Minoritas Selalu Dilindungi… ??

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Di antara syubhat yang pernah disinggung pada pembahasan tentang ‘bimbingan menyikapi sunnah’ adalah keberadaan minoritas yang harus dilindungi. Banyak didengungkan dan disuarakan jargon ‘membela dan melindungi kaum minoritas’ demi keadilan dan kebebasan berpendapat dan berkeyakinan. Atau demi demokrasi dan kebangsaan.

                Namun apakah sesimpel ini dalam memberikan perlindungan dan kebebasan kepada ‘kaum minoritas’? Apakah tidak perlu memerhatikan hakikat dan inti ajaran atau pemikiran mereka? atau ambisi apakah yang disembunyikan di balik seruan-seruan membela kaum ‘minoritas’ (baca : Ahmadiyah dan Syiah serta sekte-sekte sesat lainnya)?

                Kalau yang dimaukan dengan melindungi dan memberikan kebebasan kepada ‘kaum minoritas’ adalah membiarkan kesesatan dan kejahatan mereka serta penistaan terhadap agama Islam yang mereka lakukan, maka yang demikian ini tentu harus diluruskan. Karena secara hukum bernegara pun semua sepakat untuk membela kebenaran dan menghancurkan kebatilan atau kezaliman. Tindakan penistaan terhadap agamapun juga tidak dibenarkan.

Terlebih dalam hukum agama, maka akan didapati di sana hukum tentang penjagaan akal sehingga diharamkanlah khamer, penjagaan harta sehingga ditetapkan hukum potong tangan bagi pencuri, hukum penjagaan jiwa sehingga ada di dalamnya hukum balas bunuh atau qishash, hukum penjagaan keturunan sehingga diadakan hukum rajam atau hukum cambuk bagi pezina, dan hukum bunuh bagi yang keluar dari agama Islam atau bagi yang melakukan perbuatan tertentu yang mengharuskannya dibunuh atau diperangi.

Pada kesempatan kali ini akan kita simak sebagian sikap dari para Salaf dan sikap al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam menyikapi kelompok ‘minoritas’ (baca: sekte sesat dan menyimpang, bahkan sekte yang telah dikafirkan oleh para ulama seperti Syiah).

Lagi

Bimbingan dalam Menyikapi as-Sunnah (al-Hafizh Ibnu Hajar)

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan tentang kedudukan as-sunnah dan pengertian atau definisi sunnah menurut bidang pembahasan masing-masing, baik dalam bidang fikih, ushul fikih, dan ilmu hadits.

Telah kita ketahui pula sikap al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika di hadapan as-sunnah, lihat di http://fatwasyafii.wordpress.com/2013/10/31/as-sunnah-dalam-pandangan-al-imam-asy-syafii-rahimahullah/. Beliau sangat mengagungkan as-sunnah dan tidak berani lancang untuk mendahului qaulillah (al-Qur’an) dan qaulirasulillah (as-sunnah atau hadits). Sikap seperti ini adalah sikap yang seharusnya ditempuh oleh setiap muslim yang mengaku dirinya sebagai kaum sunni. Karena seorang sunni adalah seorang yang benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukannya mengikuti metode atau aliran atau pandangan atau organisasi tertentu. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

