Bismillahirrahmanirrahim

Sebagian ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa iman bisa naik dan bisa turun telah kita simak pada pembahasan terdahulu. Dan telah kita sertakan pula sebagian kesimpulan dan faedah penting pada akhir pembahasan tersebut. Pada pembahasan kali ini kita akan simak bersama sebagian hadits yang menjelaskan bahwa iman bisa naik dan bisa turun.

Hadits pertama:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Iman ada 70 sekian cabang atau 60 sekian cabang. Dan yang paling utamanya adalah ucapan Laa ilaahaa illallah dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Sedangkan iman adalah cabang dari iman. HR. Muslim.

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menukilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah:

وَقَدْ نَبَّهَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَنَّ أَفْضَلهَا التَّوْحِيد الْمُتَعَيِّن عَلَى كُلّ أَحَد ، وَاَلَّذِي لَا يَصِحّ شَيْء مِنْ الشُّعَب إِلَّا بَعْد صِحَّتِهِ . وَأَدْنَاهَا مَا يُتَوَقَّع ضَرَره بِالْمُسْلِمِينَ مِنْ إِمَاطَة الْأَذَى عَنْ طَرِيقهم

“Nabi shallallahi ‘alahi wa sallam telah memberikan penjelasan bahwa cabang iman yang paling utama adalah tauhid yang diwajibkan atas setiap orang (untuk mengucapkannya-pen) dan cabang ini cabang yang tidak akan sah sama sekali cabang iman yang lain kecuai setelah cabang yang paling ini sah. Sedangkan cabang iman yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang dikhawatirkan akan mengganggu kaum muslimin.”

Dari penjelasan ini kiranya cukup jelas bahwa iman bertingkat-tingkat. Ada cabang yang menjadi dasar bagi seluruh cabang iman yang lain, yaitu kalimat Laa ilahaa illallah atau kalimat tauhid yang merupakan miftahul jannah. Cabang yang apabila seseorang tidak mau mengucapkannya maka ia tidak tergolong sebagai kaum muslimin. Cabang yang apabila telah mengucapkannya namun melakukan perbuatan atau ucapan yang meruntuhkan/membatalkannya maka ia akan tetap di dalam kerak neraka yang paling dasar seperti nasib kaum munafikin yang sebagian sifatnya telah disinggung pada judul sebelum ini (Dalil dari Kitabullah bahwa Iman Bisa Naik dan Bisa Turun).

Dan ada pula cabang yang apabila tidak dikerjakan maka iman seseorang tidak hilang, masih tetap ada keimanan padanya hanya saja kurang imannya karena tidak menjalankan cabang tersebut.

Dengan demikian iman bisa naik dan bisa turun, bahkan bisa hilang dan tidak memberi manfaat bagi orang yang mengaku memiliki iman. Semoga Allah menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amalan saleh serta keteguhan iman dan husnul khatimah.

Hadits kedua:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَف الْإِيمَان

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya, maka apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu (pengingkaran dengan hati-pen) adalah selemah-lemahnya iman. HR. Muslim[1]

Pada hadits di atas telah dijelaskan tingkatan iman yang paling rendah adalah mengingkari kemungkaran dengan hati. Sedangkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim pula[2] bahwa iman bisa hilang ketika tidak ada pengingkaran dalam hati terhadap suatu kemungkaran. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَا مِنْ نَبِيّ بَعَثَهُ اللَّه فِي أُمَّته قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّته حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَاب يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ . ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُف مِنْ بَعْدهمْ خُلُوف يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ ، وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ . فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِن . وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِن . وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِن . لَيْسَ وَرَاء ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَان حَبَّة خَرْدَل

Tidak ada seorang nabi pun sebelumku yang diutus oleh Allah di tengah umatnya kecuali ia memiliki hawariyyun dari umatnya itu dan para pengikut yang mengambil sunnahnya dan meneladani perintahnya. Kemudian muncul setelah generasi hawariyyun dan pengikut nabi ini generasi (yang buruk/jelek) yang mengucapkan perkataan yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan apa yang mereka tidak diperintah untuk mengerjakannya. Sehingga barang siapa yang berjihad (melawan/menghadapi) mereka (generasi yang jelek ini-pen) dengan tangannya maka ia seorang mukmin. Dan barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin, dan barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka ia seorang mukmin. Dan tidak ada sebesar biji sawi pun dari keimanan setelah ini (pengingkaran dengan hati-pen).

