Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan kali ini kita akan mengenali siapakah atau apa sebenarnya istilah ‘sunni’ dalam Islam. Karena hampir mayoritas kalangan mengaku sebagai kaum ‘sunni’, namun sudahkah pengakuannya itu benar dan jujur? Atau hanya sekadar pengakuan namun jauh menyimpang dari makna ‘sunni’ yang sebenarnya. Pembahasan ini akan dibagi ke dalam beberapa poin penting sebagai berikut:

  1. Asal kata sunni
  2. Arti kata sunnah secara bahasa
  3. Arti sunnah dalam syari’at
  4. Siapakah ‘sunni’ yang sebenarnya?
  5. Sudahkah kita menjadi sunni yang sebenarnya atau hanya mengaku dengan lisan tetapi ‘jauh panggang dari api’?

Pembahasan Pertama:

Kata ‘sunni’ berasal dari kata sunnah. Mengapa bisa berubah menjadi ‘sunni’?

Untuk menjawabnya perlu kita ketahui terlebih dahulu penulisannya dalam tulisan Arab, yaitu: سُنِّي. Terdiri dari empat huruf yaitu sin, nun, nun, dan ya’ (nisbat). Sehingga dua huruf pada kata ini dijadikan satu dengan mentasydid sehingga menjadi سُنِّي. Sedangkan huruf ya’ pada kata ini adalah ya’ nasab atau ya’ nisbat, bukan ya’ asli. Berfungsi untuk menyatakan penisbatan kepada suku, negara, madzhab, atau sesuatu yang lain.

                Adapun pada kata ‘sunni’ penisbatannya kepada sunnah. Mungkin untuk lebih jelasnya kita bawakan padanan kata penisbatannya. Yang mudah adalah menggunakan nama kota Makkah (مَكَّةٌ).

مَكَّةُ Setelah ditambah ya’ nisbat menjadi مَكِّي
سُنَّةٌ Setelah ditambah ya’ nisbat menjadi سُنِّي

 Demikianlah pembentukan nisbat kepada kata sunnah, mirip pembentukan nisbat kepada kota Makkah. Bagi para penelaah perawi hadits tentunya akan sering atau setidaknya pernah membaca perawi atau seorang imam yang bernisbatkan dengan Makki (مَكِّي) atau al-Makki (المّكِّي), yaitu perawi tersebut berasal dari kota Makkah atau pernah tinggal di Makkah.

                Dengan demikian penisbatan kepada ‘sunni’ berarti penisbatan kepada kata ‘sunnah’. Kesimpulan seperti ini tentunya disepakati oleh semua kalangan dan golongan. Insya Allah tidak ada yang mengingkari penisbatan ini kepada kata ‘sunnah’. Entah kalau dari kalangan Syiah yang mereka sangat benci kepada kaum ‘sunni’, mereka akan mencari-cari celah untuk senantiasa menjatuhkan kedudukan as-sunnah dan para pembawa dan pembela as-sunnah.

Atau sekte lain yang mencoba membelokkan penisbatan kata sunni kepada sunnah selain sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena bisa jadi seseorang menyatakan dirinya sebagai ‘sunni’ namun ternyata sunnah yang dimaksud adalah ajaran ‘sunnah’ selain sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Entah ‘sunnah’ warisan leluhur, ‘sunnah’ warisan kebudayaan atau adat istiadat tertentu (mohon untuk tidak difahami bahwa tulisan ini bermaksud menolak semua adat istiadat, tentunya tidak demikian karena sebagian adat istiadat ada yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Atau mungkin pula ‘sunnah’ warisan Jahmiyyah, Mu’tazilah, atau yang lainnya.

                Agar memperjelas ‘sunni’ yang sesungguhnya akan kita ulas kembali makna kata sunnah secara bahasa sehingga menjadi jelas bagi para pengaku ‘sunni’ dalam menisbatkan diri mereka kepada sunnah. Apakah menisbatkan dirinya kepada ajaran sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada sunnah selain sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena banyak sekali pihak yang mengaku sebagai sunni, namun sangat jauh dari apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ubahnya seperti ungkapan syair Arab:

كُلٌّ يَدَّعِي الْوَصْلَ بلَيلَى         وَلَيلَى لاَ تُقِرُّ بِذاكَ

Setiap orang mengaku memiliki hubungan dengan Laila

                Padahal Laila tidak mengakuinya

Yaitu banyak orang yang mengaku memiliki hubungan dengan seorang gadis cantik bernama Laila, padahal Laila tidak mengakui memiliki hubungan itu. Demikianlah pengakuan sebatas pengakuan, namun tidak ada hubungannya sama sekali.

Ini sebagaimana pula banyak kalangan mengaku sebagai ‘sunni’ atau Ahlussunnah, yaitu mengaku sebagai pembela atau pengusung sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi. Namun ternyata bukanlah sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka bela atau mereka sebarkan. Akan tetapi sunnah kelompoknya atau sunnah tarekatnya atau sunnah selainnya. Bukan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ‘sunnah’ adat  yang ditinggalkan oleh nenek moyang atau selainnya sebagaimana telah disinggung di atas.

