APA DAN SIAPA SUNNI ITU …? (3)

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pembahasan Keempat

                Segala puji bagi Allah yang hanya dengan izin dan taufik-Nya pembahasan demi pembahasan yang telah direncanakan pada tulisan ‘Apa dan Siapa Sunni … (1)’ telah kita simak hingga pembahasan ketiga. Sekarang kita akan membahas pembahasan keempat, yaitu bertema “Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?”

Lagi

Iklan

Islam Mengatur Manusia Demi Kebaikan dan Maslahat Manusia Sendiri

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Mungkin terbersit pada sebagian benak bahwa aturan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia, yaitu aturan syari’at Islam, adalah untuk memberikan keuntungan dan menambah kekayaan Allah Ta’ala. Padahal tidak demikian halnya. Allah Ta’ala tidak butuh kepada amalan kita, tidak butuh kepada shalat, puasa, dan bahkan syahadat kita. Allah Ta’ala tidak butuh kepada alam ini, akan tetapi alam ini – termasuk manusia – yang sangat butuh kepada penjagaan dan perhatian dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)

Lagi

An-Nawawi: Hati-hati dari Kemaksiatan dan Akibatnya

Tinggalkan komentar

Seringkali seseorang menganggap remeh kemaksiatan yang dia lakukan, dia menganggap gampang untuk meminta ampun kepada Allah. Dia tidak tahu atau lalai bahwa hal itu sangatlah berbahaya. Ada suatu titik hitam yang jika dibiarkan akan membuat seseorang terjatuh kepada yang lebih besar daripada itu.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Kitab Al-Arbain dibawah hadits keenam beliau berkata:
“Kemaksiatan-kemaksiatan mengantarkan kepada kekufuran,’karena satu jiwa jika terjatuh pada sikap menyelisihi syariat, akan berjenjang dari sebuah mafsadah (kerusakan agama) kepada yang lebih besar darinya. Ini diisyaratkan oleh firman Allah:

Lagi

Perkataan Para Ulama ahlussunnah tentang Sufiyah

Tinggalkan komentar

Setelah kita menyebutkan perkataan Imam Asy-Syafii dan Imam Waki’ (salah seorang guru Imam Asy-Syafii), kita akan menyebutkan beberapa perkataan ulama yang lain tentang Sufiyah [Shufiyyah] atau tasawuf [tashawwuf, tashowwuf].

1. Imam Malik (guru Imam Asy-Syafii) –rohimahumalloh

Al-Qodhi ‘Iyadh rohimahulloh berkata dalam kitabnya Tartib Al-Madarik Wa Taqrib Al-Masalik 2/54: At-Tinisi berkata: Kami dulu berada di sisi Malik, dan para muridnya berada di sekelilingnya. Kemudian seorang dari penduduk Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kaum yang disebut dengan sufiyah, dimana mereka makan banyak, kemudian mereka mulai membaca qasidah-qasidah [qashidah, qoshidah], kemudian bangkit dan menari.” Maka Imam Malik berkata: “Apakah mereka anak-anak?” Dia menjawab: “Tidak.” Imam Malik bertanya: “Apakah mereka orang-orang gila?” Dia menjawab: “Bahkan mereka adalah para tokoh agama yang berakal!” Maka Imam Malik berkata: “Aku tidak mendengar bahwa seorang muslim akan melakukan demikian.”
Lagi

Imam Asy-Syafii tentang Sufiyah (Tasawwuf)

Tinggalkan komentar

Imam Syafii telah mencela sufiyah (shufiyyah) karena kesesatan mereka. Beliau telah menyebutkan ciri-ciri mereka untuk memperingatkan agar tidak tertipu dengan mereka dan masuk ke dalam bid’ah sufiyah.
Hal ini nampak sangat jelas dalam teks-teks ucapan beliau tentang firqoh (golongan, sekte) ini.
Di antara ucapan beliau:

1. Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Yunus bin Abdil A’la, dia berkata: Aku mendengar Imam Asy-Syafii berkata: “Kalau seorang menganut ajaran tasawuf (tashawwuf) pada awal siang hari, tidak datang waktu zhuhur kepadanya melainkan engkau mendapatkan dia menjadi dungu.” (Manaqib Imam As-Syafii 2/207, karya Imam Al-Baihaqi)