Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan yang lalu (Apa dan Siapa Sunni 1) telah kita ketahui asal usul kata sunni dan makna sunnah secara bahasa. Dan biasanya ada keterkaitan antara makna suatu kata menurut bahasa dan menurut syari’at. Wallahu a’lam.

Sekarang kita akan mengenal makna dari kata sunnah yang digunakan dalam istilah syari’at Islam. Sebenarnya telah kita bahas dalam tulisan berjudul “Yang ‘Sunnah’ Ditinggalkan ?”

makna kata sunnah dalam istilah syari’at.

Telah kita sampaikan pula akibat dari salah memahami atau kurang memahami dengan baik suatu istilah akan menimbulkan kerancuan, salah kaprah, bahkan perselisihan dan perpecahan. Di antara kerancuan dan salah kaprah yang terjadi adalah sebagian besar dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan dan diasingkan karena hanya ‘sunnah’ saja, bukan wajib. Padahal kata ‘sunnah’ dalam istilah syari’at memiliki beberapa definisi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Tidak mengapa untuk kita ulang sebagiannya karena sangat penting agar menjadi pengingat dan peringatan bagi kita semua, kaum muslimin dimana saja berada.

فذكر فإن الذكر تنفع المؤمنين

Maka ingatkanlah, karena sesungguhnya peringatan itu akan memberikan manfaat bagi kaum mukminin.

Berikut adalah pernyataan yang kami kopikan dari tulisan kami berjudul “Yang ‘Sunnah’ Ditinggalkan ?”

Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menjelaskan hadits al-Bukhari dan Muslim di atas :

الْمُرَاد بِالسُّنَّةِ الطَّرِيقَة لَا الَّتِي تُقَابِل الْفَرْض وَالرَّغْبَة عَنْ الشَّيْء الْإِعْرَاض عَنْهُ إِلَى غَيْره ، وَالْمُرَاد مَنْ تَرَكَ طَرِيقَتِي وَأَخَذَ بِطَرِيقَةِ غَيْرِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Yang dimaksud dengan ‘as-sunnah’ (pada hadits ini) adalah ath-thariqah (tarekat/metode/tata cara), bukannya ‘sunnah’ yang menjadi kebalikan dari kata fardhu (wajib).

Sedangkan sikap membenci sesuatu adalah berpaling darinya untuk kemudian menuju kepada selain dari sesuatu itu (dalam hal ini ‘sunnah Nabi shallallahu ‘alai wa sallam’). Dan maksud dari hadits di atas adalah orang yang meninggalkan tarekatku dan mengambil (menempuh) tarekat selainku maka ia bukan dari golonganku.” Selesai penukilan.

Dari penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar di atas kita bisa menyimpulkan bahwa kata ‘sunnah’ dalam Islam memiliki tiga definisi:

  1. Definisi menurut syari’at Islam
  2. Definisi dalam bidang ilmu hadits
  3. Definisi dalam bidang fikih dan ushul fikih:

Adapun masing-masing definisi di atas adalah sebagai berikut:

  1. Definisi ‘sunnah’ secara syari’at:

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan tentang maksud ‘sunnah’:

مَا جَاءَ عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَقْوَاله وَأَفْعَاله وَتَقْرِيره وَمَا هَمَّ بِفِعْلِهِ

“Semua yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, dan apa yang beliau ingin lakukan.”[1]

  1. Definis ‘sunnah’ menurut bidang ilmu hadits :

مَا أُضِيفَ إِلَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم مِنْ قَولٍ أَو فِعْلٍ أو تَقْرِيرٍ أو صِفَةٍ خَلْقِيَّة أو خُلُقِيَّة

Semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat jasmani atau akhlak.

  1. Definisi ‘sunnah’ menurut bidang ilmu fikih dan usul fikih:

مَا أُضيفَ إِلَى النَّبِي صلى الله عليه وسلم مِنْ قَولٍ أو فِعْلٍ أو تَقْرِيرٍ

Semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

وَفِي اِصْطِلَاح بَعْض الْفُقَهَاء مَا يُرَادِف الْمُسْتَحَبّ

“Dan menurut istilah sebagian fuqaha’ adalah kata lain dari mustahab’”[2]

Dalam istilah sebagian fuqaha’ yang lain adalah masnun, mandub, dan sunnah, maknanya adalah amalan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Yaitu kata ‘sunnah’ dalam bidang fikih digunakan untuk menjelaskan hukum suatu amalan yang bukan wajib.

Dengan demikian kita telah mengetahui makna kata ‘sunnah’ dalam agama Islam, yaitu ada beberapa definisi yang harus kita fahami dan kita ketahui. Sehingga ada di sana ‘sunnah’ yang bersifat wajib sehingga tidak boleh bagi siapa pun untuk meninggalkannya, barang siapa yang meninggalkannya maka ia tidak termasuk dalam golongan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun menamakan dirinya sebagai ahlussunnah atau sunni.

Selesai penukilan.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa kata sunnah memiliki pengertian sendiri-sendiri sesuai dengan bidang pembahasan masing-masing. Sehingga tidak bisa untuk kita men-‘gebyah uyah’ (menjenaralisir) bahwa setiap sunnah bermakna sesuatu yang apabila dijalankan akan mendatangkan pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Lalu dengan ringan dan gampangnya meninggalkan ajaran sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan alasan hanya sekadar sunnah.

