Bismillahirrahirrahmanirrahim

Pembahasan tentang hakikat iman yang bisa naik dan bisa turun telah kita bahas dalam beberapa pembahasan terdahulu. Dan pada pembahasan terakhir telah kita simak dalil-dalil dari as-sunnah tentang keadaan iman yang bisa naik dan bisa turun, bahkan bisa hilang sama sekali.

Masih terkait dengan pembahasan iman yaitu iman yang paling lemah adalah mengingkari kemungkaran dengan hati saja. Maka pada pembahasan kali ini akan kita simak sebuah hadits yang menjelaskan bahwa hati bisa menghitam dan terbalik. Sangat tepat kiranya untuk kita telaah bersama hadits ini karena pada masa-masa sekarang ini – mendekati pemilu – banyak yang mengaku hatinya bersih dan putih serta tidak berkhianat. Lalu benarkah pengakuannya itu? Atau malah sebenarnya telah hitam dan terbalik hatinya, hanya saja karena ia telah dibalut dengan gemerlapnya dunia yang hina ini menyebabkan banyak yang terpesona dan terpedaya lalu mendukungnya.

Sungguh sangat terjungkilbaliknya negeri ini karena ulah kita sendiri.

Pembahasan ini bukanlah untuk mengajak kaum muslimin memilih kepada salah satu calon pilihan yang ada. Namun hanya sekadar untuk memberikan sedikit timbangan dalam memilih. Agar jangan sampai kaum muslimin yang mayoritas di negeri ini menjadi bulan-bulan musuh-musuhnya yang telah siap mencabik-cabik dan melahapnya. Perhatikanlah keadaan di negeri-negeri lain seperti Palestina, Suriyah, Iraq, Libiya, Mesir, dan lain-lain. Belum lagi keadaan kaum muslimin yang minoritas di negeri-negeri yang penduduknya non muslim. Sungguh keadaan mereka sangat merana dan tersiksa.

Bahkan peristiwa pembantaian kaum muslimin di Ambon masih belum lama terjadi, sekitar tahun 1999. Apakah itu semua masih belum cukup untuk menjadikan kita sadar bahwa kita sedang dalam incaran untuk dicabik-cabik dan dicerai berai lalu dihabisi? Apakah itu semua harus menimpa diri kita terlebih dahulu baru kemudian mau menyadarinya?

Sudah berapa kali musibah dan bencana yang bertubi-tubi menimpa negeri kita, masihkah kita tidak menyadari bahwa kita telah banyak melakukan penyimpangan, kesalahan, kemaksiatan, dan dosa? Masihkah kita tidak peduli kepada iman yang kita sandang? Haruskah bencana menimpa diri kita sendiri baru kemudian sadar? Atau malah tidak menyadarinya sama sekali, bahkan semakin menentang dan berprasangka buruk kepada Allah subhanahu wa ta’ala?

Dikarenakan kebodohan yang sudah sedemikian akutnya, maka sangat mudahnya orang-orang yang hitam hatinya dan terbalik mengatakan dirinya putih bersih lalu ia pun mendapatkan sambutan dan suara, laa haula wa laa quwwata illa billahi.

Sebagai pencerahan untuk kaum muslimin dimana saja maka kita akan simak kandungan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya. Al-Imam an-Nawawi membuat judul bab yang memuat hadits yang akan kita simak nantinya, beliau rahimahullah mengatakan:

باب بيان أن الإسلام بدأ غريبا وسيعود غريبا

bab: Bayan annal Islam Bada-a Ghariban wa Saya’udu Ghariban … (Bab: Penjelasan bahwa Islam Mulai Muncul dalam Keadaan Asing dan akan Kembali Asing …).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاه

Fitnah akan membekas pada hati seperti tikar yang membekas (pada tubuh orang yang berbaring di atasnya-pen) sehelai demi sehelai. Sehingga hati yang menyerap fitnah itu akan ada padanya titik hitam. Dan hati yang mengingkarinya akan terdapat padanya titik putih. Sehingga hati akan terbagi menjadi, yaitu hati yang putih seperti batu  Shafa sehingga hati itu tidak terpengaruh oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi. Dan hati yang lain berwarna hitam mengkilap seperti periuk yang terbalik, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali sebatas apa yang diserap oleh hawa nafsunya.

