Pada tulisan terdahulu (Mengenal Auliya’ atau Waliyullah) telah kita simak bersama definisi atau yang dimaksud dengan waliyullah. Juga telah kita simak bersama ancaman bagi mereka yang memusuhi wali-wali Allah Ta’ala yang dijelaskan dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengetahui bersama sifatberseteru/berselisih yang menjadi sebab diperangi oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana pula telah kita janjikan pada tulisan terdahulu tentang penjelasan makna memusuhi para wali Allah Ta’ala. Untuk memahami makna permusuhan ini kita akan simak bersama penjelasan dari al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

        Setelah menjelaskan definisi waliyullah sebagaimana yang telah kita sampaikan pada ‘Mengenal Waliyullah’, al-Hafizh rahimahullah menjelaskan sisi isykal (kerancuan) tentang kata mu’adah (الْمُعَادَاةَ) yang terkandung dalam kata kerja عادى , yaitu hadits:

إِنَّ اللهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ

Allah Ta’ala berfirman: Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, aku telah mengumumkan perang kepadanya. HR. Al-Bukhari

Al-Hafizh rahimahullah mengatakan,

وَقَدِ اسْتُشْكِلَ وُجُودُ أَحَدٍ يُعَادِيهِ لِأَنَّ الْمُعَادَاةَ إِنَّمَا تَقَعُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ وَمِنْ شَأْنِ الْوَلِيِّ الْحِلْمُ وَالصَّفْحُ عَمَّنْ يَجْهَلُ عَلَيْهِ

“Dan keberadaan seseorang memusuhinya (waliyullah) bisa menjadi suatu isykal (kerumitan/permasalahan/ketidakmungkinan),  karena kata الْمُعَادَاةَ (saling bermusuhan) hanya akan terjadi dari dua pihak (yang bermusuhan). Padahal di antara sifat seorang wali adalah mengedapankan hilm (kelembutan) dan shafhu (memaafkan) pihak yang berbuat jahil kepadanya.”

Demikian yang beliau jelaskan tentang sisi isykal yang muncul dari kata ‘bermusuhan’. Kemudian beliau memberikan solusi dari isykal di atas, beliau mengatakan,

 وَأُجِيبَ بِأَنَّ الْمُعَادَاةَ لَمْ تَنْحَصِرْ فِي الْخُصُومَةِ وَالْمُعَامَلَةِ الدُّنْيَوِيَّةِ مَثَلًا بَلْ قَدْ تَقَعُ عَنْ بُغْضٍ يَنْشَأُ عَنِ التَّعَصُّبِ كَالرَّافِضِيِّ فِي بُغْضِهِ لِأَبِي بَكْرٍ وَالْمُبْتَدِعِ فِي بُغْضِهِ لِلسُّنِّيِّ فَتَقَعُ الْمُعَادَاةُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ أَمَّا مِنْ جَانِبِ الْوَلِيِّ فَلِلَّهِ تَعَالَى وَفِي اللَّهِ وَأَمَّا مِنْ جَانِبِ الْآخَرِ فَلِمَا تَقَدَّمَ وَكَذَا الْفَاسِقُ الْمُتَجَاهِرُ بِبُغْضِهِ الْوَلِيَّ فِي اللَّهِ وَبِبُغْضِهِ الْآخَرَ لِإِنْكَارِهِ عَلَيْهِ وَمُلَازَمَتِهِ لِنَهْيِهِ عَنْ شَهَوَاتِهِ

“Maka dijawab bahwa saling memusuhi tidak terbatas dalam sengketa dan muamalah duniawi saja sebagai contoh. Bahkan bisa terjadi karena kebencian yang muncul dari ta’ashub (fanatik golongan) seperti yang ada pada sekte Rafidhah dalam membenci Abu Bakar dan mubtadi’ dalam membenci serang sunni, sehingga permusuhan ini akan muncul dari kedua belah pihak.

                Adapun kebencian yang ada pada seorang waliyullah, kebenciannya itu karena Allah dan dalam jalan Allah. Adapun kebencian yang ada pada pihak lain adalah karena alasan yang telah dikemukakan (semata karena kedengkian dan ta’ashub-pen).

