Bismillahirrahmanirrahim

Pada kesempatan kali ini akan kita simak bersama penuturan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari terkait dengan pengangkatan/penunjukan/pemilihan orang non-muslim sebagai orang kepercayaan, entah sebagai kepala negara atau wakilnya, atau wakil kepala daerah, sebagai guru, sebagai sekretaris, teman dekat, atau selainnya. Ibnu Hajar membawakan riwayat dari jalur ‘Iyadh al-Asy’ari dari Abu Musa:

أَنَّهُ اِسْتَكْتَبَ نَصْرَانِيًّا فَانْتَهَرَهُ عُمَر ” وَقَرَأَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُود وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء } الْآيَة . فَقَالَ أَبُو مُوسَى ” وَاَللَّه مَا تَوَلَّيْته وَإِنَّمَا كَانَ يَكْتُب ” فَقَالَ : ” أَمَا وَجَدْت فِي أَهْل الْإِسْلَام مَنْ يَكْتُب لَا تُدْنِهِمْ إِذْ أَقْصَاهُمْ اللَّه ، وَلَا تَأْتَمِنهُمْ إِذْ خَوَّنَهُمْ اللَّه ، وَلَا تُعِزَّهُمْ بَعْدَ أَنْ أَذَلَّهُمْ اللَّه

Bahwasanya ia (Abu Musa al-Asy’ari) menunjukkan seorang beragama Nasrani sebagai juru tulis. Lalu Umar menghardiknya dan membacakan ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُود وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). (QS. al-Maidah: 51)

Kemudian Abu Musa menjawab: Demi Allah, aku tidak mengangkatnya sebagai pimpinan, ia hanya sekadar menuliskan.

Kemudian Umar menjawab lagi: Apakah kamu tidak mendapati dari kalangan pemeluk agama Islam yang bisa menulis? Janganlah kamu menjadikan mereka sebagai orang dekat padahal Allah telah menjauhkan mereka. Janganlah kamu mempercayai mereka setelah Allah menyatakan mereka sebagai para pengkhianat. Jangan pula engkau memuliakan mereka setelah Allah menghinakan mereka. (Fathul Bari, bab: Yustahab lil Katib an Yakuna Aminan ‘Aaqilan – Dianjurkan Bagi Seorang Juru Tulis Seorang yang Terpercaya dan Seorang yang Cerdas)

                Demikianlah teladan yang disampaikan oleh al-Khalifah ar-Rasyid Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Yaitu hendaklah kita sebagai seorang muslim menjadikan saudara-saudara kita dari kalangan kaum muslimin sebagai orang kepercayaan kita. Bukan malah menjadikan orang kafir, entah Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, atau bahkan orang komunis dan anti agama sebagai teman atau sebagai pimpinan pemangku jabatan di negeri kita.

                Ibnu Katsir menjelaskan kandungan ayat di atas dalam tafsirnya yang terkenal. Beliau rahimahullah mengatakan:

“Allah Ta’ala melarang para hamba-Nya yang beriman dari mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mereka adalah musuh-musuh Islam dan para pemeluk agama Islam. Semoga Allah memerangi (menghancurkan) mereka. kemudian Allah menjelaskan bahwa sebagian dari mereka adalah sebagai pelindung/pimpinan bagi yang lain. Setelah itu Allah menghardik dan mengancam orang yang melakukan ini (mengangkat/memilih/menunjuk orang kafir sebagai pimpinan dst-pen). Allah Ta’ala berfirman (dalam kelanjutan atas di atas):

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ [ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ]

Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Setelah itu Ibnu Katsir membawakan kisah yang mirip dengan apa yang dibawakan oleh Ibnu Hajar. Bahkan dalam kisah yang dibawakan Ibnu Katsir Abu Musa mengatakan: Kemudian Umar menghardikku (memarahiku) dan memukul pahaku. Lalu berkata: Usir mereka.

                Kemudian Ibnu Katsir membawakan riwayat dari Muhammad bin Sirin dari Abdullah bin Utbah: Jangan sampai kalian menjadi seorang Yahudi atau Nasrani dalam keadaan tidak menyadarinya.

Di antara ciri orang yang ada keraguan dan kebimbangan

Pada ayat berikutnya Allah Ta’ala menjelaskan keadaan orang yang pada hatinya ada keraguan atau kebimbangan. Allah Ta’ala berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (QS. al-Maidah: 52)

Ibnu Katsir menjelaskan tentang penyakit yang ada dalam hati, yaitu: syak(ragu), raib(ragu), dan nifak (kemunafikan).

Di antara sifat orang yang ragu dan munafik adalah bersegera mendekati orang-orang kafir, yaitu bersegera menjadikan mereka sebagai kepercayaannya dan mencintai mereka baik secara lahir maupun batin.

