Bismillahirrahmanirrahim

Pada beberapa pembahasan terdahulu telah kita ketahui bahwasanya iman bisa bertambah dan berkurang dan yang menjadi kewajiban bagi kita adalah menjaga iman agar tetap terjaga dan tidak berkurang, apalagi menjadi hilang. Bahkan kita dianjurkan untuk semakin meningkatkan iman kita dengan melakukan berbagai amalan saleh.

Pada kesempatan kali ini akan kita simak bersama dalil-dalil dari al-Qur’an bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, bahkan bisa hilang sehingga pelakunya menjadi murtad.

 

Ayat pertama:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka. (QS. al-Anfal: 2)

Yang menjadi dalil dari ayat di atas adalah firman Allah Ta’ala:

زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

… bertambahlah iman mereka.

Ayat kedua:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. al-Fath: 4)

Yang menjadi dalil dari ayat di atas adalah:

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka

Ayat ketiga:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran:173)

Yang menjadi dalil dari ayat di atas adalah:

فَزَادَهُمْ إِيمَانًا

… maka perkataan itu menambah keimanan mereka

Ayat keempat:

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَر

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan (neraka Saqar/peringatan-peringatan) itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. (QS. Surat al-Muddatstsir:31)

Dan yang menjadi dalil dari ayat di atas adalah:

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

dan supaya orang yang beriman bertambah imannya

Beberapa ayat di atas menunjukkan dengan gamblangnya bahwa iman bisa bertambah. Di samping juga memberikan kepada kita sejumlah adab dan perilaku seorang mukmin. Walillahil hamdu wal minnah.

Adapun sebagian ayat yang menunjukkan iman bisa berkurang adalah firman Allah Ta’ala berikut:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِير

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir:32)

Dalam ayat di atas Allah membagi orang yang diberi karunia berupa kitabullah menjadi tiga golongan, yaitu:

  1. ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ (menganiaya dirinya sendiri)
  2. مُقْتَصِدٌ (pertengahan)
  3. سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (lebih dahulu berbuat kebaikan)

Adapun orang yang menzhalimi dirinya sendiri adalah orang berkurang imannya karena melakukan perbuatan kemaksiatan.

Sebagian ayat  yang menunjukkan iman bisa hilang

Sedangkan ayat yang menjelaskan seseorang bisa keluar dari golongan orang-orang beriman di antaranya adalah:

Ayat pertama:

لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS. at-Taubah: 66)

Ayat ini berkaitan dengan orang-orang munafik yang telah mengucapkan dua syahadat namun mereka melakukan perbuatan atau mengucapkan perkataan yang meruntuhkan syahadat mereka, yaitu mengolok-olok Allah dan ayat-ayat-Nya, juga mengolok-olok dan Rasul-Nya. Orang-orang munafik itu mengatakan: “Aku tidak melihat para ahli qiraah kita ini (yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) kecuali hanyalah orang-orang yang rakus terhadap makanan, paling sering berdusta dengan lisannya, dan paling penakut ketika menghadapi peperangan.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Ayat ini sekaligus menjadi ancaman bagi mereka yang berani melecehkan dan merendahkan para sahabat, yaitu perbuatan ini adalah perbuatan orang-orang munafik.

Lalu masihkah kaum muslimin belum bisa mengambil pelajaran dari ini? Sehingga mereka masih saja tergiur dan terpesona oleh kelihaian dan kepandaian sebagian dai yang merendahkan martabat para sahabat, lalu menjadikannya sebagai pimpinan dan teladan atau sebagai wakilnya di parlemen dan lain-lain?

Ayat kedua:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِين

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Rabbmu), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. az-Zumar:65)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

“Ayat di atas mirip dengan ayat ini:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُون

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS. al-An’am: 88)

Yaitu andaikan para nabi itu berbuat syirik kepada Allah maka semua amalan yang mereka lakukan akan musnah dan sirna, dan mereka akan termasuk dari golongan orang-orang yang merugi.

Dua ayat di atas menjadi ancaman besar bagi kita. Karena para nabi saja yang mereka adalah orang-orang pilihan Allah untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia, apabila mereka melakukan kesyirikan maka amalan mereka akan musnah dan mereka tergolong sebagai orang-orang yang merugi. Demikianlah ancaman bagi pelaku kesyirikan, walaupun tergolong dari kalangan para nabi tetap diancam dengan ancaman yang sangat berbahaya ini.

Lalu bagaimana diri kita? Akankah kita membiarkan diri kita latah mengikuti kebanyakan manusia yang tidak tahu dan tidak bisa membedakan antara syirik dan tauhid? Bahkan menyamakan antara agama tauhid dengan agama kesyirikan dan kekafiran dengan alasan semua agama mengajarkan kebaikan?

Masih banyak lagi ayat yang menjelaskan iman bisa hilang dari seseorang meskipun mengaku mukmin dan muslim, meskipun mengucapkan Laa ilaaha illallah ribuan kali.

Ayat tentang orang munafik yang kekal dalam neraka di kerak neraka bersama orang-orang kafir patut untuk senantiasa kita renungi dan ingat agar jangan sampai kita tergolong orang munafik dalam keadaan tidak menyadarinya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. (QS. an-Nisa’:145-146)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya. Amiin.

Beberapa kesimpulan dan faedah:

  1. Pentingnya memahami dan mendalami iman dengan benar.
  2. Syirik adalah dosa yang sangat berbahaya dan dosa paling besar sehingga wajib untuk dipelajari dengan baik apa saja yang termasuk perbuatan syirik agar bisa menghindarinya.
  3. Ancaman bagi orang-orang munafik.
  4. Di antara perbuatan orang munafik adalah mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Di antara sifat orang yang beriman adalah tidak gentar terhadap ancaman dan gertakan musuhnya, bahkan ia akan semakin bertambah iman dan semakin bertawakal kepada Allah Ta’ala.
  6. Pentingnya menyebarkan ilmu yang benar di tengah-tengah kaum muslimin, terlebih tentang tauhid, iman, dan kesyirikan karena masih banyak kaum muslimin yang tidak bisa membedakan antara iman dan kekafiran, serta syirik dan tauhid. Bahkan sebagian kalangan telah memahaminya dengan terbalik. Wallahul musta’an.
  7. Di antara bukti kurangnya pemahaman agama pada kaum muslimin:
  • Sebagian berpandangan bahwa semua agama adalah baik, ujungnya adalah sama yaitu menyembah Yang Maha Esa.
  • Sebagian yang lain memandang tidak ada beda antara muslim dan kafir, atau muslim dengan nasrani, atau muslim dengan pemeluk agama yang lain. Baik muslim, nasrani, yahudi, orang hindu, budha dan lain-lain adalah sama dan sederajat, tidak perlu dibeda-bedakan.
  • Sebagian yang lain tidak mengetahui bahayanya perbuatan syirik padahal syirik adalah kejahatan dan kezhaliman terbesar di muka bumi ini.
  • Sebagian yang lain tidak peduli terhadap iman dan tauhid. Dia menganggap tidak penting untuk mendalami dan memahami dengan baik apa itu iman dan kekafiran serta tauhid dan syirik. Yang terpenting baginya adalah bisa bekerja dan mengumpulkan harta atau tetap memiliki kedudukan dan pamor.
  • Sebagian yang lain ikut-ikutan menyerukan persatuan agama-agama samawi.