Bismillahirrahmanirrahim

Menyamakan orang baik dengan orang jahat tentu suatu penilaian yang tidak waras. Demikian pula menyamakan antara seorang ahli dan pakar dengan orang yang tidak tahu sama sekali adalah metode yang tidak sehat. Lalu bagaimanakah dalam menempuh hidup yang penuh dengan ujian dan fitnah ini?

Pada tema kali ini akan kita simak sebagian kandungan ayat dari surat al-An’am no ayat 122. Allah Ta’ala berfirman:

 أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati Kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. al-An’am: 122)

Tentang ayat ini al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penjelasan berikut:

“Permisalan dalam ayat ini Allah Ta’ala menjadikannya sebagai permisalan antara seorang mukmin yang semula sudah mati, yaitu (berkubang) dalam kesesatan, dalam keadaan celaka lagi kebingungan. Kemudian Allah menghidupkannya. Yaitu Allah menjadikan hatinya hidup dengan iman dan Allah memberikan hidayah kepadanya serta taufik sehingga ia mengikuti rasul-rasul-Nya.

 وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,

yaitu dengan cahaya itu ia bisa mengetahui bagaimana ia akan menempuh (kehidupan di tengah-tengah manusia-pen). Ia juga mengetahui bagaimana ia harus berbuat.

Dan an-nur (di sini) adalah al-Qur’an sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dan Ibnu Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Sedangkan as-Suddi menyatakan: (an-nur) adalah Islam.

Namun kedua penafsiran di atas adalah shahih (benar).

كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ

serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam kegelapan yang gelap gulita

Ibnu Katsir menjelaskan: “(Kegelapan yang gelap gulita ini) adalah kebodohan, hawa nafsu, dan berbagai kesesatan yang beraneka ragam.”

لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا

yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?

Ibnu Katsir menjelaskan: “Yaitu ia tidak mendapatkan petunjuk ke arah jalan keluar dan solusi dari apa yang ia sedang terperosok di dalamnya.”

Kemudian Ibnu Katsir membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الله خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ ثُمَّ رَشَّ عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ ذلِكَ النُّورُ اِهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ

Bahwasanya Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan kemudian menyiramkan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya. Sehingga barang siapa yang terkena cahaya itu maka ia menjadi orang yang mendapatkan petunjuk dan barang siapa yang luput dari cahaya itu maka ia menjadi orang yang sesat.

Ibnu Katsir melanjutkan penjelasannya:

“Ini sebagaimana yang Allah firmankan:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.(QS. al-Baqarah: 257)

Dan sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمَّنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus? (QS. al-Mulk: 22)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

مَثَلُ الْفَرِيقَيْنِ كَالأعْمَى وَالأصَمِّ وَالْبَصِيرِ وَالسَّمِيعِ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا أَفَلا تَذَكَّرُونَ

Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada perbandingan itu)?.(QS. Hud: 24)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَا يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ * وَلا الظُّلُمَاتُ وَلا النُّورُ * وَلا الظِّلُّ وَلا الْحَرُورُ * وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ * إِنْ أَنْتَ إِلا نَذِيرٌ

Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas. Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.(QS. Fathir: 19-23)

Dan ayat tentang masalah ini (perbedaan antara kafir dan mukmin-pen) sangat banyak jumlahnya.

Dan sisi kesesuaian dalam pembuatan permisalan di sini dengan cahaya dan kegelapan adalah sebagaimana telah dikemukakan pada permulaan surat al-An’am:

وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ

Dan Allah menjadikan kegelapan yang banyak dan (satu) cahaya.” Selesai penukilan.

Tentang penggunaan bentuk jamak untuk kegelapan dan kata tunggal untuk cahaya maka Ibnu Katsir menjelaskan ketika menafsirkan surat al-An’am ayat 1: “Allah menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan kegelapan dan menggunakan kata tunggal ketika menyebukan cahaya karena cahaya lebih mulia.” Selesai penukilan.

Beberapa kesimpulan:

1. Orang yang beriman berbeda kedudukannya dengan orang kafir. Orang beriman jauh mulia di atas orang kafir.

2. Menempuh hidup di dunia ini sangat butuh kepada bimbingan Ilahi agar bisa lurus, seimbang, dan adil. Tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Bimbingan ilahi itu adalah wahyu yang ada dalam al-Qur’an dan as-sunnah dan dipraktikan oleh para sahabat.

