Memusuhi Wali Allah, Mungkinkah Terjadi?

Tinggalkan komentar

Pada tulisan terdahulu (Mengenal Auliya’ atau Waliyullah) telah kita simak bersama definisi atau yang dimaksud dengan waliyullah. Juga telah kita simak bersama ancaman bagi mereka yang memusuhi wali-wali Allah Ta’ala yang dijelaskan dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengetahui bersama sifatberseteru/berselisih yang menjadi sebab diperangi oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana pula telah kita janjikan pada tulisan terdahulu tentang penjelasan makna memusuhi para wali Allah Ta’ala. Untuk memahami makna permusuhan ini kita akan simak bersama penjelasan dari al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

Lagi

Mengenal Auliya’

Tinggalkan komentar

Auliya’ adalah kata majemuk dari kata tunggal wali. Tentunya yang dimaksud di sini adalah wali Allah, bukan wali setan, karena wali ada dua, yaitu wali Allah dan wali setan. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah wali-wali setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. (QS. an-Nisa’: 76)

Sehingga sangat jelas diterangkan dalam ayat di atas bahwa wali ada dua, yaitu wali Allah dan wali setan.

Lagi

ISLAM AGAMA UNIVERSAL

Tinggalkan komentar

Telah dimaklumi bersama bahwa Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad n. Sebagai utusan Allah Ta’ala beliau mengemban amanat untuk mendakwahkan agama-Nya, yaitu Islam kepada seluruh kalangan manusia, tidak memandang suku, ras, keturunan, dan batas wilayah. Dalam ayat di bawah ini Allah Ta’ala memberikan perintah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قل ياأيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (QS. Al-A’raf: 158)

Lagi

SIFAT SEORANG MUSLIM 2

Tinggalkan komentar

Bersabar

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah: 24)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

Lagi

Akhiran yang Mengenaskan

Tinggalkan komentar

Suatu keadaan yang mengenaskan, menyesakkan, dan memilukan yang dialami oleh pasukan Abrahah, pasukan bergajah yang ia pimpin untuk menghancuran Ka’bah al-Musyarrafah (yang dimuliakan).

Padahal mereka berangkat dari Yaman dengan jumlah pasukan yang sangat banyak sekali agar tidak ada yang bisa menghalangi mereka dalam perjalanan menuju Makkah. Jumlah pasukan yang sedemikian besar yang dipimpin oleh Abrahah itu membuat ciut nyali sebagian bangsa Arab. Akan tetapi sebesar apapun dan sebanyak apapun tetaplah tidak akan mampu melawan kekuatan Allah Ta’ala yang Mahakuat, Mahaperkasa, Mahamencipta. Ia Dzat Yang Mahamengetahui lagi Mahabesar. Ia Mahakuasa, tidak ada yang bisa mengalahkan atau membuat-Nya lemah.

Lagi

Tahun Kesedihan (‘Aamul Huzn)

2 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Sejarah perjalan hidup nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung sekian banyak pelajaran yang tidak akan mungkin bisa dimuat dalam satu buku sekaligus. Karena perjalanan hidup beliau pada hakikatnya adalah praktik terapan dari ajaran Islam yang beliau dakwahkan. Sehingga tidak mungkin bisa menggambarkan betapa indah dan betapa sempurnanya kisah perjalanan hidup beliau dalam satu tulisan saja atau dalam satu buku saja atau dalam satu majelis saja.

Butuh kepada rangkaian pembahasan yang panjang dan kesabaran yang pula untuk bisa mereguk manis, segar, dan kelezatan serta kelembutan Islam melalui sejarah perjalanan hidup beliau. Betapa indahnya Islam yang beliau bawa, betapa adilnya Islam yang beliau dakwahkan, dan betapa mulianya Islam yang beliau ajarkan.

Lagi

APA DAN SIAPA SUNNI ITU …? (3)

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pembahasan Keempat

                Segala puji bagi Allah yang hanya dengan izin dan taufik-Nya pembahasan demi pembahasan yang telah direncanakan pada tulisan ‘Apa dan Siapa Sunni … (1)’ telah kita simak hingga pembahasan ketiga. Sekarang kita akan membahas pembahasan keempat, yaitu bertema “Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?”

Lagi

Apa dan Siapa Sunni Itu …? (2)

2 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan yang lalu (Apa dan Siapa Sunni 1) telah kita ketahui asal usul kata sunni dan makna sunnah secara bahasa. Dan biasanya ada keterkaitan antara makna suatu kata menurut bahasa dan menurut syari’at. Wallahu a’lam.