                Demikian seorang fasik yang menampakkan perbuatan fasiknya dalam membenci seorang waliyullah, maka kebencian seorang waliyullah adalah dalam jalan Allah sedangkan kebencian pihak lawannya (si fasik) karena sang waliyullah mengingkari perbuatannya dan senantiasa menghalanginya dari melampiaskan syahwatnya.”

Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah melanjutkan penjelasan, beliau mengatakan,

وَقَدْ تُطْلَقُ الْمُعَادَاةُ وَيُرَادُ بِهَا الْوُقُوعُ مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ بِالْفِعْلِ وَمِنَ الْآخَرِ بِالْقُوَّةِ

“Dan terkadang pula kata  الْمُعَادَاةُ  (bermusuhan) dimutlakkan begitu saja dan yang dimaksud adalah permusuhan yang muncul dari salah satu pihak dengan perbuatan dan dari pihak lain berupa kekuatan.”

Kemudian al-Hafizh rahimahullah membawakan penjelasan Ibnu  Hubairah dalam kitab al-Ifshah yang dibawakan pula oleh Ibnu Daqiq dalam Syarah Arbain Nawawi:

 وَقَالَ بن هُبَيْرَةَ فِي الْإِفْصَاحِ قَوْلُهُ عَادَى لِي وَلِيًّا أَيِ اتَّخَذَهُ عَدُوًّا وَلَا أَرَى الْمَعْنَى إِلَّا انه عَادَاهُ من أجل ولَايَته

“Ibnu Hubairah dalam al-Ifshah mengatakan, ‘Firman-Nya عَادَى لِي وَلِيًّا (memusuhi wali-Ku) maknanya adalah menjadikannya sebagai musuh. Dan aku memandang bahwa makna ini (menjadikan wali Allah sebagai musuh-pen) tidaklah terjadi kecuali karena ia memusuhinya karena keberadaan kewalian (pertolongan)-Nya.”selesai penukilan.

Dari penukilan di atas kiranya bisa kita simpulkan beberapa poin berikut:

  1. Perangai auliya’ mendahulukan sikap hilm (lembut, tidak buru-buru bersikap dan bereaksi).
  2. Perangai auliya’ mendahulukan sifat pemaaf terhadap orang yang jahil kepadanya.
  3. Perangai auliya’ membenci karena Allah Ta’ala dan di jalan Allah (mengikuti ketentuan syari’at-Nya), bukan karena membela kepentingan pribadi dan atau menggunakan cara-cara yang tidak dituntunkan dalam syari’at Islam.
  4. Di antara sifat Rafidhah adalah membenci dan memusuhi waliyullah yang paling besar setelah para nabi, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
  5. Kebencian Syiah terhadap para sahabat karena sikap ta’ashub (fanatik) sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar
  6. Kejanggalan sebagian kalangan yang mengaku bermadzhab Syafi’i tetapi justru melariskan akidah sesat yang ada pada kalangan Syiah yaitu membenci para wali Allah dari kalangan sahabat. Bahkan pentolan kalangan itu digelari dengan ‘Imam Syafi’i’-nya zaman sekarang. Sehingga jauh antara gelar ini dengan hakikat ajaran Islam dan akidah al-Imam asy-Syafi’i dan para pengikut madzhab Syafi’i seperti al-Imam Ibnu Hajar, al-Imam an-Nawawi, dan selain mereka.
  7. Bantahan bagi JIN (Jamaah Islam Nusantara) yang bermesraan dengan Syiah Rafidhah; pembenci para sahabat dan pembenci istri-istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; dengan memunculkan slogan ‘rahmatan lil ‘alamin’. Karena slogan ini hanyalah kedok yang sangat rapuh sehingga sangat mudah untuk dilihat kebusukannya bagi orang-orang yang masih memiliki fitrah yang lurus. Akan tetapi bagi orang yang sudah terbalut oleh ta’ashub (fanatik) kelompok, akan menjadi sangat sulit sekali untuk melihat kebusukan dan kerusakan agama yang diusung oleh JIN.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada seluruh kaum muslimin di negeri ini, terkhusus saudara-saudara muslimin yang terjebak oleh fanatisme golongan atau ormas atau orpol. Semoga Allah Ta’ala menuntun kita kepada jalan yang lurus dalam semua hal, dalam menempatkan auliya’, dan urusan-urusan lainnya. Amiin.