 

Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim telah memberikan penjelasan tentang hadits di atas. Dan berikut ini adalah ringkasan dari penjabaran beliau:

1. Para pakar bahasa (Arab) menyatakan: Asal kata fitnah dalam pembicaraan orang Arab bermakna ibtila’ (الابتلاء), imtihan (الامتحان), dan ikhtibar (الاختبار). Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan: Kemudian dalam kebiasaan pembicaraan bermakna untuk semua perkara yang disingkapkan oleh ujian/cobaan tentang kejelekannya. Abu Zaid mengatakan:

فُتِنَ الرَّجُل يُفْتَن فُتُونًا

Seseorang mendapatkan fitnah,

(Dikatakan demikian) apabila ia terjatuh dalam fitnah dan bergeser dari keadaan yang baik menuju keadaan yang buruk. Selesai penukilan.

Dengan demikian makna  kata fitnah bukanlah fitnah dalam KBBI, yaitu perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang. Karena makna seperti ini dalam bahasa Arab diungkapkan dengan buhtan (البهتان) atau kadzib (الكذب) Akan tetapi maknanya adalah ujian dan cobaan yang menyebabkan seseorang bisa berubah keadaannya yang semula berperilaku baik atau taat menjadi berperilaku buruk atau meninggalkan ketaatan.

Sehingga apabila dikatakan seseorang terfitnah oleh keluarga dan hartanya maka yang dimaksud adalah ia terlalaikan dari melakukan banyak kebaikan (amalan ketaatan) dikarenakan ia sibuk dengan keluarga atau urusan hartanya.

Sebagai contoh:

–          Seseorang tidak lagi rajin shalat berjamaah di masjid karena banyak pelanggannya.

–          Seseorang tidak lagi menyantuni dan memerhatikan orang tuanya yang sudah tua karena takut kepada istrinya yang cantik.

–          Seseorang melakukan tindakan mencuri dan korupsi agar anaknya bisa kuliah, atau anaknya bisa mengendarai kendaraan mewah ketika sekolah atau kuliah.

Semoga beberapa contoh di atas bisa memberikan gambaran yang mendekatkan kepada asal makna kata fitnah dalam kebiasaan bahasa Arab. Yaitu berubah yang semula rajin shalat ke masjid namun karena banyak pelanggannya sehingga shalat berjamaah ditinggalkan, bahkan shalat wajib ditinggalkan sama sekali. Semula baik kepada orang tuanya namun karena khawatir istrinya minta cerai berubah sikap terhadap orang tuanya. Dan seterunya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالكُمْ وَأَوْلَادكُمْ فِتْنَة

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.(QS. at-Taghabun: 15)

Fitnah ini bisa berbentuk menyia-nyiakan dan menelantarkan hak keluarga yang harus ditunaikan. Ia tidak menjalankan hak anak dan istrinya, tidak memberikan bimbingan adab, tidak mengajarkan ilmu dan bimbingan Islam kepada istri dan anaknya (kalau tidak mampu mengajarkan ilmu agama setidaknya membawa mereka ke majelis-majelis ilmu, bukan majelis tertawa dan lelucon).

Sebagai seorang laki-laki dan kepala keluarga ia menjadi penanggung jawab mereka. Kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang anggota keluarganya. Selesai penukilan dengan sedikit diringkas.

Bentuk fitnah bagi laki-laki yaitu tidak memerhatikan pendidikan agama istri dan anaknya. Ia biarkan anak-anaknya berkeliaran di jalan-jalan menjadi sampah jalanan. Ia biarkan istrinya berboncengan dan bersendau gurau dengan laki-laki lain. Seakan ia terbebaskan dari kewajiban mengawasi dan membimbing mereka. Atau yang lebih parah mengikuti prinsip kebebasan dan memilih jalan. Masa bodoh, itu hak mereka, istri biar ‘gaul’, anak-anak biar tidak kuper, dan sekian banyak alasan akan diucapkan untuk melegalisasi cara pandangnya ini. Cara pandang orang yang tidak lagi “peduli”, padahal gembar-gembor di sana sini sebagai orang yang ‘peduli’. Entahlah pedulinya kepada siapa?

