Beberapa bulan yang lalu negeri ini digoncang dengan rencana kedatangan seorang penyanyi ‘kelas internasional’ yang selalu tampil dengan mengumbar auratnya di setiap pentasnya. Padahal sebagian negara kafir menolak kedatangannya karena akan menimbulkan dampak buruk bagi para pemuda dan pemudi. Namun sangat ironis di negeri ini, negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Ia malah mendapatkan dukungan dan pembelaan dari beberapa tokoh dan sejumlah kalangan agar bisa pentas di Indonesia.

Dan belumlah lama berselang telah terlaksana dengan suksesnya suatu pentas mengumbar aurat kelas internasional yang dikemas dengan kata-kata dan nama yang menarik dan menggiurkan, tidak lain adalah ‘miss …’. Sehingga kesuksesan acara tersebut semakin menambah jelas upaya orang-orang kafir dan munafik untuk melemahkan iman kaum muslimin yang sekaligus pula melemahkan negeri ini. Sungguh sangat dan sangat ironisnya.

Di antara pembelaan dan dukungan untuk kedatangan seorang biduan kelas internasional itu muncul dari seorang tokoh agama yang mengatakan: “Iman tidak terpengaruh oleh maksiat. Walaupun ada 1000 seperti dia yang datang ke Indonesia maka iman ‘wargaku’ tidak akan goyah.” Demikian kurang lebihnya pernyataannya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan dia, dan seluruh kaum muslimin. Amin.

Juga sangat menyedihkan pula adanya pernyataan yang senada  yang muncul dari seorang penyanyi yang cukup sering didengar oleh banyak telinga. Ia berang ketika si ‘penyanyi internasional’  itu dilarang tampil di Indonesia lalu menyatakan perkataan yang semakna dengan si tokoh di atas. Ia merasa sakit ketika kaum muslimin berupaya mempertahankan dan menjaga imannya, salah satunya dengan meminimalisir kemungkaran dan tindakan mengumbar aurat, yaitu dengan menolak kedatangan dan pentasnya.

Demikianlah nasib kaum muslimin di negeri ini. Iman mereka tidak lagi mendapatkan perlindungan dan perhatian dari para tokohnya, yang ada malah upaya untuk semakin melemahkan iman mereka. Tidak ada yang ‘berani pasang dada’ untuk melindungi iman kaum muslimin. Yang ada malah ‘pasang dada’ untuk membela Ahmadiyah dan Syi’ah yang jelas-jelas bukan dari golongan kaum muslimin, laa haulaa wa laa quwwata illa billah.  Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuataan dan kekokohan iman kaum muslimin di negeri ini. Amin.

Iman itu ucapan dan perbuatan, bisa berkurang dan bertambah

Terkait dengan pernyataan sebagian tokoh yang telah disinggung di atas yaitu: “Iman tidak terpengaruh oleh maksiat. Walaupun ada 1000 seperti dia yang datang ke Indonesia maka iman ‘wargaku’ tidak akan goyah.” Maka kita akan menelaah bersama pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang iman.

Imam asy-Syafii menjelaskan:

عن الربيع بن سليمان قال: «سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ: اَلْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ»

dari Rabi’ bin Sulaiman bahwa ia berkata: Aku mendengar asy-Syafii berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. (Syu’abul Iman al-Baihaqi)

Dijelaskan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya:

Iman yang syar’i dan yang dituntut tidak lain kecuali berupa keyakinan, perkataan, dan amalan. Dan demikianlah yang dipegangi oleh mayoritas para imam. Bahkan telah dihikayatkan oleh asy-Syafii, Ahmad bin Hambal, Abu ‘Ubaid, dan selain mereka sebagai ijma’, yaitu bahwa iman itu berupa ucapan dan perbuatan, bisa berkurang dan bertambah. (Ibnu Katsir, surat al-Baqarah:3)

            Demikianlah hakikat iman menurut kesepakatan para imam, juga sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Yaitu iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dan iman bisa bertambah dan berkurang. Sehingga iman bukan semata keyakinan atau pengakuan dalam hati saja, atau semata ma’rifat (mengetahui). Akan tetapi mencakup perkataan dan perbuatan, yaitu perkataan hati dan lisan serta perbuatan hati dan anggota badan. Makna ini sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hasan al-Bashri rahimahullah:

لَيْسَ الإِيمانُ بالتَحلي وَلا بالتَمَنّي ، وَلَكِنْ مَا وَقَرَ في القُلوب وَصدقَتْهُ الأَعْمالُ

Iman bukanlah hanya sekadar dengan berhias dan tidak pula dengan semata angan-angan. Akan tetapi iman itu adalah apa yang terpatri dalam hati dan dibenarkan dengan amalan.

