Bismillahirrahmanirrahim

Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan tentang kedudukan as-sunnah dan pengertian atau definisi sunnah menurut bidang pembahasan masing-masing, baik dalam bidang fikih, ushul fikih, dan ilmu hadits.

Telah kita ketahui pula sikap al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika di hadapan as-sunnah, lihat di https://fatwasyafii.wordpress.com/2013/10/31/as-sunnah-dalam-pandangan-al-imam-asy-syafii-rahimahullah/. Beliau sangat mengagungkan as-sunnah dan tidak berani lancang untuk mendahului qaulillah (al-Qur’an) dan qaulirasulillah (as-sunnah atau hadits). Sikap seperti ini adalah sikap yang seharusnya ditempuh oleh setiap muslim yang mengaku dirinya sebagai kaum sunni. Karena seorang sunni adalah seorang yang benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukannya mengikuti metode atau aliran atau pandangan atau organisasi tertentu. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (1) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (2) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

(QS. al-Hujurat:1-3)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, perhatikanlah ayat di atas karena di dalamnya terdapat seruan bagi orang-orang yang beriman yang sekaligus menjadi ciri-ciri orang yang beriman. Sifat dan ciri orang beriman yang terdapat dalam ayat di atas adalah tidak mendahului firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perhatikan pula ancaman bagi orang-orang yang berani bersuara keras di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu amalannya akan terhapus, na’udzubillah min dzalik. Semoga ayat di atas menjadi motivator bagi kita semua untuk benar-benar mengagungkan as-sunnah dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada pembahasan kali ini akan kita bawakan sebagian bimbingan adab di hadapan as-sunnah. Mengingat masih banyak dari kaum muslimin yang lebih mendahulukan pendapat atau pandangannya sendiri atau kelompoknya dalam menghadapi permasalahan yang mereka hadapi. Terlebih ketika menghadapi permasalahan yang menyangkut kenegaraan atau permasalahan yang sensiti lainnya, seperti ancaman yang muncul dari sekte Ahmadiyyah dan Syi’ah. Mereka akan menggunakan standar ganda, di satu saat mereka akan beralasan dengan alasan minoritas sehingga perlu atau bahkan wajib dilindungi dan dihormati, di saat yang lain menggunakan alasan stabilitas dan keamanan negara, di saat yang lain lagi beralasan dengan HAM, dst. Sekian banyak alasan untuk melindungi dan melegalkan kekafiran dan kesesatan. Sementara hak-hak kaum muslimin mereka adalah warga negara Indonesia hanya dipandang sebelah mata.
Mungkin saja dalam pandangan sebagian elit kaum muslimin hanyalah sebagai kaum yang tidak perlu mendapatkan tempat dan hati. Atau bahkan bila perlu dibumihanguskan agar tidak ada lagi yang namanya Islam dan kaum muslimin di negeri ini. Negeri yang diperjuangkan oleh para pejuang yang mayoritasnya adalah kaum muslimin, kalau bukan seluruhnya. Karena yang menjajah adalah bangsa kafir sedangkan yang dijajah adalah kaum muslimin sebagai tagert misi penginjilan.

Semoga pembahasan tentang bimbingan adab di hadapan as-sunnah/hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menjadi salah satu kebangkitan Islam dan kaum muslimin. Karena hanyalah dengan kembali kepada bimbingan wahyu yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadits kaum muslimin akan bisa meraih kembali kejayaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Jika kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor sapi, dan bersenang-senang dengan pertanian, dan kalian meninggal jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan. Allah tidak akan mencabut kehinaan ini dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian. HR. Abu Daud dan Ahmad.

1. Tidak mempertahankan pendapat seseorang atau kelompok ketika telah ada sunnah yang menyelisihi pendapat tersebut. walaupun pendapat itu adalah pendapat yang kuat.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

وَفِي الْقِصَّة دَلِيل عَلَى أَنَّ السُّنَّة قَدْ تَخْفَى عَلَى بَعْض أَكَابِر الصَّحَابَة وَيَطَّلِع عَلَيْهَا آحَادهمْ ، وَلِهَذَا لَا يُلْتَفَت إِلَى الْآرَاء وَلَوْ قَوِيَتْ مَعَ وُجُود سُنَّة تُخَالِفهَا ، وَلَا يُقَال كَيْفَ خَفِيَ ذَا عَلَى فُلَان ؟ وَاَللَّه الْمُوَفِّق (فتح الباري 1/41)

