Memang benar Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Islam bersemangat menyebarkan rahmat kepada seluruh kalangan, karena ia adalah agama yang diperuntukkan bagi seluruh kalangan manusia, tidak mengenal suku bangsa, negara, atau status sosial. Selama mereka adalah manusia tetap mendapatkan kewajiban untuk memeluk agama Islam. Bahkan kalangan jin juga mendapatkan kewajiban ini.

Tidak hanya bagi manusia dan jin, rahmat Islam juga ikut dirasakan oleh bangsa binatang. Inilah keistemawaan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Keistimewaan agama Islam yang disampaikan dan diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi pemahaman tentang rahmat ini telah dipelintir sedemikian rupa untuk melindungi dan membenarkan kelompok yang sesat bahkan telah dihukumi keluar dari lingkup Islam, yaitu Syiah.

Bukti untuk penyelewengan makna rahmat di atas adalah pernyataan seseorang dalam komentar twitter. Ia mengatakan, “Ciri Islam rahmatan lil ‘alamin tidak saling memusuhi. Berbeda faham tidak harus saling benci.”1

Pada komennya yang lain ia mengatakan, “Ciri Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Karena itu jika ada yang mengajarkan kebencian harus dikritik.”

Komen di atas dan komen-komen senada yang ia tuliskan untuk mendukung dan menguatkan topik utama yang ditulis oleh pengusung JIL dan ‘makhluk baru’ bernama JIN, yaitu Ulil Abshar. Ulil mengatakan, “Ciri Islam Nusantara: Tidak memusuhi Syiah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

Semoga Allah subhanahu wa Ta’ala tidak memperbanyak jenis manusia seperti di atas. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kaum muslimin dari kejahatan dan keburukan golongan seperti ini. Golongan yang sesat dan menyesatkan umat manusia dari jalan Allah Ta’ala.

Dari beberapa topik dan komentar di atas ada sejumlah pembahasan yang harus segera diluruskan. Setidaknya ada tiga atau empat permasalahan yang harus difahamkan segera:

  1. Pemahaman tentang makna rahmatan lil ‘alamin.

  2. Islam mengajarkan cinta dan benci sekaligus. Tidak mengesampingkan yang satu dan mengajarkan yang lain. Benci akan menjadi salah satu ibadah ketika didasarkan pada ilmu yang benar dan dipraktikan dengan benar pula, yaitu dengan wala’ (loyal) dan bara’ (berlepas diri/membenci). Ini pula sifat millah Ibrahim dan sifat agama samawi (Islam). Berbeda dengan agama yang mengajarkan kasih saja dan dikatakan sebagai salah satu agama samawi atau salah satu millah Ibrahim.

  3. Memahami perbedaan (ikhtilaf) secara proporsional.

  4. Berbicara tanpa ilmu termasuk dosa besar.

Pada kesempatan kali ini akan kita bahas satu atau dua poin pembahasan dari empat poin di atas jika memungkinkan.

  1. Tafsir ayat 107 surat al-Anbiya’

Untuk meluruskan dan memberikan pemahaman yang benar tentang sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, kami bawakan di sini penafsiran al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya,

Allah Ta’ala memberitahukan bahwasanya Ia menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Yaitu Allah mengutus beliau sebagai rahmat bagi mereka semua. Barang siapa yang menyambut rahmat ini dan mensyukurinya, ia akan berbahagia di dunia dan akhirat. Dan barang siapa yang menolak dan menentangnya, ia akan merugi di dunia dan akhirat sebagaimana yang Allah firmankan,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الّذِيْنَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَالْبَوَارِ. جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. Yaitu neraka Jahannam. Mereka masuk kedalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. (QS. Ibrahim: 28-29)

Dari penjelasan di atas kita bisa menyimpulkan beberapa poin berikut:

  1. Allah Ta’ala menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tentunya termasuk apa yang beliau bawa dan beliau ajarkan, karena misi beliau adalah menyampaikan risalah berupa wahyu yang Allah Ta’ala bebankan kepada beliau untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia.

  2. Rahmat ini (pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi dan wahyu yang beliau sampaikan) akan menjadi kebaikan dan kebahagiaan bagi orang yang mau mensyukuri dan menyambutnya, baik di dunia maupun di akhirat.

