Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui sebagian bimbingan terpenting dalam menjalankan ibadah puasa, bahkan menjadi bimbingan yang paling penting dan harus dilakukan oleh setiap muslim yang hendak melakukan ibadah puasa Ramadhan. Sebagai kesimpulan dari bimbingan terdahulu adalah

Bimbingan pertama: menjalankan ibadah shiyam Ramadhan ikhlas karena Allah ta’ala

Bimbingan kedua: mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi dalam beribadah

Bimbingan ketiga: berpuasa karena melihat hilal, bukan karena perhitungan ilmu hisab

Bahkan pada bimbingan ketiga ini telah kita ketahui adanya larangan untuk memulai dan mengakhiri puasa kecuali apabila melihat hilal, bukan berdasar perhitungan ilmu hisab atau ilmu perbintangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Jika terhalangi atas kalian maka kira-kirakanlah. Muttafaq ‘alaih.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah memberikan judul dalam Shahih Muslim

بَاب وُجُوبِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَالْفِطْرِ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ وَأَنَّهُ إِذَا غُمَّ فِي أَوَّلِهِ أَوْ آخِرِهِ أُكْمِلَتْ عِدَّةُ الشَّهْرِ ثَلَاثِينَ يَوْمًا

Bab wajibnya puasa Ramadhan karena melihat hilal dan berhari raya juga karena melihat hilal, dan apabila terhalangi pada permulaan atau akhir bulan maka dilengkapi jumlah bilangan bulan menjadi 30 hari.

Bimbingan keempat: berpuasa bersama pemerintah

Di antara keindahan Islam adalah senantiasa mengajarkan kepada pemeluknya untuk menjaga persatuan dan kebersamaan. Di antaranya pula dalam memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Berpuasa itu adalah pada hari kalian semua berpuasa, dan berbuka (berhari raya) adalah pada hari kalian semua berbuka. Dan beridul kurban pada hari kalian menyembelih binatang kurban. HR. at-Tirmidzi

At-Tirmidzi memberikan tambahan penjelasan: Sebagian ahli ilmu memberikan penafsiran untuk hadits ini dengan mengatakan bahwa makna dari hadits ini adalah berpuasa dan berbuka dilakukan bersama jama’ah dan kebanyakan manusia (kaum muslimin-pen).

Dibawakan dalam Syarah Sunan at-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, asy-Syaukani menyatakan bahwa perawi yang ada pada sanad hadits ini adalah tsiqat (terpercaya).

Berikut beberapa kesimpulan penting dari Tuhfatul Ahwadzi, semoga menjadi tambahan bimbingan bagi kita semua dalam menjalankan ibadah puasa:

  1. Penjelasan al-Khaththabi: Kesalahan tidak dibebankan kepada kaum muslimin dalam permasalahan yang dijalankan melalui ijtihad (dalam hal ini ijtihad dalam menentukan terlihat atau tidaknya hilal awal bulan-pen). Andaikan ada suatu kaum yang telah bersungguh-sungguh namun tidak melihat hilal kecuali setelah 30 hari sehingga mereka tidak berbuka hingga menggenapkan jumlah, ternyata setelah itu bisa dipastikan bahwa jumlah hari adalah 29 hari, maka puasa dan berbuka mereka tetap berlanjut, tidak ada sedikit pun dosa maupun celaan atas mereka.  Dan demikian pula dalam ibadah haji, apabila mereka salah dalam menentukan hari Arafah, maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk mengulangi ibadah hajinya.
  2. Pernyataan al-Mundziri dalam Talkhis as-Sunan:
  •  Pada hadits ini terdapat isyarat bahwa yaum syak (hari yang meragukan) tidak boleh berpuasa pada hari itu dalam rangka kehati-hatian. Dan hanyalah seseorang berpuasa ketika kaum muslimin (secara mayoritas) melakukan puasa (tentunya puasa Ramadhan yang dimaksud-pen).
  •  Di dalamnya juga terdapat bantahan bagi orang yang berpendapat bahwa orang yang bisa mengetahui kemunculan bulan berdasar perkiraan ilmu perhitungan kedudukan bulan (ilmu hisab) boleh baginya untuk berpuasa dan berbuka, namun tidak boleh bagi yang tidak mengetahui ilmu ini.
  •  Dikatakan pula pada hadits ini ada isyarat seorang saksi apabila melihat hilal namun qadhi/hakim tidak menentukan hukum berdasar persaksiannya, maka persaksiannya ini tidak menjadi landasan puasa bagi dirinya sebagaimana tidak menjadi landasan puasa bagi kaum muslimin.

Kemudian asy-Syaukani dalam Nailul Authar memberikan tambahan penjelasan setelah pernyataan al-Mundziri di atas: Pendapat yang terakhir dipegangi oleh Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani, ia mengatakan bahwasanya wajib bagi seorang yang bersendirian dalam melihat hilal awal bulan untuk mengikuti hukum kaum muslimin dalam berpuasa dan berhaji walaupun harus menyelisihi apa yang ia yakini. Diriwayatkan pula pendapat seperti ini dari ‘Atha’ dan al-Hasan. Namun pendapat ini diselisihi oleh jumhur ulama, mereka mengatakan wajib untuk ia mengikuti hukum dirinya sendiri dalam perkara yang ia yakini.

  •  Dikatakan pula bahwa hadits ini memiliki makna bahwasanya kaum manusia akan berkelompok-kelompok dan menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ada kelompok yang beramal berdasar perhitungan ilmu hisab, dan ini diikuti oleh sebagian umat, ada kelompok yang mendahalui dalam berpuasa dan melakukan wukuf di Arafah serta menjadikannya sebagai syi’ar kelompok ini dan kelompok ini adalah kalangan bathiniyyah. Kemudian ada kelompok yang masih mengikuti petunjuk Nabi, yaitu kelompok yang senantiasa tegak di atas al-haq, dan kelompok inilah yang dimaksud dengan kata-kata an-naas (manusia) dalam hadits ini. Kelompok inilah as-sawad al-a’zham (golongan terbesar) walaupun dari sisi jumlah adalah sedikit. Demikian yang terdapat pada Nailul Authar.

Selesai penukilan dari Tuhfatul Ahwadzi.

Tentang wajibnya berpuasa secara bersama-sama diperkuat oleh hadits lain dalam riwayat at-Tirmidzi pula:

الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ

Hari raya idul fithri adalah hari yang orang-orang berbuka, dan idul adhha adalah hadir orang-orang menyembelih kurbannya.

 

Sebenarnya masih banyak adab-adab yang harus kita pelajari dan kita amalkan selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Dan sebagian besarnya mungkin telah sering didengar melalui ceramah-ceramah, khutbah, dll.

Wa billahi taufik wal hidayah, wa shallallahu wa sallam wa baaraka ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashhabihi ajma’in.