Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah menjelaskan tentang para pencela sahabat:

Abu Bakar al-Khallal meriwayatkan dalam kitab as-Sunnah:

ذكر عند مالك بن أنس رجلا ينتقص ، فقرأ : بسم الله الرحمن الرحيم ( محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التوراة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطأه فآزره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار) ، فقال مالك : « من أصبح وفي قلبه غيظ من أصحاب محمد عليه السلام فقد أصابته الآية

“Pernah disampaikan di hadapan (al-Imam) Malik bin Anas seseorang yang mencela (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam), kemudian al-Imam Malik bin Anas membacakan ayat:

محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التوراة ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطأه فآزره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيظ بهم الكفار

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). (QS. al-Fath: 29)

Kemudian al-Imam Malik berkata: Barang siapa yang ada pada hatinya kedengkian (benci ataupun marah-pen) terhadap para sahabat Muhammad ‘alaihissalam maka ayat ini telah mengenainya.” (as-Sunnah karya al-Khallal no. 765 versi al-Maktabah asy-Syamilah)

Yang dimaksud adalah keberadaan para sahabat sebagai sarana untuk membuat jengkel dan sesak hati orang-orang kafir. Sehingga orang yang pada hatinya ada kebencian atau kedengkian terhadap sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah terkena ayat ini. wallahu a’lam.

Dalam riwayat yang lain al-Khallal membawakan pernyataan al-Imam Ahmad yang menukilkan pernyataan al-Imam Malik:

اَلَّذِي يَشْتُمُ أَصْحَابَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ ، أو قال : نَصِيبٌ فِي الْإِسْلَامِ

Orang yang mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada bagian baginya. Atau ia mengatakan: tidak ada bagian dalam Islam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 789)

Pernyataan al-Imam Ahmad rahimahullah:

Siapakah Rafidhah itu?

Al-Imam Ahmad menjawab:

الَّذِي يَشْتُمُ وَيَسُبُّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَحِمَهُمَا الله

Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar rahimahumallah. (as-Sunnah karya al-khallal: 787)

مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلُ الرَّوَافِضِ ، ثم قال : مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِي صلى الله عليه وسلم لَا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ

Barang siapa yang mencela (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka aku aku mengkhawatirkan kekafiran padanya seperti kalangan Rafidhah. Kemudian berkata lagi: Barang siapa yang mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita khawatirkan ia telah keluar dari agama. (as-Sunnah karya al-Khallal: 790)

Pernah disampaikan kepada al-Imam Ahmad tentang orang yang mencela Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, maka beliau menjawab:

هذه زَنْدَقَة

Ini adalah zindiq. (as-Sunnah karya al-Khallal: 791)

Kemudian al-Khallal mendengar langsung dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal:

“Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang mencela salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau (al-Imam Ahmad) menjawab:

مَا أَرَاهُ عَلَى الْإِسْلَامِ

Aku memandangnya tidak di atas Islam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 792)

Al-Imam Ahmad mengatakan:

مَنْ تنقص أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَلَا يَنْطَوِي إِلَّا عَلَى بَلِيَّة ، وَلَهُ خَبِيئَةُ سُوءٍ ، إِذَا قَصَدَ إِلَى خَيْرِ النَّاسِ ، وَهُمْ أَصْحَابُ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم

Barang siapa yang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tidaklah ia akan terguling kecuali di atas musibah (kesulitan dan kesempitan). Dan ada padanya sesuatu keburukan yang tersembunyi, yaitu ketika yang ia tuju (dengan celaanya itu-pen) adalah orang-orang terbaik, yaitu mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (as-Sunnah karya al-Khallal: 763)

Kesimpulan:

1. Para imam empat madzhab, yaitu al-Imam Abu Hanifah, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, dan al-Imam Ahmad rahimahumullah sangat memuliakan kedudukan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Para imam yang empat mencela, bahkan memandang sekte atau orang yang mencela sahabat telah sesat bahkan tidak lagi di atas Islam. Dan pada hatinya ada  keburukan dan kejahatan yang disembunyikan.

Maka berhati-hatilah wahai kaum muslimin, jangan sampai kalian tertipu dan terkecoh oleh rayuan-rayuan dan slogan-slogan menyesatkan seperti ‘menjaga persatuan Sunni-Syiah’ atau semacamnya walaupun yang mengucapkannya adalah seorang doktor, kiyai atau seorang terkenal sekalipun, atau gelar apapun yang disematkan padanya, seperti gelar ‘Imam Syafi’i’nya zaman sekarang.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada saya dan seluruh kaum muslimin.