Pada judul terdahulu telah kita ketahui bahwa kemaksiatan akan berpengaruh pada iman kita. Sehingga yang menjadi kewajiban bagi kita adalah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga iman agar tidak menjadi lemah terlebih menjadi hilang. Pada pembahasan kali ini kita akan melihat pernyataan para imam Ahlusunnah terkhusus dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka adalah generasi mukminin pertama serta pernyataan para imam Ahlussunnah setelah mereka.

1. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

Dahulu Umar memegangi tangan satu atau dua orang lalu mengatakan:

تَعَالَوا حَتَّى نَزْدَادَ إِيمَانًا

Kemarilah agar kita bisa menambah iman. (Tafsir al-Baghawi)

2. Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

إن الإيمان يبدو لُمْظَة بيضاء في القلب، فكلما ازداد الإيمان عظما ازداد ذلك البياض حتى يبيض القلب كله، وإن النفاق يبدو لمظة سوداء في القلب فكلما ازداد النفاق ازداد ذلك السواد حتى يسود القلب كله، وايم الله لو شققتم عن قلب مؤمن لوجدتموه أبيض ولو شققتم عن قلب منافق لوجدتموه أسود (3)

Iman itu pertama muncul seperti titik putih dalam hati. Ketika iman semakin besar maka warna putih itu akan semakin bertambah hingga hati keseluruhannya menjadi putih. Dan kemunafikan pertama kali muncul seperti titik hitam dalam hati. Lalu setiap kali kemunafikannya bertambah maka warna hitam itu semakin bertambah banyak hingga hati menjadi hitam semua. Dan demi Allah jika kalian membelah hati seorang mukmin maka pastilah kalian akan mendapatinya berwarna merah. Dan jika kalian membelah hati seorang munafik maka pastilah kalian akan mendapatinya hitam. (Tafsir al-Baghawi)

3. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu mengatakan:

اللَهُمّ زِدْنا إِيمانا ، ويَقينا ، وفِقْها

Ya Allah berikanlah kepada kami tambahan keimanan, yakin, dan fikih (pemahaman). (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah karya al-Lalakai)

4. Abdulllah bin Abbas, Abu Hurairah, dan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhum mengatakan:

الإِيمانُ يَزيدُ ويَنْقُص

Iman bisa bertambah dan berkurang. (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah karya al-Lalakai)

 

5. Mujahid rahimahullah, beliau seorang tabi’in dan pakar tafsir. Beliau menafsirkan ayat 124-125 dari surat at-Taubah:

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?” …

Beliau mengatakan:

هذه الآية إِشَارَة إِلَى الْإِيمَانِ: يَزِيدُ وَيَنْقُصُ

 “Ayat ini sebagai isyarat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang.” (Tafsir al-Baghawi)

 

6. Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah, beliau salah seorang dari guru-guru al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, beliau mengatakan:

أَهْلُ السُّنَة يقولون : الإِيمانُ قولٌ وعمل

Ahlussunnah menyatakan: iman adalah ucapan dan perbuatan. (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah karya al-Lalakai)

 

7. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

الإِيمانُ قولٌ وعمل ، يزيدُ وينقص ، يزيدُ بالطاعة وينقص بالمعصية ، ثم تلا : { وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

Iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

Kemudian beliau membaca ayat:

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

dan supaya orang yang beriman bertambah imannya. (QS. al-Muddatstsir: 31) (Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani)

 

8. Imam Ahlussunnah Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan:

 

الإِيمانُ يَزيدُ وَيَنْقُص ؛ فَزِيادَتُهُ بالعَمَلِ ، ونُقْصَانُهُ بِتَرْكِ العَمَل

 

Iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambahnya iman adalah dengan amalan, dan berkurangnya karena meninggalkan amalan. (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah karya al-Lalakai)

Demikianlah pernyataan para ulama dan para imam Ahlussunnah wal Jama’ah generasi awal, mereka mengatakan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena melakukan ketaatan dan berkurang karena melakukan kemaksiatan. Bahkan bisa berkurang hingga tidak ada lagi keimanan padanya, alias murtad.

 Setelah mengetahui hakikat sebenarnya keadaan iman seseorang yang bisa bertambah dan berkurang, maka yang menjadi kewajiban kita adalah menjaga iman kita. Jangan sampai iman kita telah hilang dalam keadaan tidak menyadarinya. Sekaligus sangat berhati-hati terhadap pernyataan sebagian tokoh yang dikatakan telah mencapai tingkat ‘wali’ sehingga mengatakan: “Bagiku minum khamer bagaikan minuman air putih biasa” atau dengan kata lain “Tidak mengapa bagiku untuk menenggak khamer”, yaitu baginya khamer telah halal karena telah mencapai tingkatan ‘wali’.

Ada pula yang mengatakan: “Zina tidak haram bagiku karena aku telah mencapai tingkatan yang belum kalian raih.”

Ada pula yang mengatakan: “Tidak mengapa menyentuh perempuan yang bukan mahram bagiku. Tidak ada getaran sama sekali padaku. ”

Pada pembahasan terdahulu telah kita nukilkan pernyataan sebagian tokoh: “Iman tidak terpengaruh oleh maksiat. Walaupun ada 1000 seperti dia[1]  yang datang ke Indonesia maka iman ‘wargaku’ tidak akan goyah.”

Wahai kaum muslimin seperti inikah tokoh yang kalian angkat sebagai pimpinan, atau kalian katakan sebagai teladan dan ‘wali’? Bukankah sangat berbeda dengan pernyataan para imam terdahulu?

Kalau sudah tidak merasa sakit karena melakukan dosa, maka sangat dikhawatirkan iman telah tiada. Atau mungkin bisa kita katakan: Iman tidak akan goyah oleh maksiat karena memang sudah tidak ada iman.

Wallahu a’lam bishshawab.


[1] Maaf nama penyanyi itu sengaja tidak kami sebutkan di sini, cukup dengan isyarat saja semoga difahami.