(QS. al-Hujurat:1-3)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, perhatikanlah ayat di atas karena di dalamnya terdapat seruan bagi orang-orang yang beriman yang sekaligus menjadi ciri-ciri orang yang beriman. Sifat dan ciri orang beriman yang terdapat dalam ayat di atas adalah tidak mendahului firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan pula ancaman bagi orang-orang yang berani bersuara keras di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu amalannya akan terhapus, na’udzubillah min dzalik. Semoga ayat di atas menjadi motivator bagi kita semua untuk benar-benar mengagungkan as-sunnah dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada pembahasan kali ini akan kita bawakan sebagian bimbingan adab di hadapan as-sunnah. Mengingat masih banyak dari kaum muslimin yang lebih mendahulukan pendapat atau pandangannya sendiri atau kelompoknya dalam menghadapi permasalahan yang mereka hadapi. Terlebih ketika menghadapi permasalahan yang menyangkut kenegaraan atau permasalahan yang sensiti lainnya, seperti ancaman yang muncul dari sekte Ahmadiyyah dan Syi’ah. Mereka akan menggunakan standar ganda, di satu saat mereka akan beralasan dengan alasan minoritas sehingga perlu atau bahkan wajib dilindungi dan dihormati, di saat yang lain menggunakan alasan stabilitas dan keamanan negara, di saat yang lain lagi beralasan dengan HAM, dst. Sekian banyak alasan untuk melindungi dan melegalkan kekafiran dan kesesatan. Sementara hak-hak kaum muslimin mereka adalah warga negara Indonesia hanya dipandang sebelah mata.
Mungkin saja dalam pandangan sebagian elit kaum muslimin hanyalah sebagai kaum yang tidak perlu mendapatkan tempat dan hati. Atau bahkan bila perlu dibumihanguskan agar tidak ada lagi yang namanya Islam dan kaum muslimin di negeri ini. Negeri yang diperjuangkan oleh para pejuang yang mayoritasnya adalah kaum muslimin, kalau bukan seluruhnya. Karena yang menjajah adalah bangsa kafir sedangkan yang dijajah adalah kaum muslimin sebagai tagert misi penginjilan.

Semoga pembahasan tentang bimbingan adab di hadapan as-sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadi salah satu kebangkitan Islam dan kaum muslimin. Karena hanyalah dengan kembali kepada bimbingan wahyu yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits kaum muslimin akan bisa meraih kembali kejayaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor sapi, dan bersenang-senang dengan pertanian, dan kalian meninggal jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan. Allah tidak akan mencabut kehinaan ini dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian. HR. Abu Daud dan Ahmad.

1. Tidak mempertahankan pendapat seseorang atau kelompok ketika telah ada sunnah yang menyelisihi pendapat tersebut. walaupun pendapat itu adalah pendapat yang kuat.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

وَفِي الْقِصَّة دَلِيل عَلَى أَنَّ السُّنَّة قَدْ تَخْفَى عَلَى بَعْض أَكَابِر الصَّحَابَة وَيَطَّلِع عَلَيْهَا آحَادهمْ ، وَلِهَذَا لَا يُلْتَفَت إِلَى الْآرَاء وَلَوْ قَوِيَتْ مَعَ وُجُود سُنَّة تُخَالِفهَا ، وَلَا يُقَال كَيْفَ خَفِيَ ذَا عَلَى فُلَان ؟ وَاَللَّه الْمُوَفِّق (فتح الباري 1/41)

Dalam kisah di atas terdapat dalil bahwa sunnah/hadits terkadang tersembunyikan bagi sebagian pembesar sahabat dan diketahui oleh sebagian kecil dari mereka. oleh karena itu tidak boleh menoleh kepada pendapat manusia walaupun kuat pendapatnya ketika telah ada as-sunnah yang menyelisihinya. Dan tidak boleh pula dikatakan mengapa hadits ini tidak diketahui oleh si fulan. Wallahul muwaffiq. Fathul Bari 1/41

Adapun kisah yang dimaksud oleh Ibnu Hajar adalah kisah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang meriwayatkan hadits di bawah ini:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian mereka menegakkan shalat dan membayar zakat. Apabila mereka melakukannya maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak-hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka ada pada Allah.

Hadits ini tidak diketahui oleh pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sehingga Abu Bakar memutuskan hukum memerangi kaum yang menolak membayar zakat berdasar kiyas dan penggal hadits

إِلَّا بحقه

kecuali dengan hak-haknya

yaitu dari penggal hadits

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا : لا إله إلا الله ، فمن قال : لا إله إلا الله ، فقد عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله عز وجل

Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan Laa ilaaha illallah. Lalu barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah maka ia telah menjaga harta dan jiwanya dariku kecuali dengan haknya. Sementara perhitungannya ada pada Allah.

sementara Umar radhiyallahu ‘anhu semula menolak keputusan Abu Bakar.