  3. Rahmat ini akan berbalik menjadi kerugian dan kesengsaraan bagi orang yang menolak dan menentangnya. Kerugian dan kesengsaraan ini akan dirasakan ketika masih di dunia, sedangkan di akhirat akan menjumpai kerugian dan kesengsaraan yang sangat dahsyat.

  4. Nikmat berupa Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah nikmat yang hakiki dan sesungguhnya. Karena nikmat selainnya yang berupa nikmat keduniaan akan menjadi bencana bagi orang yang mendapatkannya ketika tidak memiliki nikmat Islam dan iman, sebagaimana telah banyak disaksikan dalam kehidupan sehari-hari bagi yang mau menjadikannya sebagai pelajaran.

Dengan demikian tidak ada jalan lain bagi yang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, kecuali dengan mensyukuri dan menerima keberadaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta semua yang beliau bawa dan ajarkan. Tidak menerima yang satu dan menolak ajaran beliau yang lain. Akan tetapi menerimanya secara utuh dan total.

Islam yang beliau bawa adalah ajaran yang sempurna dari segala sisinya. Allah Ta’ala telah menjadikannya sempurna , tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.

اليَوْمَ أكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأتْمَمْتُ عَلَيكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلاَمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

Lalu apakah kita akan mengikuti sifat orang-orang ahli kitab, yaitu menerima sebagian al-Kitab dan meninggalkan sebagian yang lain?

أفَتُؤمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذلِكَ مَنْكُمْ إلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَومَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إلى أشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا الله بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85)

Poin berikut adalah sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk memiliki kebencian kepada orang yang pantas dan bahkan harus dibenci.

  1. Sebagian arti ayat2 al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk memusuhi musuh-musuh Allah Ta’ala

Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 168, 208, dan al-An’am: 142)

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (QS. Al-An’am: 112)

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah Karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (QS. At-Taubah: 114)

Inilah seorang yang lembut lagi penyantun, sekaligus seorang yang menjadi teladan bagi manusia, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berlepas diri dari ayahnya sendiri dan menjadikannya musuh karena ia adalah musuh Allah Ta’ala.

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. At-Taubah: 120)

Dan seperti itulah, telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (QS. Al-Furqan: 31)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. (QS. Al-Mumtahanah: 1)

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Sebenarnya masih sangat banyak ayat yang memerintahkan kita untuk menjadikan kalangan tertentu sebagai musuh, yaitu Iblis dan pengikutnya dari kalangan orang-orang kafir, musyrik, munafik, dan orang-orang zhalim. Kiranya sebagian ayat di atas bisa mewakili. Jika diperlukan mungkin akan kita bawakan dalam kesempatan tersendiri.

Inilah ajaran kebencian yang harus ada dalam dada setiap manusia. Karena mereka memiliki musuh yang nyata, yaitu Iblis dan para setan dari kalangan jin dan manusia.

Kalau memang mau dikritik, silakan untuk kamu – wahai Musi’ (orang yang berbuat buruk) dan labil – untuk mengkritiknya ….!!!

Berkumpullah kamu dan teman-teman setanmu untuk mengkritiknya…!!!

Penutup

Sebenarnya pembahasan cinta dan benci membutuhkan pembahasan yang khusus agar menjadi ibadah. Namun karena keterbatasan yang ada sehingga ayat-ayat yang dibawakan di sini kiranya bisa mewakili maksud tulisan ini.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan tulisan ini sebagai salah satu amalan saleh di sisi-Nya. Amiin.

Mereka itulah (orang-orang munafik) musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

(QS. Al-Munafiqun: 4)3

1 Komentar yang kami tuliskan telah melalui editan agar mendekati kaidah EYD. Adapun komentar aslinya adalah “Ciri Islam rahmatan lil alamin tdk saling memusuhi.berbeda faham tdk hrs saling benci.”

2Untuk teks ayatnya para pembaca bisa merujuk sendiri ke dalam mushhaf al-Qur’an. Kami mohon maaf atas kekurangan ini, karena untuk menyingkat waktu.

3Teks arabnya silakan pembaca yang budiman merujuk kepada mushhaf al-Qur’an