Sekarang kita akan mengenal makna dari kata sunnah yang digunakan dalam istilah syari’at Islam. Sebenarnya telah kita bahas dalam tulisan berjudul “Yang ‘Sunnah’ Ditinggalkan ?”

makna kata sunnah dalam istilah syari’at.

Telah kita sampaikan pula akibat dari salah memahami atau kurang memahami dengan baik suatu istilah akan menimbulkan kerancuan, salah kaprah, bahkan perselisihan dan perpecahan. Di antara kerancuan dan salah kaprah yang terjadi adalah sebagian besar dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan dan diasingkan karena hanya ‘sunnah’ saja, bukan wajib. Padahal kata ‘sunnah’ dalam istilah syari’at memiliki beberapa definisi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Tidak mengapa untuk kita ulang sebagiannya karena sangat penting agar menjadi pengingat dan peringatan bagi kita semua, kaum muslimin dimana saja berada.

فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين

Maka ingatkanlah, karena sesungguhnya peringatan itu akan memberikan manfaat bagi kaum mukminin.

Berikut adalah pernyataan yang kami kopikan dari tulisan kami berjudul “Yang ‘Sunnah’ Ditinggalkan ?”

Lagi

Apa dan Siapa Sunni Itu? … (1)

2 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini kita akan mengenali siapakah atau apa sebenarnya istilah ‘sunni’ dalam Islam. Karena hampir mayoritas kalangan mengaku sebagai kaum ‘sunni’, namun sudahkah pengakuannya itu benar dan jujur? Atau hanya sekadar pengakuan namun jauh menyimpang dari makna ‘sunni’ yang sebenarnya. Pembahasan ini akan dibagi ke dalam beberapa poin penting sebagai berikut:

  1. Asal kata sunni
  2. Arti kata sunnah secara bahasa
  3. Arti sunnah dalam syari’at
  4. Siapakah ‘sunni’ yang sebenarnya?
  5. Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?

Pembahasan Pertama:

Kata ‘sunni’ berasal dari kata sunnah. Mengapa bisa berubah menjadi ‘sunni’?

Lagi

Minoritas Selalu Dilindungi… ??

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Di antara syubhat yang pernah disinggung pada pembahasan tentang ‘bimbingan menyikapi sunnah’ adalah keberadaan minoritas yang harus dilindungi. Banyak didengungkan dan disuarakan jargon ‘membela dan melindungi kaum minoritas’ demi keadilan dan kebebasan berpendapat dan berkeyakinan. Atau demi demokrasi dan kebangsaan.

                Namun apakah sesimpel ini dalam memberikan perlindungan dan kebebasan kepada ‘kaum minoritas’? Apakah tidak perlu memerhatikan hakikat dan inti ajaran atau pemikiran mereka? atau ambisi apakah yang disembunyikan di balik seruan-seruan membela kaum ‘minoritas’ (baca : Ahmadiyah dan Syiah serta sekte-sekte sesat lainnya)?

                Kalau yang dimaukan dengan melindungi dan memberikan kebebasan kepada ‘kaum minoritas’ adalah membiarkan kesesatan dan kejahatan mereka serta penistaan terhadap agama Islam yang mereka lakukan, maka yang demikian ini tentu harus diluruskan. Karena secara hukum bernegara pun semua sepakat untuk membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan atau kezaliman. Tindakan penistaan terhadap agamapun juga tidak dibenarkan.

Terlebih dalam hukum agama, maka akan didapati di sana hukum tentang penjagaan akal sehingga diharamkanlah khamer, penjagaan harta sehingga ditetapkan hukum potong tangan bagi pencuri, hukum penjagaan jiwa sehingga ada di dalamnya hukum balas bunuh atau qishash, hukum penjagaan keturunan sehingga diadakan hukum rajam atau hukum cambuk bagi pezina, dan hukum bunuh bagi yang keluar dari agama Islam atau bagi yang melakukan perbuatan tertentu yang mengharuskannya dibunuh atau diperangi.

Pada kesempatan kali ini akan kita simak sebagian sikap dari para Salaf dan sikap al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam menyikapi kelompok ‘minoritas’ (baca: sekte sesat dan menyimpang, bahkan sekte yang telah dikafirkan oleh para ulama seperti Syiah).

Lagi

Older Entries