Sangat jelasnya hadits ini dan yang sebelumnya menjelaskan bahwa iman bisa naik dan bisa turun, bahkan  bisa hilang. Yaitu tidak ada sebesar biji sawi pun dari keimanan padanya lantaran ia tidak mengingkari keimanan dengan hatinya. Lalu bagaimana halnya dengan mereka yang dengan sengaja memarakkan kemaksiatan dan kemungkaran di tengah-tengah kaum muslimin?

Sebenarnya masih banyak hadits lain yang menjelaskan bahwa iman bisa berkurang dan bertambah.

Dalil dari as-Sunnah yang Menunjukkan bahwa Iman bisa Hilang

Adapun dalil yang menunjukkan iman bisa hilang maka banyak jumahnya pula selain hadits di atas, di antaranya adalah:

Hadits pertama:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah ia. HR. al-Bukhari

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang mengganti agamanya (semula beragama Islam) kemudian memilih agama yang lain, maka diterapkan hukum bunuh padanya.

Hadits ini dipraktikkan oleh al-Khalifah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu terhadap sekelompok kalangan Rafidhah yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Ali bin Abu Thalib. Kaum itu adalah kalangan Sabaiyyah, pembesar kalangan ini adalah Abdullah bin Saba’ yang semula beragama Yahudi kemudian menampakkan diri berislam lalu ia memunculkan perkataan dan keyakinan-keyakinan kufur tersebut.

Setelah al-Khalifah Ali bin Abu Thalib meminta mereka bertaubat dan menjelaskan bahwa diri beliau hanyalah manusia biasa yang butuh makan dan butuh minum namun mereka tetap bersikukuh pada keyakinan bahwa Ali bin Abu Thalib memiliki sifat ketuhanan, maka dibuatkanlah parit kemudian mereka dimasukkan ke dalamnya lalu ditimpakan di atas mereka kayu bakar lalu dibakar oleh Sang Khalifah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu. Selesai diringkas dari Fathul Baari karya Ibnu Hajar[3], dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad kisah ini adalah hasan. Wallahu a’lam.

Hadits dan tindakan Khalifah Ali bin Abu Thalib radhiyallanhu menunjukkan bahwa seseorang yang telah masuk Islam dengan mengucapkan dua syahadat bisa menjadi kafir ketika meyakini atau melakukan amalan yang membatalkan syahadatnya.

Kemudian tindakan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu yang memerangi para pengikut Musailamah al-Kadzdzab bisa dijadikan sebagai pendukung kesimpulan di atas, yaitu orang yang sudah bersyahadat atau mengaku beriman maka imannya bisa hilang dan ia keluar dari lingkup keimanan atau dengan kata lain menjadi murtad.

Demikian pula langkah Khalifah Abu Bakar dalam memerangi orang-orang murtad, yang kemudian dalam sejarah dikenal dengan qital ahli riddah (atau perang menumpas kaum murtaddin).

Hadits kedua:

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Jika meninggalkannya maka ia telah kafir. HR. at-Tirmidzi.

Dijelaskan dalam Syarh at-Tirmidzi berjudul Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud adalah perjanjian antara kaum muslimin dengan kaum munafikin. Dan sebagai batas perjanjian ini adalah shalat dengan makna shalat sebagai pelindung darah mereka sehingga tidak boleh ditumpahkan (ketika mereka melaksanakan shalat-pen). Sehingga shalat berkedudukan seperti perjanjian yang ada antara kaum muslimin dengan kaum kafir mu’ahad (kaum kafir yang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin).

Sehingga makna hadits ini adalah apabila mereka (kaum munafikin) meninggalkan shalat maka perlindungan bagi darah mereka sudah terlepas dan mereka telah masuk dalam hukum orang kafir yang berhak diperangi.