Kisah dialog antara Abu Bakar dan  Umar tentang masalah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Dari penjelasan Ibnu Hajar di atas bisa disimpulkan bahwa terkadang ilmu tentang agama ini tidak diketahui oleh orang-orang yang memiliki keutamaan dan kedudukan tinggi dalam agama Islam. Karena memang sifat manusia kadang tahu dan kadang tidak tahu. Sehingga tidak boleh menolak as-sunnah/hadits dengan alasan tidak diketahui oleh orang-orang besar atau para ustadz besar atau para kiyai.

2. Berpegang dengan as-sunnah ketika benar-benar shahih dan tidak perlu memperdulikan pihak yang menyelisihinya siapapun dia.

وَلَكِنَّ السُّنَّةَ إِذَا ثَبَتَتْ لَا يُبَالِي مَنْ تَمَسَّكَ بِهَا بِمُخَالَفَةِ مَنْ خَالَفَهَا ، وَاَللَّه الْمُسْتَعَان

Akan tetapi as-sunnah ketika benar-benar telah tsabit (sah), maka orang yang telah berpegang dengannya tidak perlu memperdulikan perselisihan orang yang menyelisihinya. Wallahul musta’an. Fathul Bari 3/217

3. Menyelisihi as-sunnah hukumnya haram

وَيَحْرُمُ عَلَى اَلْعَالِمِ أَنْ يُخَالِفَ اَلسُّنَّةَ بَعْدَ عِلْمِهِ بِهَا

Dan haram bagi seorang alim (baik itu seorang syaikh, kiayi, habib, ustadz, atau dai, atau selainnya-pen) untuk menyelisihi as-sunnah setelah ia mengetahuinya. Fathul Bari 4/242

Demikian sebagian adab dan hukum terkait dengan keberadaan as-sunnah di tengah-tengah kaum muslimin. Sebenarnya pada judul as-sunnah di hadapan al-Imam asy-Syafi’i (http://fatwasyafii.wordpress.com/2013/10/31/as-sunnah-dalam-pandangan-al-imam-asy-syafii-rahimahullah/) telah ada kecukupan bagi mereka yang benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bangga dengan Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akan tetapi seringnya hawa nafsu dan sekian banyak syubhat yang lebih dikedepankan sehingga sekian banyak sunnah/ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditinggalkan, bahkan ditentang dan dijauhi dengan berbagai isu alasan, seperti tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat, tidak sesuai dengan ajaran kiyai,  ‘ajaran baru’, dst. Pihak yang lain menolaknya dengan alasan berpegang dengan al-Qur’an, dst.
Wallahul musta’an.

Islam Mengatur Manusia Demi Kebaikan dan Maslahat Manusia Sendiri

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Mungkin terbersit pada sebagian benak bahwa aturan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia, yaitu aturan syari’at Islam, adalah untuk memberikan keuntungan dan menambah kekayaan Allah Ta’ala. Padahal tidak demikian halnya. Allah Ta’ala tidak butuh kepada amalan kita, tidak butuh kepada shalat, puasa, dan bahkan syahadat kita. Allah Ta’ala tidak butuh kepada alam ini, akan tetapi alam ini – termasuk manusia – yang sangat butuh kepada penjagaan dan perhatian dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)

Lagi

BIMBINGAN PUASA RAMADHAN 2

Tinggalkan komentar

Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui sebagian bimbingan terpenting dalam menjalankan ibadah puasa, bahkan menjadi bimbingan yang paling penting dan harus dilakukan oleh setiap muslim yang hendak melakukan ibadah puasa Ramadhan. Sebagai kesimpulan dari bimbingan terdahulu adalah