                Pernah kita singgung pula pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang sikap yang seorang muslim di hadapan amalan sunnah atau mandub. Beliau berkata:

ولسنا نُحِبُّ لأحدٍ تَرْكَ أن يَتَهجَّدَ بِمَا يَسَّرَهُ الله عَلَيهِ مِنْ كِتَابِهِ مُصَلِّيًا بهِ وَكَيفَ مَا أكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إلَينَا

“Dan tidaklah kami menganjurkan bagi seorang pun untuk meninggalkan shalat tahajjud dengan membaca apa yang Allah mudahkan baginya dari kitab-Nya untuk ia baca dalam shalat. Ketika shalat tahajjud diperbanyak bacaannya maka hal ini yang lebih kami senangi.” Ar-Risalah no. 343)

Yaitu tidak sepantasnya untuk meninggalkan sama sekali amalan yang hukumnya sunnah atau mandub, yaitu yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa.

             Telah kita bawakan pula sikap dan pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah di hadapan as-sunnah an-nabawiyyah. Yaitu dalam judul “as-Sunnah dalam Pandangan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah”, sehingga cukup bagi para pembaca untuk merujuk kepada pembahasan tersebut.

                Kemudian apabila kita membuka Sunan Abu Daud akan kita dapati salah satu judul kitab yang dibuat oleh Imam Abu Daud adalah kitab as-Sunnah. Ketika kita meneliti hadits-hadits di dalamnya akan kita dapati sejumlah hadits tentang permasalahan yang wajib diimani oleh setiap muslim. Barang siapa yang tidak mengimaninya akan tergolong sebagai orang-orang yang menyimpang dari ash-shirath al-mustaqim. Bahkan bisa jadi telah keluar dari agama Islam.

Sebagai contoh adalah bab Qadar. Dalam bab ini dibawakan sejumlah hadits terkait kewajiban beriman kepada takdir, barang siapa yang tidak mengimaninya ia keluar dari lingkup Islam. Sehingga sedekah yang dia serahkan tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala hingga ia mau beriman. Sebagaimana riwayat ini juga terdapat dalam Shahih Muslim tentang kisah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang dilapori tentang keberadaan sebagian kalangan yang membahas permasalahan takdir, yaitu dari sekte Qadariyyah. Kisah tentang ini telah kita sampaikan secara ringkas pada rubrik berjudul “Minoritas Selalu Dilindungi… ??”

Demikian pula apabila kita membuka kitab Ushul as-Sunnah karya al-Imam Ahmad rahimahullah. Di dalamnya akan kita dapati sekian banyak permasalahan iman yang harus diyakini oleh kaum muslimin.

Dan maksud dari pembahasan ini adalah:

  1. Menandaskan bahwa as-sunnah memiliki makna tertentu sesuai dengan bidang masing-masing. Dengan demikian sikap seorang muslim akan benar-benar mengagungkan as-sunnah walaupun hukumnya sunnah (tidak wajib). Bukan malah mengecilkan dan menyurutkan orang-orang yang menegakkan ajaran sunnah.

Bukan malah memusuhi dan memboikot orang-orang yang menegakkan ajaran as-sunnah. Bahkan menuduh dan membuat isu-isu yang akan membuat kaum muslimin takut dan menjauhi orang-orang yang menegakkan as-sunnah.

  1. Yang dimaksud dengan as-sunnah adalah ath-thariqah (tarekat/metode/tata cara), bukannya ‘sunnah’ yang menjadi kebalikan dari kata fardhu (wajib)”. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar di atas, yaitu as-sunnah yang bermakna luas, tarekat atau metode atau manhaj.

Sehingga barang siapa yang berpaling darinya untuk kemudian menuju kepada selain dari sesuatu itu (dalam hal ini ‘sunnah Nabi shallallahu ‘alai wa sallam’) adalah orang yang meninggalkan tarekat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil (menempuh) tarekat selain tarekat beliau, maka ia bukan dari golongan beliau, yaitu bukan dari golongan “Sunni” tulen.

  1. Meluruskan pandangan sebagian orang bahwa ‘sunni’ datangnya lebih belakangan dibandingkan Syiah. Pandangan seperti ini tentunya 100 % salah dan salah satu buah dari pembelokan makna ‘sunni’ kepada makna yang tidak sebenarnya. Entah pihak mana yang berhasil menelorkan pemikiran yang salah 100 % ini? Yang pasti kaum ‘sunni’ adalah momok bagi Syiah dan para ‘bos’ yang berada di balik layar dalam menggerakkan, melindungi, dan mendanai gerakan mereka.

Semoga kaum muslimin bisa menyimpulkan dengan baik bahwa generasi ‘sunni’ yang pertama adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga syubhat-syubhat dan berbagai ide atau pemikiran yang bertujuan menyimpangkan makna ‘sunni’ kepada makna selain sunnah/ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa dipatahkan dengan mudah.

Pada tahap berikutnya kaum muslimin diharapkan bisa mengenali siapa sebenarnya kaum ‘sunni’ atau apa dan bagaimana prinsip seorang sunni. Sehingga tidak terombang-ambing oleh sekian banyak seruan dan pengakuan sebagai ‘sunni’ namun tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya dari ajaran as-sunnah an-nabawiyyah, bahkan bertolak belakang.

Demikian harapan kami, semoga Allah Ta’ala mewujudkan harapan ini – dan Ia adalah Dzat Yang Mahamampu utuk mewujudkannya -. Amiin.

Dengan demikian tulisan ini sebagai pembahasan keempat dari tiga pembahasan yang telah diposting pada judul “Apa dan Siapa Sunni …? (1)”. Walhamdulillahirabbil alamin.

[1] Fathul Baari: Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-sunnah

[2] sda