Kemudian penulis Tuhfatul Ahwadzi membawakan penjelasan al-Qadhi ‘Iyadh berikut ini:

“Bahwa kata ganti orang ketiga pada sabda beliau وَبَيْنَهُمْ (dan dengan mereka) adalah untuk kaum munafikin. (Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam) menyerupakan shalat yang membuat mereka masih dibiarkan dan dijaga darah mereka dengan perjanjian yang menyebabkan kafir mu’ahad masih dibiarkan dan dijaga darah mereka. Dan kandungan makna dari hadits ini adalah bahwa pemberlakuan hukum-hukum Islam terhadap orang-orang munafik disandarkan pada keadaan mereka yang menyerupai kaum muslimin dalam menghadiri shalat jamaahnya dan mengikuti hukum-hukum yang bersifat lahiriyah. Apabila mereka meninggalkannya maka mereka dan orang kafir menjadi sama saja.”

Kemudian ditambahkan penjelasan oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi:

“Ada yang berpendapat bahwasanya kata ganti ini bisa bersifat umum, yaitu mencakup  orang yang berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dari kalangan orang munafik atau bukan dari kalangan munafikin. Pendapat ini didukung oleh sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan kepada Abu Darda’:

لَا تَتْرُكْ صَلَاةً مَكْتُوبَةً مُتَعَمِّدًا فَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ

Jangan kamu meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, karena barang siapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka perjanjian telah terlukar darinya. (HR. Ibnu Majah)”

Hadits ketiga:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa yang mendatangi dukun (para normal) lalu ia membenarkan apa yang dikatakan (oleh si dukun itu) maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.

Dan lainnya dari sekian banyak hadits yang menjelaskan kafirnya pelaku suatu perbuatan. Semoga sebagian hadits ini sudah mencukupi sebagai contoh dan sebagai pelajaran bagi kita.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashhabihi ajma’in.

Beberapa kesimpulan dan faedah:

  1. Cabang-cabang iman ada yang tertinggi dan ada yang terendah.
  2. Cabang iman tertinggi dan paling mendasar adalah kalimat Laa ilaaha illallah.
  3. Orang yang mengerjakan sebagian cabang iman tapi tidak mau mengucapkan cabang tertingginya maka tetap tidak berguna amalan iman yang ia lakukan itu.
  4. Cabang-cabang iman apabila ditinggalkan ada yang menjadikan seseorang imannya tidak ada dan ada pula yang menjadikan imannya berkurang namun tidak keluar dari lingkup orang-orang beriman.
  5. Pentingnya mendalami ilmu agama agar tidak terjerumus dalam kekafiran dan kesyirikan tanpa sadar.
  6. Kedudukan shalat wajib dalam Islam yang sangat penting. Orang Islam yang meninggal shalat wajib dengan sengaja terancam kekafiran.
  7. Adanya perbedaan pendapat tentang orang yang meninggalkan shalat wajib karena malas. Namun para imam sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat wajib karena meyakininya tidak wajib baginya maka ia menjadi kafir. Demikian pula dengan orang yang mengerjakan shalat wajib lima waktu namun meyakininya sebagai amalan yang tidak wajib baginya, maka para ulama bersepakat bahwa orang ini dihukumi kafir.
  8. Agama Syiah Rafidhah adalah agama di luar Islam, sehingga Khalifah Ali bin Abu Thalib membunuh mereka dengan dibakar setelah meminta mereka bertaubat dan memerintahkan  mereka untuk kembali kepada ajaran Islam.
  9. Di antara bukti kelengahan sebagian kaum muslimin adalah memilih orang-orang yang berpemahaman Syiah sebagai pimpinannya.
  10. Bukti lain kelemahan kaum muslimin adalah terpilihnya orang kafir sebagai pimpinan daerah atau wakil di lembaga pemerintahan di wilayah yang mayoritasnya adalah kaum muslimin.
  11. Bahaya perdukunan.

[1] Bab: Bayan Kaun an-Nahyi ‘anil Mungkar minal Iman

[2] Bab: Bayan Kaun an-Nahyi ‘anil Mungkar minal Iman

[3] Lihat Fathul Baari no hadits 6411 (19/379 versi Maktabah Syamilah)