Bimbingan pertama: menjalankan ibadah shiyam Ramadhan ikhlas karena Allah ta’ala

Bimbingan kedua: mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi dalam beribadah

Bimbingan ketiga: berpuasa karena melihat hilal, bukan karena perhitungan ilmu hisab

Bahkan pada bimbingan ketiga ini telah kita ketahui adanya larangan untuk memulai dan mengakhiri puasa kecuali apabila melihat hilal, bukan berdasar perhitungan ilmu hisab atau ilmu perbintangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Jika terhalangi atas kalian maka kira-kirakanlah. Muttafaq ‘alaih.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan judul dalam Shahih Muslim

بَاب وُجُوبِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَالْفِطْرِ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَأَنَّهُ إِذَا غُمَّ فِي أَوَّلِهِ أَوْ آخِرِهِ أُكْمِلَتْ عِدَّةُ الشَّهْرِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Bab wajibnya puasa Ramadhan karena melihat hilal dan berhari raya juga karena melihat hilal, dan apabila terhalangi pada permulaan atau akhir bulan maka dilengkapi jumlah bilangan bulan menjadi 30 hari.

Lagi

BIMBINGAN BERPUASA RAMADHAN 1

Tinggalkan komentar

Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa ibadah puasa adalah salah satu ibadah besar dalam Islam. Bahkan puasa Ramadhan menjadi salah satu rukun Islam, yaitu rukun Islam yang keempat sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ

Islam dibangun di atas lima rukun, yaitu mentauhidkan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji. HR. Muslim

Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari didahulukan haji sebelum puasa Ramadhan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup bagus tentang perbedaan riwayat yang mendahulukan haji sebelum puasa Ramadhan. Namun pada kesempatan kali ini tidak kita sampaikan karena yang lebih kita fokuskan adalah mengenali bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah, dalam hal ini adalah shiyam Ramadhan.

Lagi

Peringatan dan Ancaman bagi Penyebar Kebatilan dan Kekejian

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَالله يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersebar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui.(QS. an-Nuur: 19)

Pada kesempatan ini kita akan menyimak bersama kandungan ayat ini agar menjadi pelajaran bagi kita sendiri dan peringatan bagi semua pihak yang getol dalam melancarkan kejahatan, kemaksiatan, kekejian, dan penyimpangan serta kerusakan dalam pola pikir, akhlak, dan karakter. Terlebih pada masa-masa sekarang yang kejahatan dan kekejian semakin marak dan menjadi. Bahkan anak-anak balita pun turut menjadi korbannya, baik sebagai korban pembunuhan, mutilasi, bahkan kejahatan seksual sebagaimana yang kita sering mendengar berita tentang mereka melalui media masa yang ada. Hingga salah seorang pemerhati anak-anak pun mengumumkan darurat anak.

                Apabila kita mau mengoreksi diri sendiri maka kejahatan yang sedemikian ngerinya adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Sebagai orang tua kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mendidik, dan menafkahi anak-anak, baik nafkah lahir maupun nafkah batin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang yang ia pimpin (rakyatnya). Seorang pemimpin negara akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang laki-laki (suami) pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan ditanya tentang keluarganya. Seorang wanita (istri) pemimpin di rumah suaminya dan ia akan ditanya tentang yang ia pimpin. HR. al-Bukhari dan Muslim.

Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:

“Para ulama mengatakan: Kata ra’i (الراعي) maknanya adalah penjaga/pengawas yang diamanati dan dituntut untuk menjaga maslahat (stabilitas) apa yang ia lakukan/tanggung. Juga maslahat semua yang di bawahnya. Sehingga dari makna ini semua pihak yang memiliki sesuatu yang harus ia awasi maka ia dituntut untuk berbuat adil di dalamnya. Ia juga dituntut untuk menjaga maslahat pihak yang menjadi tanggungannya baik yang berkaitan dengan urusan agama maupun keduniaan serta semua yang bertautan dengannya.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan peringatan kepada para orang tua dalam sabdanya:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه

Tidak ada bayi yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan di atas fithrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau beragama majusi. HR. al-Bukhari dan Muslim.

