Bismillahirrahmanirrahim

Sejarah perjalan hidup nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung sekian banyak pelajaran yang tidak akan mungkin bisa dimuat dalam satu buku sekaligus. Karena perjalanan hidup beliau pada hakikatnya adalah praktik terapan dari ajaran Islam yang beliau dakwahkan. Sehingga tidak mungkin bisa menggambarkan betapa indah dan betapa sempurnanya kisah perjalanan hidup beliau dalam satu tulisan saja atau dalam satu buku saja atau dalam satu majelis saja.

Butuh kepada rangkaian pembahasan yang panjang dan kesabaran yang pula untuk bisa mereguk manis, segar, dan kelezatan serta kelembutan Islam melalui sejarah perjalanan hidup beliau. Betapa indahnya Islam yang beliau bawa, betapa adilnya Islam yang beliau dakwahkan, dan betapa mulianya Islam yang beliau ajarkan.

Di antara kisah yang telah banyak dimaklumi oleh kaum muslimin adalah ‘Amul huzn’ atau tahun kesedihan. Yaitu tahun meninggalnya istri pertama beliau, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha dan paman beliau bernama Abu Thalib.

                Kedua orang ini sama-sama memiliki jasa besar dalam Islam. Akan tetapi akhiran yang dijumpai oleh keduanya jauh berbeda. Ibnu Katsir rahimahullah meninggal dalam keadaan kafir, sedangkan Khadijah radhiyallahu ‘anhai adalah seorang mukminah dan shiddiqah (al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir).

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,

هذاك كافر وهذه مؤمنة صديقة رضي الله عنها وأرضاها.

Yang itu (Abu Thalib) mati dalam keadaan kafir sedangkan yang ini (Khadijah) adalah seorang mukminan shiddiqah radhiyallahu ‘anha wa ardhaha. (al-Bidayah wan Nihayah, Fashl: Wafaatu Abi Thalib)

Sehingga sangat jauh berbeda apa yang didapati oleh kedua orang ini di akhirat.

                Demikianlah sepenggal kisah yang sering dikenal dalam sejarah Nabi atau sirah nabawiyah. Di antara faedah yang sangat berharga bagi seluruh kaum muslimin, bahkan bagi seluruh non-muslim adalah pentingnya kedudukan tauhid dalam kehidupan di dunia dan akhirat nanti, yaitu kalimat Laa ilaaha illallah yang menjadi kunci surga.

                Para pembaca semua bisa menyaksikan perbedaan yang sangat jauh antara kedua manusia yang sama-sama memiliki kedekatan hubungan dengan baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sama-sama memiliki jasa yang sangat besar dalam membantu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan Islam.

                Ternyata keduanya sama meninggal dalam tahun yang sama, yaitu tiga tahun sebelum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah.

                Oleh karena itu sudah seharusnya bagi kita semua, ma’asyiral muslimin, untuk benar-benar memperhatikan kalimat agung ini. Jangan sampai kita yang telah mengucapkannya, ternyata kita sendiri yang merusak dan membuat orang lain dari kalangan muallafatil qulub dan orang-orang kafir memiliki celah dan alasan untuk memburukkan wajah Islam yang sedemikian indah dan sedemikian agung dan adilnya. Atau malah kita terpental dan terlepas dari tali yang kuat ini gara-gara kebodohan kita.

                Dalam sejarah telah dikenal adanya perang melawan kaum yang murtad. Dalam kitab-kitab fikih juga dikenal bab tentang hukum orang murtad. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mendalami Islam ini dengan serius. Mengamalkan Islam dengan baik dan benar agar kehidupan nan damai , tenteram, dan harmonis akan benar-benar tercapai. Lalu mengajarkannya kepada generasi penerus, kepada anak-anak, kepada cucu-cucu, dan kepada siapa saja yang bisa dijangkau kemampuannya.

                Semoga sepenggal kisah ini bisa memberikan energi tambahan dalam berpegang dengan kalimat Laa ilaaha illallah. Juga semakin erat dalam memegangnya.

                Sebenarnya masih sangat banyak faedah yang bisa dipetik dari kisah meninggalnya Abu Thalib atau tahun kesedihan. Mungkin dilanjutkan pada kesempatan mendatang insyaAllah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. an-Nur: 55)

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. al-Jin: 18)            

Washallallahu wa sallam baraka ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi wa ashhabihi ajmain.