                Banyak yang mengaku sebagai ‘sunni’ karena memang ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ajaran yang sangat indah, cantik, sempurna, dan selaras dengan setiap waktu dan tempat. Sama seperti Laila yang rupawan, banyak pemuda yang mengaku memiliki hubungan dengannya.

Perhatian:

                Hendaklah semua pihak berupaya mengoreksi dirinya masing-masing. Sudahkah benar-benar menelaah ajaran sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyebarkan dan membelanya, atau sunnah selain sunnah beliau yang dibela dan diperjuangkan? Karena tujuan tulisan ini adalah sebagai bahan koreksi bersama.

Janganlah mudah menuduh dan memvonis pihak lain. Sebelum menuduh orang lain sebaiknya koreksi diri sendiri terlebih dahulu. Sudah benarkah dalam meniatkan pembelaan terhadap sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam atau baru sekadar ikut-ikutan orang atau kelompok atau organisasi. Yang lebih tragis lagi ikut-ikutan sebagai penggembira partai politik yang mengaku sebagai ‘partai sunni’ atau ‘partai Ahlussunnah’.

                Renungilah dengan penuh ketenangan dan akal yang jernih. Janganlah mendahulukan emosi dan perasaan. Jangan mendahulukan pemahaman semula yang belum karuan benarnya. Jangan pula mendahulukan ucapan manusia di atas wahyu yang berupa al-Qur’an dan as-sunnah.

Demikian sebagai nasihat bagi penulis sendiri secara khusus dan seluruh kaum sunni, yaitu kaum muslimin di negeri ini dan di seluruh pelosok dunia yang bisa menjangkau tulisan ini. semoga Allah Ta’ala membukakan pintu-pintu kebaikan melalui tulisan ini sehingga menjadi tambahan timbangan kebaikan di hari akhir nanti. Amin.

 

  1. Arti kata sunnah secara bahasa

Pada pembahasan di atas telah kita ketahui makna kata ‘sunni’, yaitu penisbatan kepada kata ‘sunnah’. Sebelum meninjau makna istilah ‘sunni’, terlebih dahulu kita akan menelaah kata sunnah itu sendiri sehingga akan memperjelas penisbatan yang ada. Agar diketahui penisbatan yang kita nisbatkan benar-benar kepada sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi atau kepada sunnah selain sunnah beliau.

                Kata sunnah secara bahasa (sebenarnya telah dijelaskan pada rubrik berjudul “Yang Sunnah Ditinggalkan?”) adalah sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Mandzur dalam Lisanul Arab:

السُّنَّة السِّيرَة حَسَنَة كانت أَو قَبِيحَة

As-sunnah adalah as-sirah, bisa baik dan bisa buruk.

Sedangkan sunnatullah adalah hukum-hukum Allah, perintah, dan larangan-Nya sebagaimana dijelaskan dalam Lisanul Arab.

وسَنَّها الله للناس بَيَّنها وسَنَّ الله سُنَّة أَي بَيَّن طريقاً قويماً

Dan jika dikatakan

سَنَّها الله للناس

Allah mensunnahkannya untuk manusia.

Maknanya adalah Allah menjelaskannya.

Sedangkan ungkapan

سَنَّ الله سُنَّة

Allah mensunnahkan suatu sunnah

Maknanya adalah Allah menjelaskan jalan/metode yang lurus.

Untuk menjelaskan makna sunnah secara bahasa penulis Lisanul Arab membawakan bait syair di bawah ini:

فلا تَجْزَعَنْ من سِيرةٍ أَنتَ سِرْتَها فأَوَّلُ راضٍ سُنَّةً من يَسِيرُها

Janganlah kamu tersinggung oleh suatu sunnah yang telah kamu tempuh/lakukan

Karena orang pertama yang meridhai sunnah itu adalah orang yang menempuhnya/melakukannya

Pernah kita bawakan pula pernyataan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam menjelaskan kata ‘sunnah’ secara bahasa:

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

وَالسُّنَّة فِي أَصْل اللُّغَة الطَّرِيقَة

Dan sunnah secara asal bahasa bermakna thariqah (tarekat, metode, tata cara-pen).[1]

 

Setelah mengetahui makna sunnah secara bahasa, kita akan mengetahui makna sunnah secara istilah syari’at pada pembahasan berikutnya insyaAllah. Dengan demikian kita mengetahui adanya penisbatan kepada ‘sunnah’ atau ‘sunni’, namun hakikatnya adalah menisbatkan kepada ‘sunnah’ secara bahasa (metode tertentu, tarekat, atau tata cara tertentu), bukan kepada sunnah yang digariskan dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diperintahkan untuk memeganginya. Dan penisbatan kepada sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu sunni ‘tulen’ atau sejati, yaitu benar-benar membela, menyebarkan, menghidupkan, dan mendakwahkan sunnah (ajaran/metode/manhaj) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

                Harapan dari tulisan ini adalah bisa memberikan kontribusi bagi kaum muslimin dalam membedakan antara sunni sejati dengan ‘sunni-sunni’ lain yang sekadar mengaku saja tapi jauh menyimpang dari ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan alergi dan sewot, bahkan menentang dan mengucilkan orang yang menegakkan as-sunnah an-nabawiyyah di tengah-tengah kaum muslimin. Wallahul musta’an (hanyalah Allah Ta’ala sebagai tempat memohon pertolongan).

[1] Fathul Baari: Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-sunnah