Kalau sudah demikian jangan heran apabila kerusakan meraja lela. Pembunuhan bayi, pemerkosaan, pelecehan seksual, dan sekian juta penyakit masyarakat merebak dan menjadi akut. Tidak lain karena kurangnya kepedulian dan rasa tanggung jawab dari masing-masing pihak. Yang lebih dikejar adalah kemewahan materi, jabatan, dan kebebasan menjamah dan melihat wanita yang diinginkan.

2. Perumpaan fitnah yang akan merubah seseorang yang semula baik dan lurus menjadi buruk dan menyimpang adalah seperti membekasnya anyaman tikar pada badan orang yang tidur di atasnya seutas demi seutas. Yaitu fitnah akan berpengaruh satu demi satu sehingga lambat laun hati akan menghitam, mati, dan terbalik.

3. Fitnah akan menyebabkan timbulnya titik hitam padanya. Sedangkan hati yang mengingkarinya akan muncul padanya warna putih.

4. Kemudian hati terbagi menjadi dua:

1). Hati yang putih dan kokoh yang tidak terpengaruh oleh fitnah selama masih ada langit dan bumi karena ia mengingkarinya, bukan malah menonton dan menyaksikan kemungkaran. Apalagi memberikan dukungan, fasilitas, dan jaminan terselanggaranya pentas kemungkaran seperti miss world.

2). Hati yang hitam dan terbalik seperti yang periuk yang terbalik. Yaitu tidak mengetahui mana yang ma’ruf dan tidak pula mengingkari yang mungkar. Lalu bagaimana dengan orang yang mendukung dan memfasilitasi miss world?

Al-Imam an-Nawawi menukilkan penjelasan al-Qadhi ‘Iyadh: (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyerupakan hati yang tidak bisa menampung kebaikan dengan periuk yang terbalik sehingga air tidak bisa lagi tertampung di dalamnya.

Demikianlah wahai kaum muslimin, penjelasan yang sedemikian terangnya bagi kita dalam menilai mana yang benar-benar putih bersih dan mana yang sebenarnya hitam dan telah terbalik.

Semoga sekilas pemaparan ini memberikan tambahan ilmu dan pencerahan bagi kaum muslimin di negeri ini dalam menentukan pilihan.

Sebelum itu pantaskah sebenarnya diri kita memilih seseorang untuk menjadi presiden atau penentu kebijakan di negeri ini? Bukankah sekian polemik dan problem semakin parah dan merajalela di negeri ini? Korupsi, kejahatan seksual, pembunuhan anak dan bayi, penculikan anak, perampokan, pemerasan, dan sekian banyak kejahatan yang semakin marak dan vulgar. Mengapa itu semua menimpa negeri ini dan semakin menjadi?  Bukankah semua sepakat untuk memerangi korupsi, memerangi kejahatan, memerangi ketidakadilan, yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah di depan hukum? Bukankah ini semua adalah penyakit yang harus kita tangani bersama?

Perhatikanlah diri kita ketika terkena sakit, bukankah kita akan memilih dokter spesialis dan sudah berpengalaman untuk mengobatinya? Atau memilih pakar kesehatan dan terapis yang ahli dan terpercaya bersertifikat untuk menangani penyakit kita?

Belum lagi dalam peraturan kedokteran apabila seseorang melakukan tindakan pengobatan namun menyalahi aturan atau karena tidak ahli dan bukan orang yang memiliki sertifikat akan dihukum dengan hukuman yang sangat berat? Mengapa demikian? Tentunya karena sakit yang ditanganinya akan semakin parah, bahkan bisa menyebabkan si pasien kehilangan nyawa.

Nah, demikian pula dalam memilih orang-orang yang akan mengurus negeri ini. Apabila salah memilih sangat dimungkin akan menyebabkan kita sendiri binasa.

Sudahkah kita memiliki pengetahuan yang cukup dan keahlian dalam memilih mereka? Atau hanya berdasar pada warna bendera dan nomor urut? Yang lebih parah lagi hanya berdasar kaos seharga Rp. 15.000 yang diberikan kepadanya lalu ia memandang partai ini bagus karena “aku telah diberi kaosnya”. Atau karena telah diberi sejumlah uang untuk berhura-hura?

Sekali lagi semoga hadits yang kita telaah sebagian kandungannya bisa menjadi pegangan dalam menilai dan menentukan pilihan bagi mereka yang akan memilih.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين