Bismillahirrahmanirrahim

Pembahasan Keempat

                Segala puji bagi Allah yang hanya dengan izin dan taufik-Nya pembahasan demi pembahasan yang telah direncanakan pada tulisan ‘Apa dan Siapa Sunni … (1)’ telah kita simak hingga pembahasan ketiga. Sekarang kita akan membahas pembahasan keempat, yaitu bertema “Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?”

                Telah kita ketahui bersama pentingnya mendalami secara utuh suatu istilah dalam agama ini. Dalam hal ini terkait dengan term/istilah ‘sunni’. Jika tidak difahami dengan baik, akan menyebabkan diri kita terjebak dalam upaya-upaya membelokkan istilah ‘sunni’ ke dalam berbagai kotak-kotak sempit yang diselubungi pengakuan dan dakwaan sebagai kaum ‘sunni’. Padahal telah jauh menyimpang dari ajaran sunni sebenarnya.

Bahkan ada pula yang terbawa syubhat bahwa kaum sunni muncul setelah kemunculan Syiah. Yang demikian ini tentunya sebagai akibat dari tidak memahami apa dan siapa sebenarnya ‘sunni’ itu dengan baik.

Ada pula yang mengaku sebagai sunni tapi tidak mengetahui maknanya kecuali setelah dijelaskan kepadanya tentang asal usul kata ‘sunni’. Setelah dijelaskan asal usul kata sunni sebagaimana pada bagian pertama dari rangkaian tulisan ini barulah ia memahami makna dan kandungan serta maksud dari istilah ‘sunni’ itu. Walhamdulillah.

Kenyataan seperti ini juga menjadi bukti bahwa ilmu Islam yang sebenarnya masih tersamarkan bagi sebagian kalangan. Hal ini menuntut kesungguhan dari seluruh kaum muslimin untuk kembali mendalami dan menyebarkan ilmu sunnah yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disampaikan oleh para sahabatnya. Yaitu dengan mempelajari kitab-kitab hadits seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, kitab-kitab sunan, dan lain-lainnya.

Semoga para pemerhati blog ini – juga seluruh kaum muslimin – bisa memahami istilah sunni dengan baik dan benar sehingga tidak mudah ditipu, dibelokkan, dan dikotak-kotakkan dengan berbagai kotak-kotak yang sempit. Ingatlah tujuan setan dan pasukannya adalah memecah belah kaum muslimin. Segala macam daya dan upaya mereka lakukan untuk memecah belah kaum muslimin.

Semoga kaum muslimin menyadari keadaan yang menimpa sekarang ini, yaitu terkotak-kotak dalam partai-partai, kelompok-kelompok, dan lain-lain. Kemudian mau kembali kepada persatuan yang dicita-citakan bersama, yaitu persatuan yang hakiki di bawah naungan bimbingan wahyu Ilahi. Yaitu wahyu Allah Ta’ala yang tertuang dalam al-Qur’an dan as-sunnah.

Tidak lagi menjadikan golongan, organisasi, yayasan, atau bahkan ustadz dan kiyai tertentu sebagai acuan dalam bersatu dan berloyalitas. Akan tetapi benar-benar menjadikan al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai acuan utama dalam bersatu dan berkumpul. Sehingga semua gerak dan langkah benar-benar akan ditimbang dengan kedua landasan ini. Barang siapa yang menyelisihinya pasti telah salah dan menyimpang walaupun mengaku sebagai ‘sunni’, ‘ahlussunnah’, ‘ahli sunnah’, atau ‘salaf’, ‘salafy’, ‘muslim kaffah’, dan sebagainya.

 

Pengakuan yang hanya sekadar pengakuan

                Telah sering kita singgung tentang keberadaan setiap kalangan yang menyatakan dirinya sebagai ‘sunni’ atau ‘ahli sunnah’, atau ‘ahlussunnah’. Telah kita jelaskan pula pada pembahasan pertama dari rangkaian pembahasan ini bahwa yang dimaksud dengan ‘sunnah’ di sini adalah sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan,

لَمْ أَسْمَعْ أحَدًا – نَسَبَه النَّاسُ أو نسب نَفْسَهُ إلَى علْمٍ – يُخَالِفُ فِي أَنْ فَرْضَ الله عزوجل اتباع أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم والتسليم لحكمه …