Orang-orang yang ragu dan orang-orang munafik akan banyak mencari alasan dalam ia memilih atau mengangkat orang kafir sebagai wakil atau kepercayaannya. Di antaranya adalah sebagaimana pada ayat ini. Yaitu mereka beralasan dengan kekhawatiran terhadap orang-orang kafir bisa menancapkan kukunya pada kaum muslimin. Sehingga ketika mereka memiliki jasa pada orang Yahudi dan Nasrani (dengan mengangkat mereka sebagai pimpinan, kepercayaan, wakil kepala daerah, atau anggota parlemen) maka yang demikian akan memberikan manfaat bagi kaum muslimin ketika kaum kafir bisa menancapkan kukunya pada kaum muslimin. (selesai penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir dengan beberapa penyesuaian)

Mungkin masih ada sekian banyak alasan dan dalih yang akan mereka ajukan untuk membenarkan tindakan mereka dalam mengangkat dan menjadikan orang-orang kafir (Yahudi, Nasrani, dll) sebagai orang dekat, wakil di parlemen, sebagai kepala daerah, dsb. Mungkin di antara alasan itu adalah:

–          Menarik suara dan simpati dari orang-orang kafir,

–          Melaksanakan prinsip persamaan hak suara dalam pemilu,

–          Negara ini bukan negara Islam[1]

–          Demi terlaksananya demokrasi

–          Dll

Alasan apapun yang mereka ajukan tetaplah menunjukkan penyakit yang ada dalam hatinya. Ada keraguan dalam hatinya terhadap Islam dan kaum muslimin. Ada kebimbangan pada dirinya terhadap kebenaran Islam. Padahal banyak di antara mereka yang menggunakan gelar haji dan hajjah, namun ……..

Dengan ini kita bisa mengenali orang-orang yang ragu dalam berislam.

Masih terdapat sekian banyak ayat yang menjelaskan kepada kita hakikat yang sesungguhnya pada orang-orang kafir dan musyrik. Semoga pemaparan singkat ini memberikan tambahan ilmu dan kemantapan iman dalam diri kita tentang kebenaran Islam. Tidak ragu terhadap Islam dan apa yang Allah janjikan bagi para pembelanya.

 

Beberapa kesimpulan:

1. Di antara ciri-ciri orang yang ada keraguan dan kebimbangan dalam dirinya adalah memilih orang kafir sebagai teman dekat, sekertaris, wakil, atau kepala daerah.

2. Di antara ciri-ciri orang munafik adalah mengangkat dan memilih orang kafir sebagai teman dekat, sekertaris, wakil, atau kepala daerah.

3. Ancaman bagi orang yang menjadikan orang kafir sebagai sekertaris atau kepala daerah.

4. Keimanan menuntut amalan nyata, yaitu menjadikan orang-orang yang beriman sebagai orang dekatnya dan menjauhkan orang-orang kafir. Dengan demikian semakin jelas kebusukan ucapan orang yang mengatakan “iman wargaku tidak terpengaruh walaupun datang 1000 orang seperti dia untuk pentas”, atau kata-kata yang senada.

5. Seorang yang beriman memiliki patokan yang jelas dalam memilih teman dekat atau pemangku jabatan.

6. Kaum muslimin tidak seharusnya terkecoh oleh gelar-gelar yang menipu seperti kyai haji atau hajjah atau ustadz namun ternyata kelompok, partai, atau organisasinya mengangkat orang-orang kafir. Ada lagi yang menjadikan dedengkot syiah sebagai anggota parlemen dan menggelarinya dengan kyahi haji. Inilah di antara bentuk penipuan dan makar yang dilancarkan terhadap kaum muslim. Akan tetapi akankah kaum muslimin sadar terhadap makar dan tipu daya ini?

Semoga Allah memberikan kemantapan iman dan ilmu yang benar kepada seluruh kaum muslimin, sehingga bisa keluar dari jebakan-jebakan politik dan makar-marak lainnya. Amiin.

[1] Memang negara ini tidak menjadikan Islam sebagai landasan negara, tetapi ingat bahwa mayoritas penduduknya beragama Islam yang sekaligus menjadi elemen terbesar pembentuk negara ini. Lalu apakah kaum muslimin akan dikebiri keyakinan dan prinsip-prinsip agamanya, sementara agama lain diberi kebebasan dan kelonggaran yang sangat lunak untuk melemahkan iman dan keyakinan kaum muslimin lalu menjadi alergi kepada agamanya sendiri, bahkan memandangnya sebagai pengekang, atau bahkan bisa menjadikan kaum muslimin keluar dari agamanya.

Demikianlah pemaksaan demi pemaksaan ditimpakan kepada kaum muslimin agar jumlah mereka menjadi lemah dan jumlah mereka menjadi sedikit lalu akan mudah untuk dibantai dan ditindas. Perhatikanlah nasib kaum muslimin yang minoritas di negara-negara lain, Rohingya, Filipina, dll. Belum lagi pembantaian kaum muslimin di wilayah Maluku pada tahun 1999 yang hanya dengan izin Allah Ta’ala semata kaum muslimin bisa mempertahankan diri di Ambon dan sekitarnya. Siapakah yang peduli dengan nasib kaum muslimin? Akankah ada yang mau peduli kepada mereka?