabarkan kepadaku, katanya: Lagi

As-Suyuthi: Hukum Shalat Raghaib pada Bulan Rajab

Tinggalkan komentar

Jenis ini di antaranya banyak tersebar di sebagian besar negara-negara Islam dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang awam. Mengenai shalat raghaib ini, banyak dibuat hadits-hadits yang bukan bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Melalui hadits-hadits dusta bohong ini, orang meyakini sesuatu keyakinan yang tidak ada pada perkara yang diwajibkan Allah, dan dengan hadits-hadits ini terbawa pula berbagai kerusakan dan berlarut-larut dalam hal itu menimbulkan berbagai perbuatan munkar, lalu bertebaranlah bunga-bunga apinya dan tampaklah keburukannya. Diantaranya adalah shalat raghaib yang dilakukan setiap awal jumat pada bulan rajab. Lagi