Yaitu bayi dilahirkan di atas fithrah Islam sebagaimana dijelaskan oleh para ulama (bisa dilihat di Fathul Baari karya Ibnu Hajar atau Syarah an-Nawawi terhadap Shahih Muslim. Kemudian orang tuanya yang menjadikannya berubah menjadi beragama Yahudi, Nasrani, Majusi (agama bangsa Persia, yaitu menyembah api), Budha, Hindu, atau berubah menjadi pecinta kemesuman dan kejahatan dan geng-geng jalanan dengan dandanan yang acak-acakan dan buka-bukaan aurat. Dengan demikian sebagai orang tua memiliki tanggung jawab untuk menjaga fithrah anak-anaknya.

Maka perhatikanlah wahai para ayah dan para ibu ….. !!

Tanggung jawab berat ada pundak kita, kelak kita akan ditanya tentang anak-anak kita.

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dan anak-anak kita dari berbagai kerusakan yang telah merebak dan menghanyutkan banyak orang. Amiin.

 

Kejahatan dan keburukan yang sudah menembus rumah-rumah

Dari hadits di atas beserta penjabaran dari al-Imam an-Nawawi kita bisa memahami bahwa masing-masing pihak, baik ia kepala negara, kepala rumah tangga (suami), atau pemimpin dalam rumah (isteri) memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus mereka tunaikan. Kepala negara memiliki tanggung jawab untuk mengatur dan menjaga maslahat rakyatnya sehingga ia dituntut untuk berbuat adil dalam mengurusi mereka baik yang berkaitan dengan urusan agama maupun dunia.

                Sedangkan seorang suami ia dituntut untuk menjaga maslahat dan kebaikan keluarganya. Ia bertugas menafkahi isteri dan anak-anaknya, baik nafkah lahir maupun nafkah batin. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk menjauhkan keluarganya dari berbagai keburukan dan kerusakan, baik kerusakan itu berhubungan dengan permasalahan agama maupun dunia. Terlebih pada masa kini yang kejahatan semakin merajalela hingga balita pun turut menjadi korbannya.

                Sedangkan seorang isteri di rumah ia memiliki tanggung jawab besar dalam mengasuh, mendidik, dan mengajari anak-anaknya. Ia bertanggung jawab untuk mengawasi perkembangan putra putrinya selain juga menjaga harta suaminya. Ia memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan perkembangan fisik, mental, dan spritual putra-putrinya.

                Demikianlah Islam mengatur dan memberikan tanggung jawab kepada masing-masing sesuai dengan tabiat dan kekuatan jasmani masing-masing. Seorang wanita ia lebih memiliki sifat kelembutan dan keibuan dibanding laki-laki. Ia telah diciptakan sedemikian rupa untuk mengemban tugas dan amanah besar. Sehingga tidak patut dan tidak pantas apabila ia ingin menyerupai laki-laki yang berotot besar lalu berebut dengan kaum laki-laki dalam mencari nafkah di berbagai bidang.

                Akan tetapi karena tuntunan agama sudah semakin dijauhi dan disimpangkan oleh berbagai pihak maka tugas mulia wanita itu dikatakan sebagai tugas pengangguran dan terbelakang. Atau hanya tugas wanita kelas rendahan dan tidak berpendidikan tinggi, bukan wanita sukses dan wanita karir. Dalam istilah lain dikatakan kanca wingking (urusan dapur, kasur, dan berhias). Sehingga kita saksikan hampir di seluruh bidang, bahkan di semua bidang, telah dimasuki oleh wanita dengan alasan pemberdayaan wanita, emansipasi wanita, memajukan wanita, dan seterusnya.