                Sehingga sangat terlihat dengan jelasnya kontradiksi yang ada antara pernyataan para imam, di antaranya adalah al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dengan sebagian tokoh di atas. Oleh karena kita sebagai kaum muslimin harus semakin meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian, karena ternyata keimanan kita menjadi target operasi untuk dilemahkan dan digerus dengan berbagai cara, makar, dan tipu daya. Lalu iman menjadi lemah dan bahkan ditargetkan tidak ada lagi iman pada kaum muslimin. Dengan kata lain menjadi murtad dan mengikuti agama Yahudi atau Nasrani atau selainnya, yang penting bukan Islam.

Atau yang lebih samar lagi menjadi orang yang bertuliskan beragama Islam di KTP atau identitas lainnya namun pada hakikatnya telah hilang imannya, bahkan membenci Islam. Dengan kata lain berubah menjadi orang munafik.  Semoga Allah memberikan keselamatan pada agama dan dunia kita amin.

Iman bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan

                Upaya dan usaha musuh Islam dan kaum muslimin semakin terlihat dengan jelas ketika kita mengetahui hakikat iman yang bertambah dan berkurang. Yaitu mereka berusaha dengan menggunakan berbagai cara agar kemaksiatan dan kemungkaran di negeri ini semakin menyebar dengan luas dan semakin marak. Mereka telah memahami apabila kaum muslimin tersadar dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaga imannya, maka negeri ini akan menjadi negeri yang besar dan ditakuti. Akan menjadi negeri yang kuat dan makmur sebagaimana yang kita harapkan bersama. Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Nah…, agar negeri ini lemah maka salah satu unsur terbesarnya harus dilemahkan, yaitu rakyat yang mayoritasnya beragama Islam. Selain pula dengan melemahkan pamor pemerintah dan kekuatan militernya. Mereka sangat memahami bahwa keimanan kaum muslimin akan semakin melemah dengan kemungkaran dan kemaksiatan yang merajalela dan terpampang di hadapan mata.

Demikian itulah iman, yaitu bertambah kuat karena ketaatan dan berkurang atau lemah karena kemaksiatan. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah telah menjelaskannya dalam perkataannya di bawah ini sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari:

الإِيمانُ قولٌ وعمل ، يزيدُ وينقص ، يزيدُ بالطاعة وينقص بالمعصية ، ثم تلا : { وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

Iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Ia bisa bertambah dan berkurang. Iman akan bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Kemudian al-Imam asy-Syafi’i membaca ayat ini:

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya (QS. al-Muddatsir: 31)

Demikianlah yang bisa kita telaah pada judul kali ini. Pada kesempatan berikutnya akan kita saksikan – insya Allah – pernyataan para imam tentang bertambah dan berkurangnya iman serta iman itu mencakup ucapan dan perkataan.

Beberapa kesimpulan

  1. Di antara keyakinan yang harus diyakini oleh setiap muslim adalah bahwa iman itu ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
  2. Seorang muslim harus berusaha menjaga dan menaikkan imannya dengan beramal saleh
  3. Seorang muslim berusaha menjaga imannya agar tidak berkurang dengan menjauhi maksiat
  4. Pengaruh amalan dan perkataan terhadap hati manusia dan keyakinannya.
  5. Adanya hubungan antara hati dengan amalan lahir.
  6. Pernyataan sebagian tokoh terkemuka yang bertentangan dengan al-Qur’an, as-sunnah, dan pernyataan para imam, di antaranya adalah pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. Tokoh itu mengatakan: Iman tidak terpengaruh oleh perbuatan maksiat.
  7. Pentingnya mendalami ilmu agama agar tidak mudah tertipu oleh para penipu yang berkedok sebagai dai, tukang ceramah, kiyai, keturunan kiyai, dan seterusnya dari berbagai kedok yang membuat terkecoh, terlena dan tertipu.
  8. Makar musuh Islam dan musuh kaum muslimin terus menerus dilancarkan untuk melemahkan kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin wajib meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.