3. Kegelapan itu adalah kebodohan, hawa nafsu, dan berbagai kesesatan yang beraneka ragam

4. Menyamakan hak suara dalam demokrasi antara muslim dengan kafir adalah hukum yang tidak adil. Tentang ketidakadilan ini pun telah dinyatakan oleh banyak kalangan di antaranya adalah seseorang bernama S.N. Dubey. Menurutnya ada beberapa sisi buruk sistem pemerintahan demokrasi:

1. prinsip persamaan hak yang tak waras

Demokrasi berbasis terhadap anggapan bahwa manusia semua sama atau sederajat, karena mereka akrab dan memiliki hal serupa didalam mental, spiritual dan kwalitas moral. Akan tetapi para pengkritik demokrasi membantah bahwa anggapan tersebut mustahil. Manusia tampak sangat luas berbeda di dalam figur jasmani, stamina moral, dan kapasitas untuk belajar dengan berlatih dan pengalaman. Demokrasi adalah sebuah ide yang tidak mungkin dan juga tidak logis. Untuk memberikan hak setiap individu dalam memilih merupakan hal yang merusak perhatian masyarakat. [1]

Kemudian S.N. Dubey membawakan sejumlah keburukan sistem demokrasi sebagaimana yang dibawakan oleh penulis artikel berjudul DEMOKRASI ADALAH SEBAGAI ALAT, BUKAN SEBAGAI TUJUAN.

Dalam kehidupan sehari-hari pun seorang dokter spesialis tidak akan mau disamakan dengan dokter muda, apalagi dengan penjahat yang hanya bisa merusak dan mengacaukan suasana.

5. Permisalan orang yang mendapatkan hidayah seperti orang yang hidup dengan penuh cahaya, sedangkan orang yang tersesat dalam kegelapan hawa nafsu dan kesesatan seperti orang yang mati.

6. Jalan kebenaran hanya satu, sedangkan jalan kesesatan dan kegelapan banyak jumlahnya dan beragam. Sehingga menuntut kita untuk berhati-hati dan senantiasa memohon kepada Allah agar mendapatkan hidayah. Oleh karena itu kita diperintahkan oleh Allah untuk meminta petunjuk jalan yang lurus minimal 17 kali dalam sehari, yaitu dalam surat al-Fatihah.

7. Orang yang tidak mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala tidak akan bisa keluar dari gelapnya kesesatan dan hawa nafsunya.

8. Orang yang mengetahui jalan yang lurus sangat sedikit jumlahnya, apalagi yang mau menjalaninya jauh lebih sedikit. Sementara orang yang mengikuti kesesatan dan hawa nafsu akan jauh lebih banyak jumlahnya, sehingga tidak heran dalam sistem demokrasi para mafia dan penjahat bisa naik menjadi pejabat dan berkuasa. Sebagai bukti di tingkat desa/kelurahan ada orang terpilih sebagai kades/lurah adalah orang yang dikenal sebagai penjahat/mafia, sedangkan lawannya dalam pilkades/pilurah adalah orang yang senang kepada kebaikan dan lebih dekat kepada orang-orang yang baik. Ini adalah kenyataan pahit yang menimpa masyarakat dan negeri ini. Sehingga tidak heran jika korupsi dan berbagai tindak kejahatan semakin marak sebagaimana pernah disinggung pada pembebasan terdahulu.

Tentunya kita semua sepakat ingin menuju Indonesia yang damai, aman, sentosa, sejahtera, dan menjadi teladan bagi negara-negara lain. Namun mengapa harus demokrasi yang dijadikan sarana. Padahal demokrasi sendiri hanyalah sarana dan alat, bukan tujuan. Dan demokrasi sendiri tidak menjamin kesejahteraan dan kedamaian sebagaimana yang diharapkan bersama. Sebagian orang barat pun telah menyatakan demikian.

Semoga Allah memberikan petunjuk kepada negeri ini dan kepada pemegang kebijakan di negeri ini agar mau kembali kepada keadilan yang sesungguhnya dan keamanan yang hakiki. Amin.

[1]DEMOKRASI ADALAH SEBAGAI ALAT, BUKAN SEBAGAI TUJUAN, Oleh: Drs. Dewa Ketut Suryawan.

Penukilan ini bukan untuk mempromosikan nama atau karya seseorang, namun hanya sekadar menukilkan saja. Mohon maaf penukilan ini dicari melalui bantuan google, sehingga sangat mudah bagi para pembaca untuk mencari judul yang kami nukil di sini.