                Ketika para wanita itu keluar untuk berebut tempat dan kedudukan di luar rumah, maka apa yang terjadi? Tugas utamanya yaitu mendidik dan mengasuh anak serta memperhatikan perkembangan mental dan spiritual ia tinggalkan demi karir dan pekerjaan serta ambisi dunia lainnya. Sehingga anak-anak yang masih kecil dan belum memahami kebaikan dan keburukan, atau belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dibiarkan sendirian mencari kesibukan dan kesenangan melalui berbagai media, baik televisi, teman bermain, atau bahkan game online.

                Bahkan ada pula yang tega meninggalkan anaknya sendirian di kamar dalam keadaan sakit, meminta kepada sang ibu untuk memperhatikan dirinya yang masih lemah ditambah sakitnya yang membuatnya hanya bisa terbaring. Namun demi karir dan tugas kantor atau pabrik si ibu tetap berangkat meninggalkan anaknya yang memanggil-manggil “Bunda …, bunda …,” atau “Ibu …, ibu …,”. Ia memanggil dengan suara lirih dan lemah, memelas, serta mengharapkan belaian dan curahan perhatian dari sang ibu.

Meskipun demikian sakit yang diderita si anak, demi mengejar dunia dan tambahan kekayaan si ibu yang rakus harta, jabatan, dan karir, tetap pergi juga. Ia lebih takut kepada atasan dan bosnya daripada kepada takut kepada Allah Ta’ala yang telah menciptakan dirinya, yang telah menciptakan atas dan bosnya. Lalu ketika pulang ia mendapati anaknya telah meninggal karena sakit yang dideritanya. Setelah itu si ibu hanya bisa menyesal.

Demikianlah sebagian kenyataan yang terjadi …

Kasus yang lain; anak-anak yang meninggal karena meniru adegan para tokoh yang diidolakan dalam film-film, baik film kartun atau selainnya. Sebagaimana peristiwa sudah sering terjadi di negeri ini.

Ketika anak-anak tidak lagi mendapatkan perhatian serius dari para orang tua, maka kerusakan jasmani dan rohani akan menimpanya. Bahkan akan membuatnya mati, entah jasadnya yang mati atau hatinya yang mati.

Ketika anak-anak telah terbiasa melihat kejahatan, kerusakan, dan keburukan akan sangat mudah untuk terbentuk pola pikir dan pemahamannya bahwa bahwa perbuatan jahat sebagai dasar pola pikirnya. Sehingga sangat mudah untuk kita tebak, bahkan telah kita saksikan, anak-anak kecil di bawah usia belasan telah melakukan kejahatan seksual dan berbuat mesum dengan teman sebaya, atau bahkan menjadikan balita sebagai korbannya.

Siapakah yang salah ketika sudah terjadi yang seperti ini ?!!

Siapakah yang pertama kali harus disalahkan?!!

Banyak pihak yang menjawab orang tua yang salah, orang yang harus bertanggung jawab, orang yang telah lalai … !!

Lalu akankah kelalaian dan ketelodaran ini akan disadari?!!

Wahai para ayah ……..

Wahai para ibu ………

Kalian kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang putra putri kalian. Apakah yang kalian ajarkan kepada mereka? Apakah yang kalian sampaikan kepada mereka? Apakah sudah kalian ajarkan kepada mereka akhlak yang mulia kepada mereka? Sudahkah kalian ajari mereka untuk mengenal Sang Pencipta? Sudahkah kalian ajarkan kepada kewajiban-kewajiban agama? Sudahkan kalian mengenalkan kepada mereka utusan Allah Ta’ala yang bertugas mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya Allah?

Atau malah kalian biarkan mereka menonton kemesuman dan pandangan materialis yang ditanamkan melalui film spongebob? Atau kesyirikan syirik besar yang ditanamkan melalui film The Legend of Aang? Atau kemesuman plus perdukunan dan kesyirikan serta keburukan akhlak yang ditanamkan melalui berbagai sinetron? Belum lagi kerusakan akhlak dan gaya hidup yang ditampilkan oleh para pecandu alkohol dan narkoba dari kalangan selebritis dan penyanyi.