Dalam kisah di atas terdapat dalil bahwa sunnah/hadits terkadang tersembunyikan bagi sebagian pembesar sahabat dan diketahui oleh sebagian kecil dari mereka. oleh karena itu tidak boleh menoleh kepada pendapat manusia walaupun kuat pendapatnya ketika telah ada as-sunnah yang menyelisihinya. Dan tidak boleh pula dikatakan mengapa hadits ini tidak diketahui oleh si fulan. Wallahul muwaffiq. Fathul Bari 1/41

Adapun kisah yang dimaksud oleh Ibnu Hajar adalah kisah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang meriwayatkan hadits di bawah ini:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian mereka menegakkan shalat dan membayar zakat. Apabila mereka melakukannya maka mereka telah melindungi darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak-hak Islam. Sedangkan perhitungan mereka ada pada Allah.

Hadits ini tidak diketahui oleh pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma sehingga Abu Bakar memutuskan hukum memerangi kaum yang menolak membayar zakat berdasar kiyas dan penggal hadits

إِلَّا بحقه

kecuali dengan hak-haknya

yaitu dari penggal hadits

أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا : لا إله إلا الله ، فمن قال : لا إله إلا الله ، فقد عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله عز وجل

Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan Laa ilaaha illallah. Lalu barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallah maka ia telah menjaga harta dan jiwanya dariku kecuali dengan haknya. Sementara perhitungannya ada pada Allah.

sementara Umar radhiyallahu ‘anhu semula menolak keputusan Abu Bakar.

Kisah dialog antara Abu Bakar dan  Umar tentang masalah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Dari penjelasan Ibnu Hajar di atas bisa disimpulkan bahwa terkadang ilmu tentang agama ini tidak diketahui oleh orang-orang yang memiliki keutamaan dan kedudukan tinggi dalam agama Islam. Karena memang sifat manusia kadang tahu dan kadang tidak tahu. Sehingga tidak boleh menolak as-sunnah/hadits dengan alasan tidak diketahui oleh orang-orang besar atau para ustadz besar atau para kiyai.

2. Berpegang dengan as-sunnah ketika benar-benar shahih dan tidak perlu memperdulikan pihak yang menyelisihinya siapapun dia.

وَلَكِنَّ السُّنَّةَ إِذَا ثَبَتَتْ لَا يُبَالِي مَنْ تَمَسَّكَ بِهَا بِمُخَالَفَةِ مَنْ خَالَفَهَا ، وَاَللَّه الْمُسْتَعَان

Akan tetapi as-sunnah ketika benar-benar telah tsabit (sah), maka orang yang telah berpegang dengannya tidak perlu memperdulikan perselisihan orang yang menyelisihinya. Wallahul musta’an. Fathul Bari 3/217

3. Menyelisihi as-sunnah hukumnya haram

وَيَحْرُمُ عَلَى اَلْعَالِمِ أَنْ يُخَالِفَ اَلسُّنَّةَ بَعْدَ عِلْمِهِ بِهَا

Dan haram bagi seorang alim (baik itu seorang syaikh, kiayi, habib, ustadz, atau dai, atau selainnya-pen) untuk menyelisihi as-sunnah setelah ia mengetahuinya. Fathul Bari 4/242

Demikian sebagian adab dan hukum terkait dengan keberadaan as-sunnah di tengah-tengah kaum muslimin. Sebenarnya pada judul as-sunnah di hadapan al-Imam asy-Syafi’i (https://fatwasyafii.wordpress.com/2013/10/31/as-sunnah-dalam-pandangan-al-imam-asy-syafii-rahimahullah/) telah ada kecukupan bagi mereka yang benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bangga dengan Majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akan tetapi seringnya hawa nafsu dan sekian banyak syubhat yang lebih dikedepankan sehingga sekian banyak sunnah/ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditinggalkan, bahkan ditentang dan dijauhi dengan berbagai isu alasan, seperti tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat, tidak sesuai dengan ajaran kiyai,  ‘ajaran baru’, dst. Pihak yang lain menolaknya dengan alasan berpegang dengan al-Qur’an, dst.
Wallahul musta’an.