Aku tidak pernah mendengar seorang pun – yang dipandang oleh orang-orang atau ia memandang dirinya sebagai orang yang berilmu – berselisih dalam hal Allah Azza wa jalla mewajibkan (para hamba) mengikuti perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Jima’ul Ilmi)

Kemudian beliau melanjutkan dengan mengatakan,

وَأَنّهُ لاَ يَلْزَمُ قولٌ بِكُلِّ حَالٍ إلاَّ بِكِتاب الله أو سنة رسوله صلى الله عليه وسلم وأن ما سواهما تبع لها وأن فرض الله علينا وعلى من بعدنا وقبلنا في قبول الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم واحد لا يختلف في أن الفرض والواجب قبول الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم

Dan bahwasanya setiap pendapat/perkataan orang tidak harus diterima begitu saja kecuali berdasar kitabullah atau sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan bahwasanya selain kitabullah dan as-sunnah bersifat mengikuti keduanya. Dan bahwasanya yang Allah wajibkan kepada kita dan kepada orang-orang setelah kita dan sebelum kita  dalam hal menerima pemberitaan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu. Tidak ada yang berselisih tentang wajibnya menerima berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (sda)

Inilah penjelasan dari al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang wajibnya bagi setiap orang untuk mengikuti kitabullah dan as-sunnah. Bahkan beliau menyatakan belum pernah mendengar seorang pun dari kalangan orang yang berilmu berselisih dalam hal wajibnya mengikuti perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wa lillahil hamdu.

Akan tetapi sangat mengherankan adanya orang muslim, bahkan mengaku sebagai ‘muslim kaffah’ menilai Islam sebagai agama yang biadab lantaran adanya perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh orang murtad.[1]

Seorang muslim yang kaffah tentunya akan menilai agama ini secara komprehensif. Tidak menilainya secara sepotong-sepotong.

Entah pemikiran setan mana yang telah merasuk dan merusak dalam pemikiran si ‘muslim kaffah’. Hadanallahu wa iyyah.

                Yang pasti bermula dari kebodohan tentang dasar-dasar yang ada pada Islam ini sehingga muncullah pandangan bahwa Islam agama yang biadab karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pemerintah kaum muslimin untuk membunuh si murtad, yaitu orang yang keluar dari agama Islam.

 

Nasihat:

                Sebagai seorang muslim kita sangat meyakini bahwa Allah Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi pembawa rahmat. Di antara ajaran yang beliau sampaikan adalah memerangi orang-orang yang pantas diperangi, merajam orang yang berzina jika telah menikah, dan lain-lain yang secara sekilas perbuatan kejam dan biadab. Akan tetapi semua sebagai wujud pelaksanaan sifat rahmatan lil ‘alamin yang ada pada ajaran Islam ini.

                Apabila masih mengganjal pada diri saudara tentang masalah hukum rajam, hukum bunuh, bahkan perintah memerangi orang-orang yang pantas diperangi, hendaklah saudara ‘Muslim Kaffah’ banyak-banyak memohon hidayah kepada Dzat Yang telah menciptakanmu dari tidak ada menjadi tidak ada (mohon maaf terbalik). Semula dari berupa air yang menjijikkan bisa Ia merubahnya menjadi makhkluk yang bernama manusia, kemudian setelah menjadi manusia yang diberi anggota badan yang lengkap dan menggunakan nama samaran ‘Muslim Kaffah@ …com’. Namun setelah itu mengatakan agama-Nya yang dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia sebagai agama biadab. Perbanyaklah mendalami Islam dari sumber-sumbernya yang asli, yaitu al-Qur’an dan kitab-kitab hadits seperti Shahih al-Bukhari dan Muslim. Semoga saudara mendapatkan hidayah sehingga bisa memahami keindahan Islam yang sedemikian rupa. Dan bisa memahami betapa Islam ini adalah agama yang penuh rahmat bagi seluruh kalangan. Betapa sempurnanya Islam ini sehingga tidak butuh lagi adanya penambahan dan tidak  boleh lagi untuk dikurangi.

والحمد لله رب العالمين

Dan segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.

 

 

[1] Tentunya perintah untuk membunuh atau memerangi dalam Islam adalah perintah yang ditujukan kepada pemerintah yang sah, bukan kepada ormas, yayasan, atau kelompok-kelompok masyarakat-pen.