Atau malah kalian tidak tahu sama sekali dan tidak faham bahwa film-film itu sarat dengan kerusakan dan kehancuran dalam permasalahan tauhid, iman, akhlak, dan sebagainya?

Kalau demikian ini keadaannya maka anda memiliki kewajiban untuk mendalami agama ini dengan baik. Anda memiliki kewajiban untuk mendalami apa itu tauhid, apa itu iman, apa itu akhlak yang mulia, dst.

Perhatikanlah … ternyata kerusakan itu telah masuk di dalam rumah-rumah kaum muslimin.

Sehingga tidak heran jika terdengar berita anak kecil mati sia-sia karena dibanting oleh temannya atau dicekik dan diperkosa oleh temannya. Tidak heran ketika terdengar berita seorang anak membunuh ibu atau ayahnya. Tidak heran apabila terdengar berita ini dan itu.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan taufik kepada kaum muslimin di negeri ini secara khusus. Juga kepada seluruh pihak yang menjadi penanggung jawab dan kebijakan di negeri ini.

 

Ancaman bagi penebar kerusakan di negeri ini:

Dalam ayat 19 dari surat an-Nuur di atas telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala ancaman bagi siapa saja yang menyebarkan kekejian dan kemungkaran di tengah-tengah kaum muslimin. Ancaman yang berupa siksaan yang pedih itu akan menimpanya baik ketika di dunia maupun kelak setelah ia mati.

                Maka bertaubatlah …. sebelum kematian menjemputmu.

Celaan Mengangkat & Memilih Orang Kafir

2 Komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Pada kesempatan kali ini akan kita simak bersama penuturan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari terkait dengan pengangkatan/penunjukan/pemilihan orang non-muslim sebagai orang kepercayaan, entah sebagai kepala negara atau wakilnya, atau wakil kepala daerah, sebagai guru, sebagai sekretaris, teman dekat, atau selainnya. Ibnu Hajar membawakan riwayat dari jalur ‘Iyadh al-Asy’ari dari Abu Musa:

أَنَّهُ اِسْتَكْتَبَ نَصْرَانِيًّا فَانْتَهَرَهُ عُمَر ” وَقَرَأَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُود وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء } الْآيَة . فَقَالَ أَبُو مُوسَى ” وَاَللَّه مَا تَوَلَّيْته وَإِنَّمَا كَانَ يَكْتُب ” فَقَالَ : ” أَمَا وَجَدْت فِي أَهْل الْإِسْلَام مَنْ يَكْتُب لَا تُدْنِهِمْ إِذْ أَقْصَاهُمْ اللَّه ، وَلَا تَأْتَمِنهُمْ إِذْ خَوَّنَهُمْ اللَّه ، وَلَا تُعِزَّهُمْ بَعْدَ أَنْ أَذَلَّهُمْ اللَّه

Bahwasanya ia (Abu Musa al-Asy’ari) menunjukkan seorang beragama Nasrani sebagai juru tulis. Lalu Umar menghardiknya dan membacakan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُود وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). (QS. al-Maidah: 51)

Kemudian Abu Musa menjawab: Demi Allah, aku tidak mengangkatnya sebagai pimpinan, ia hanya sekadar menuliskan.

Kemudian Umar menjawab lagi: Apakah kamu tidak mendapati dari kalangan pemeluk agama Islam yang bisa menulis? Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai orang dekat padahal Allah telah menjauhkan mereka. Janganlah kamu mempercayai mereka setelah Allah menyatakan mereka sebagai para pengkhianat. Jangan pula engkau memuliakan mereka setelah Allah menghinakan mereka. (Fathul Bari, bab: Yustahab lil Katib an Yakuna Aminan ‘Aaqilan – Dianjurkan Bagi Seorang Juru Tulis Seorang yang Terpercaya dan Seorang yang Cerdas)

Lagi

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.