APA DAN SIAPA SUNNI ITU …? (3)

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pembahasan Keempat

                Segala puji bagi Allah yang hanya dengan izin dan taufik-Nya pembahasan demi pembahasan yang telah direncanakan pada tulisan ‘Apa dan Siapa Sunni … (1)’ telah kita simak hingga pembahasan ketiga. Sekarang kita akan membahas pembahasan keempat, yaitu bertema “Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?”

Lagi

Iklan

Apa dan Siapa Sunni Itu …? (2)

2 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan yang lalu (Apa dan Siapa Sunni 1) telah kita ketahui asal usul kata sunni dan makna sunnah secara bahasa. Dan biasanya ada keterkaitan antara makna suatu kata menurut bahasa dan menurut syari’at. Wallahu a’lam.

Sekarang kita akan mengenal makna dari kata sunnah yang digunakan dalam istilah syari’at Islam. Sebenarnya telah kita bahas dalam tulisan berjudul “Yang ‘Sunnah’ Ditinggalkan ?”

makna kata sunnah dalam istilah syari’at.

Telah kita sampaikan pula akibat dari salah memahami atau kurang memahami dengan baik suatu istilah akan menimbulkan kerancuan, salah kaprah, bahkan perselisihan dan perpecahan. Di antara kerancuan dan salah kaprah yang terjadi adalah sebagian besar dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan dan diasingkan karena hanya ‘sunnah’ saja, bukan wajib. Padahal kata ‘sunnah’ dalam istilah syari’at memiliki beberapa definisi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Tidak mengapa untuk kita ulang sebagiannya karena sangat penting agar menjadi pengingat dan peringatan bagi kita semua, kaum muslimin dimana saja berada.

فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين

Maka ingatkanlah, karena sesungguhnya peringatan itu akan memberikan manfaat bagi kaum mukminin.

Berikut adalah pernyataan yang kami kopikan dari tulisan kami berjudul “Yang ‘Sunnah’ Ditinggalkan ?”

Lagi

Apa dan Siapa Sunni Itu? … (1)

2 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini kita akan mengenali siapakah atau apa sebenarnya istilah ‘sunni’ dalam Islam. Karena hampir mayoritas kalangan mengaku sebagai kaum ‘sunni’, namun sudahkah pengakuannya itu benar dan jujur? Atau hanya sekadar pengakuan namun jauh menyimpang dari makna ‘sunni’ yang sebenarnya. Pembahasan ini akan dibagi ke dalam beberapa poin penting sebagai berikut:

  1. Asal kata sunni
  2. Arti kata sunnah secara bahasa
  3. Arti sunnah dalam syari’at
  4. Siapakah ‘sunni’ yang sebenarnya?
  5. Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?

Pembahasan Pertama:

Kata ‘sunni’ berasal dari kata sunnah. Mengapa bisa berubah menjadi ‘sunni’?

Lagi

as-Sunnah dalam Pandangan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah

1 Komentar

Hanyalah semata karena rahmat dari Allah Ta’ala pada kali ini bisa kita bawakan pernyataan-pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah terkait dengan sikap yang seharusnya ditempuh dan dipegangi oleh setiap muslim di hadapan ‘sunnah’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

                Pada judul sebelumnya kita telah mengetahui penilaian al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang orang yang menolak ‘sunnah’ atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Pada judul kali ini kita akan bawakan pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang kami nukilkan dari kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi rahimahullah[1], yaitu pernyataan-pernyataan beliau terkait dengan ‘sunnah’ kemudian kita tambahkan beberapa faedah yang penting dari masing-masing perkataan beliau : Lagi

Kedudukan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum (Membela Kehormatan Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam)

3 Komentar

Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah ta’ala. Dan hanyalah Islam agama yang akan diterima dari seorang hamba ketika menghadap kepada-Nya. Dengan demikian Islam-lah agama yang benar, selain Islam adalah agama yang tidak benar, entah Yahudi, Nasrani, atau selainnya. Oleh karena itu kalangan ahli kitab (terutama kaum Yahudi) sangat berambisi untuk merobohkan Islam, karena mereka sangat memahami dan mengetahui bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan terakhir yang harus mereka ikuti. Bahkan mereka mengenali beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri. Sekian banyak makar dan tipu daya mereka lancarkan untuk menyerang Islam. Berbagai cara mereka tempuh agar Islam dijauhi dan dinilai buruk. Namun:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. (QS. Ash-Shaff:8)

Lagi