Al-Qur’an dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai kitab yang sempurna dan terjaga. Banyak kandungan pelajaran yang akan bisa dipetik dan dirasakan bagi orang-orang yang berakal saja. Adapun bagi mereka yang telah terkotori akalnya oleh sekian banyak pemikiran ‘najis’ dan menyimpang, al-Qur’an hanya akan dianggap seperti dongengan masa lalu, tidak ada realitanya atau tidak sesuai dengan realita yang ada.

Semua kisah yang ada dalam al-Qur’an benar adanya. Hanya saja detail dari peristiwa itu – seperti nama orang atau nama tempat – tidak disebutkan karena yang menjadi tujuan utama adalah pelajaran dan ibrah di baliknya. Wallahu a’lam.

Di antara kisah tentang peristiwa yang sangat bersejarah adalah kisah tentara bergajah yang Allah Ta’ala abadikan dalam surat al-Fiil. Tentang pasukan bergajah itu sendiri telah dimaklumi oleh semua kaum muslimin, yaitu pasukan Abrahah yang hendak menyerang dan menghancurkan Ka’bah. Kisah ini telah masyhur di tengah-tengah kaum muslimin.

Sedangkan yang ingin kita sampaikan di sini adalah penjelasan dari al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan surat al-Fiil. Beliau mengatakan pada permulaan tafsir surat al-Fiil,

“Ini adalah bagian dari nikmat-nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada bangsa Quraisy ketika dipalingkannya dari mereka serangan tentara bergajah. Padahal sebelumnya tentara bergajah itu benar-benar berambisi untuk menghancurkan Ka’bah dan menghilangkan puing-puingnya. Kemudian Allah Ta’ala menghancurkan mereka, membuat hidung mereka tersungkur, menjadikan langkah mereka sebagai kerugian, menjadikan amalan mereka sesat belaka, dan mengembalikan mereka dengan kerugian yang sangat parah.

Tentara bergajah itu pun sebagai orang-orang yang mengikuti agama Nasrani, sebuah agama yang pada masa itu lebih baik dibanding agama yang dianut bangsa Quraisy berupa penyembahan kepada berhala.

                Akan tetapi peristiwa ini (dihancurkannya tentara bergajah oleh Allah Ta’ala-pen) sebagai irhash (keajabaian di luar kebiasaan manusia sebelum pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) dan sebagai pendahuluan sebelum pengutusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beliau (Nabi Muhammad-pen)  baru dilahirkan menurut pendapat yang paling terkenal. Sehingga seakan keadaan yang terjai mengatakan, “Kami tidak memengkan kalian wahai bangsa Quraisy di atas bangsa Etiopia karena kebaikan kalian yang melebihi bangsa itu.

                Akan tetapi sebagai bentuk penjagaan untuk al-Bait al-‘Atiq (Ka’bah) yang akan Kami muliakan, Kami agungkan, dan Kami hormati dengan diutusnya seorang nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis). Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada beliau. Seorang nabi yang menjadi penutup para nabi.”

Selesai penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir.

Maksud dari penukilan ini adalah sebagai peringatan bagi semua pihak yang ingin menghancurkan negeri al-Haraiman, baik dari kalangan Syiah, dll. Sungguh upaya kalian akan sia-sia belaka dan hanya akan membawa kehancuran bagi diri kalian. Kasihanilah diri kalian wahai Syiah dan yang sejalan dengannya.

Ambillah pelajaran dari kisah tentara bergajah ini. Betapa besar jumlah pasukan yang dibawa untuk menghancurkan Ka’bah. Akan tetapi hanyalah kebinasaan dan kehancuran yang didapatkan bagi pasukan itu.

Demikian pula kalian wahai Syiah, upaya kalian hanya akan menemui kesia-siaan dan kerugian belaka. Mungkin kalian bisa membunuh sebagian kaum muslimin, akan tetapi tetap saja agama Allah ini akan tegak dan jaya walaupun orang-orang kafir, orang-orang musyrik, dan orang-orang munafik tidak senang.