Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa ibadah puasa adalah salah satu ibadah besar dalam Islam. Bahkan puasa Ramadhan menjadi salah satu rukun Islam, yaitu rukun Islam yang keempat sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ

Islam dibangun di atas lima rukun, yaitu mentauhidkan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji. HR. Muslim

Sedangkan dalam riwayat al-Bukhari didahulukan haji sebelum puasa Ramadhan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup bagus tentang perbedaan riwayat yang mendahulukan haji sebelum puasa Ramadhan. Namun pada kesempatan kali ini tidak kita sampaikan karena yang lebih kita fokuskan adalah mengenali bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah, dalam hal ini adalah shiyam Ramadhan.

Bimbingan pertama: menjalankan ibadah shiyam Ramadhan ikhlas karena Allah ta’ala

                Bimbingan pertama ini berlaku untuk semua amalan ibadah, tidak hanya dalam berpuasa Ramadhan. Demikian pula dengan bimbingan kedua, yaitu mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah. Karena amalan ibadah tidak akan diterima apabila tidak memenuhi dua syarat ini sebagaimana kandungan dari dua syahadat yang menjadi rukun Islam pertama.

                Syahadat pertama, yaitu laa ilaaha illallah menuntut keikhlasan, sedangkan syahadat Muhammad ‘abduhu wa rasuluh menuntut kita menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan yang harus diteladani dan diikuti dalam beribadah.

                Tentang bimbingan pertama ini sangat banyak ayat dan hadits yang menjelaskan kewajiban ikhlas dalam beribadah, di antaranya:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Dan barang siapa menyembah sesembahan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. al-Mukminun:117)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:

Allah ta’ala berfirman dalam rangka memberikan ancaman kepada orang-orang menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dan beribadah kepada selain-Nya disamping juga beribadah kepada-Nya. Allah ta’ala mengabarkan bahwa orang yang menyekutukan Allah maka

لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ

tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu

yaitu tidak ada dalil sama sekali baginya untuk membenarkan pendapatnya itu – yaitu pendapat bahwa yang ia sembah selain Allah adalah sesembahan yang pantas disembah pula, pen –

penggal ayat ini sebagai kalimat sisipan, sedangkan jawaban untuk kalimat bersyarat:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ

Dan barang siapa menyembah sesembahan yang lain di samping Allah

adalah pada firman-Nya:

فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ

maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya.

Yaitu kelak Allah yang akan memperhitungakan kesyirikannya itu pada dirinya.

Kemudian Allah Ta’ala memberitakan:

إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung

Yaitu di hadapan-Nya pada hari kiamat tidak ada keberuntungan dan tidak ada keselamatan bagi mereka – orang-orang kafir -. Selesai penukilan.

Dan sekian banyak ayat pula menjelaskan bahwa sesembahan-sesembahan selain Allah ta’ala tidak bisa memberikan manfaat atau menolak bahaya dari para pemujanya. Bahkan para sesembahan-sesembahan selain Allah adalah sesembahan-sesembahan yang lemah dan tidak bermanfaat bagi para pemujanya.

Kiranya satu ayat di atas cukup untuk menjadi perhatian bagi kita dalam beribadah, yaitu agar tidak menjadikan selain Allah sebagai tujuan kita dalam beribadah. Janganlah beribadah dengan tujuan mendapatkan kedudukan di hadapan manusia, jangan beribadah dengan tujuan mendapatkan dukungan dari kaum muslimin dalam berebut kursi kekuasaan, janganlah beribadah dengan tujuan mengelabuhi kaum muslimin sehingga kaum muslimin kalian tipu dengan gelar-gelar yang menggiurkan, dan seterusnya …

Akan tetapi hendaklah beribadah semata karena Allah ta’ala, mengharapkan apa yang Allah ta’ala janjikan bagi para hamba-Nya yang taat.

Bimbingan kedua: mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi dalam beribadah

                Sebagaimana telah disampaikan secara sekilas bahwa syarat utama diterimanya amalan adalah ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ayat berikut ini sebagai dalilnya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya”. (QS. al-Mukminun:117)

Ibnu Katsir memberikan penjelasan tentang ayat ini:

Barang siapa yang mengharapkan balasan dan pahala yang bagus, maka

فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا

maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh

(amalan saleh) adalah yang sesuai dengan syari’at Allah.

وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Rabbnya

Dia-lah Dzat Yang hanyalah wajah-Nya saja yang diharapkan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dua syarat ini adalah rukun amalan yang diterima. Yaitu harus ikhlas karena Allah dan benar, yaitu sesuai di atas syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selesai penukilan.

Dengan demikian hendaklah seseorang dalam beribadah dan beramal memperhatikan amalan yang ia lakukan:

  •  Sudah ikhlas karena Allah ta’ala atau belum?
  •  Sudah sesuai dengan contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau belum?

Bukan malah acuh tak acuh, yang penting puasa, yang penting telah shalat, yang penting telah haji, yang penting telah banyak sedekah dan zakat, yang penting …

Akan tetapi seharusnya mengoreksi diri dan terus mendalami serta introspeksi terhadap amalan yang telah dilakukan dan akan dilakukan. Apabila ada yang tidak ikhlas karena Allah ta’ala maka segeralah bertaubat. Apabila tidak tahu apakah telah benar atau masih salah maka hendaklah bersegera membuka kembali kitab-kitab hadits seperti Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang telah disepakati keshahihannya.

Demikianlah seorang muslim seharusnya, senantiasa mengoreksi dan meneliti amalan yang telah dan akan dilakukan.

Bimbingan ketiga: berpuasa karena melihat hilal, bukan karena perhitungan ilmu hisab

                Di antara bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi sallam dalam menjalankan ibadah puasa adalah melihat hilal yang menjadi pertanda masuknya bulan Ramadhan, Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Apabila kalian melihatnya maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya lagi maka berbukalah. Jika terhalangi atas kalian, maka kira-kirakanlah padanya. HR. al-Bukhari dan Muslim

لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Jika terhalangi atas kalian maka kira-kirakanlah. Muttafaq ‘alaih.

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Berpuasalah karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya, apabila terhalangi atas kalian maka lengkapilah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari HR. al-Bukhari dan Muslim

Sedangkan dalam riwayat Muslim dengan redaksi

فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعَدَدَ

Jika terhalangi atas kalian maka lengkaplah bilangannya.

Sehingga yang menjadi landasan dalam memulai dan mengakhiri puasa adalah melihat hilal. Sedangkan makna dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam

فَاقْدُرُوا لَهُ

maka kira-kirakanlah.

Telah dijelaskan pada riwayat-riwayat lainnya, yaitu menggenapkan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan:

فَاقْدُرُوا لَهُ ” أَيْ اُنْظُرُوا فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَاحْسِبُوا تَمَام الثَّلَاثِينَ ، وَيُرَجِّحُ هَذَا التَّأْوِيلَ الرِّوَايَاتُ الْأُخَر الْمُصَرِّحَة بِالْمُرَادِ وَهِيَ مَا تَقْدَمُ مِنْ قَوْلِهِ ” فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ ” وَنَحْوُهَا ، وَأَوْلَى مَا فُسِّرَ الْحَدِيثُ بِالْحَدِيثِ

Kira-kirankahlah maksudnya lihatlah permulaan bulannya dan hitunglah kesempurnaan bulan menjadi tiga puluh hari. Penakwilan – penafsiran,pen- seperti ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang menjelaskan dengan gamblang apa yang dimaksud, yaitu riwayat yang telah lalu dari sabda beliau ‘genapkanlah bilangan bulan menjadi menjadi tiga puluh hari’.

Demikianlah yang menjadi adab kita sebagai seorang muslim dalam memahami hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak memahami sesuai dengan pola pikir dan pemahaman yang sudah terlanjur bercokol. Akan tetapi dikembalikan kepada metode penafsiran yang terbaik, yaitu dalam hal ini mengembalikan penafsirannya kepada hadits-hadits yang serupa dalam menjelaskan jumlah bilangan dan menentukan awal bulan hijriyyah.

Bukan malah dikembalikan kepada ilmu hisab yang dikenal sekarang ini. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi juga bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ

Kami adalah umat yang ummiyyah, tidak menulis dan tidak pula berhisab. Jumlah bulan adalah demikian dan demikian, yaitu terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari. HR. al-Bukhari dan Muslim.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan:

وَالْمُرَاد بِالْحِسَابِ هُنَا حِسَاب النُّجُومِ وَتَسْيِيرهَا ، وَلَمْ يَكُونُوا يُعْرَفُونَ مِنْ ذَلِكَ أَيْضًا إِلَّا النَّزْر الْيَسِير ، فَعَلَّقَ الْحُكْمَ بِالصَّوْمِ وَغَيْره بِالرُّؤْيَةِ لِرَفْعِ الْحَرَجِ عَنْهُمْ فِي مُعَانَاةِ حِسَاب التَّسْيِير

وَاسْتَمَرَّ الْحُكْمُ فِي الصَّوْمِ وَلَوْ حَدَثَ بَعْدَهُمْ مَنْ يَعْرِفُ ذَلِكَ ، بَلْ ظَاهِر السِّيَاقِ يُشْعِرُ بِنَفْيِ تَعْلِيقِ الْحُكْمِ بِالْحِسَابِ أَصْلًا وَيُوَضِّحُهُ قَوْلُهُ فِي الْحَدِيثِ الْمَاضِي ” فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ ” وَلَمْ يَقُلْ فَسَلُوا أَهْل الْحِسَاب ، وَالْحِكْمَة فِيهِ كَوْنُ الْعَدَدَ عِنْدَ الْإِغْمَاءِ يَسْتَوِي فِيهِ الْمُكَلَّفُونَ فَيَرْتَفِعُ الِاخْتِلَاف وَالنِّزَاع عَنْهُمْ ،

وَقَدْ ذَهَبَ قَوْم إِلَى الرُّجُوعِ إِلَى أَهْل التَّسْيِير فِي ذَلِكَ وَهُمْ الرَّوَافِضُ ، وَنُقِلَ عَنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ مُوَافَقَتُهُمْ . قَالَ الْبَاجِي : وَإِجْمَاع السَّلَف الصَّالِح حُجَّة عَلَيْهِمْ . وَقَالَ اِبْن بَزِيزَةَ : وَهُوَ مَذْهَبٌ بَاطِلٌ فَقَدْ نَهَتْ الشَّرِيعَةُ عَنْ الْخَوْضِ فِي عِلْمِ النُّجُومِ لِأَنَّهَا حَدْسٌ وَتَخْمِينٌ لَيْسَ فِيهَا قَطْعَ وَلَا ظَنٌّ غَالِب ، مَعَ أَنَّهُ لَوْ اِرْتَبَطَ الْأَمْر بِهَا لَضَاقَ إِذْ لَا يَعْرِفُهَا إِلَّا الْقَلِيل .

Dan yang dimaksud dengan hisab di sini (dalam hadits, pen) adalah hisab nujum – menghitung bintang dan perjalanannya. Dan mereka – yaitu bangsa Arab tidak dikenal sebagai ahli perbintangan pula kecuali hanya segelintir orang. Sehingga hukum terhadap puasa dan selainnya adalah dilandasi dengan ru’yah – melihat hilal – untuk menghilangkan kesusahan pada mereka dalam mempelajari ilmu hisab perjalanan bintang.

Dan hukum ini terus berlanjut meskipun setelah generasi mereka ada orang-orang yang mengetahuinya. Bahkan zhahir teks memberikan kesimpulan dinafikannya keterkaita hukum (penentuan awal bulan hijriyah-pen) dengan hisab secara total. Dan kesimpulan ini diperjelas oleh sabda beliau dalam hadits:

فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ

Juga terhalangi atas kalian maka lengkapkanlah bilangan menjadi tiga puluh hari.

Bukannya beliau mengatakan;

فَسَلُوا أَهْل الْحِسَاب

Bertanyalah kepada ahli hisab – ilmu perjalanan bintang –

Hikmah pada yang demikian ini adalah keadaan jumlah hitungan bulan ketika terhalangi adalah sama bagi mereka yang sudah mukallaf sehingga akan menghilangkan perbedaan pendapat dan perselisihan dari mereka.

                Dan ada suatu kaum yang berpendapat mengembalikan permasalahan ini kepada ahli ilmu hisab, dan kaum itu adalah kalangan Rafidhah. Juga dinukilkan persetujuan atas ini dari sebagian kalangan fuqaha’.

                Al-Baji mengatakan: Ijma’ as-Salaf ash-Shalih menjadi hujah yang menghantam mereka.

                Ibnu Bazizah mengatakan: Madzhab itu – mengembalikan penentuan hilal kepada ilmu hisab, pen – adalah madzhab yang batil. Syari’at telah melarang umatnya dari mendalami ilmu nujum karena semata dugaan dan persangkaan, tidak ada kepastian padanya dan tidak ada pula dugaan yang kuat. Selain pula ketika perintah ini dikaitkan dengan ilmu hisab akan menjadi kesempitan karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali hanya sedikit kalangan.

Selesai penukilan.

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberikan kejelasan dalam agama ini sehingga malamnya seperti siangnya, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang-orang yang binasa. Dalam hal ini sebagian kalangan merasa lebih berilmu dan mengetahui kenyataan karena hidup di masa modern serba canggih, dibandingkan dengan kehidupan pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang baru menggunakan unta saja sebagai kendaraannya. Sedangkan dalam melihat hilal hanya dengan mata telanjang, belum ada teropong bintang yang sehabat sekarang.

Demikianlah nasib sebagian kaum muslimin dalam hal cara pandang.

Semoga Allah ta’ala memberikan taufik dan hidayah kepada seluruh kaum muslimin di negeri ini dan di negeri yang lain agar mau kembali kepada bimbingan dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak mengembalikan agamanya kepada perasaan dan teori-teori yang baru muncul belakangan ini.