Hanyalah semata karena rahmat dari Allah Ta’ala pada kali ini bisa kita bawakan pernyataan-pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah terkait dengan sikap yang seharusnya ditempuh dan dipegangi oleh setiap muslim di hadapan ‘sunnah’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

                Pada judul sebelumnya kita telah mengetahui penilaian al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah tentang orang yang menolak ‘sunnah’ atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Pada judul kali ini kita akan bawakan pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang kami nukilkan dari kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya adz-Dzahabi rahimahullah[1], yaitu pernyataan-pernyataan beliau terkait dengan ‘sunnah’ kemudian kita tambahkan beberapa faedah yang penting dari masing-masing perkataan beliau :

1. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i pertama:

وعن الشافعي قال: مَا كَابَرَنِي أَحٌَد عَلَى الْحَقّ وَدَافَعَ، إِلَّا سَقَطَ مِنْ عَيْنِي، وَلَا قَبِلَهُ إِلَّا هِبْتُهُ، وَاعْتَقَدْتُ مَوَدَّتَهُ .

Diriwayatkan dari asy-Syafi’i bahwa ia mengatakan: Tidak ada orang yang besar bagiku di hadapan al-haq namun ia menolaknya, kecuali pastilah ia sebagai orang yang jatuh (martabatnya) dalam pandangan mataku. Dan tidaklah ia menerimanya kecuali aku akan segan kepadanya, dan aku meyakini ia wajib untuk dicintai.

Faedah penting:

1. Tidak ada orang besar di hadapan al-haq. Al-haq harus lebih dicintai dan didahulukan atas siapapun.

2. Orang yang menolak al-haq siapapun itu maka ia seorang yang jatuh martabat, kedudukan, dan kehormatannya.

3. seorang yang menerima al-haq sudah seharusnya dihormati dan dicintai. Sehingga membela dan loyal adalah berdasar pada sikap seseorang dalam menerima al-haq, atau dengan ungkapan yang lain “Cinta dan benci karena Allah”, bukan karena kelompok dan golongan meskipun dirasa banyak pengikutnya.

2. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i kedua:

عبدالله بن أحمد بن حنبل: سمعت أبي يقول: قال الشافعي: أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِالأَخْبَارِ الصِّحَاحِ مِنَّا، فَإِذَا كَانَ خَبَرٌ صَحَيحٌ، فَأَعْلِمْنِي حَتَّى أَذْهَبَ إِلَيْهِ، كُوفِيًّا كَانَ، أَوْ بَصْرِيًّا، أَوْ شَامِيًّا

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hambal: Aku mendengar ayahku berkata: asy-Syafi’i telah mengatakan: “Anda (maksudnya adalah al-Imam Ahmad-pen) lebih mengetahui tentang akhbar (riwayat-riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) yang shahih daripada kami. Apabila memang riwayatnya shahih maka beritahukanlah kepadaku agar aku bisa berpegang dengan riwayat itu. Baik riwayat itu berasal dari orang Kufi, Bashrah, ataupun Syam.

Faedah:

1. Keutamaan al-Imam Ahmad rahimahullah.

2. Semangat dan antusias al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam mencari hadits yang shahih.

3. Tidak pandang bulu apakah hadits yang shahih itu diriwayatkan dari orang Bashrah, Kufah, atau selainnya. Yang menjadi patokan utama adalah hadits yang shahih berdasar syarat-syaratnya.

3. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i ketiga:

 وقال حرملة: قال الشافعي: كُلُّ مَا قُلْتُهُ فَكَانَ مِنْ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم خِلَافُ قَوْلِي مِمَّا صَحَّ، فَهُوَ أَوْلَى، وَلَا تُقَلِّدُونِي

Harmalah berkata: asy-Syafi’i mengatakan: Semua yang aku telah nyatakan namun ada (riwayat) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyelisihi pendapatku, yaitu dari riwayat yang shahih, maka riwayat (dari Nabi shallallahu ‘alaihi) lebih pantas (untuk diterima dan diikuti-pen) dan janganlah kalian taklid kepadaku.

Faedah:

1. Hadits yang shahih harus diterima meskipun bertentangan denangan pendapat pribadi atau kelompok dan organisasi.

2. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah telah memberikan wasiat untuk tidak taklid kepada perkataannya, sehingga tidak selayaknya bagi orang yang mengaku bermadzhab dengan madzhab beliau menolak hadits yang shahih dengan alasan tidak sesuai dengan madzhab Syafi’iyyah atau pendapat ustadzku, guruku, kiyaku, atau syaikhku.

 4. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i keempat:

قال الربيع: سمعت الشافعي يقول: إِذَا وَجَدْتمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَقُولُوا بِهَا، وَدَعُوا مَا قُلْتُهُ.

 Ar-Rabi’ mengatakan: Aku mendengar asy-Syafi’i berkata: Apabila kalian mendapati dalam kitabku ada yang menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka berpendapatlah dengan sunnah itu dan tinggalkan pendapatku.

 

Faedah:

1. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah seorang yang tidak mau menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi, sehingga apabila ada pendapat beliau yang bertentangan dengan sunnah maka as-sunnah yang harus dipegangi.

2. Kedudukan as-sunnah dalam pandangan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

3. Wasiat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah yang seharusnya diketahui oleh semua kaum muslimin, terlebih bagi mereka yang mengaku bermadzhab syafi’iyyah.

5. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i kelima:

وسمعته يقول – وقد قال له رجل: تأخذ بهذا الحديث يا أبا عبد الله ؟ فقال: متى رويت عن رسول الله حديثا صحيحا ولم آخذ به، فأشهدكم أن عقلي قد ذهب.

Dan aku (ar-Rabi’) mengisahkan: Pernah ada seseorang yang mengatakan kepadanya (al-Imam asy-Syafi’i): Apakah Anda akan berpegang (berpendapat) dengan hadits ini wahai Abu Abdillah? Lalu al-Imam asy-Syafi’i menjawab: Ketika aku meriwayatkan dari Rasulullah sebuah hadits yang shahih namun aku tidak berpegang dengannya, maka aku persaksikan di hadapan kalian bahwa akalku telah hilang.

Faedah:

Faedah dari pernyataan ini cukup dengan merujuk pada judul terdahulu (Persaksikanlah Aku telah gila…..!!)

6. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i keenam:

وقال الحميدي: روى الشافعي يوما حديثا، فقلت: أتأخذ به ؟ فقال: رَأَيْتَنِي خَرَجْتُ مِنْ كَنِيسَة، أَو عَلَيَّ زُنَّارٌ، حَتَّى إِذَا سَمِعْتُ عَنْ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم حَدِيثًا لَا أَقُولُ بِهِ

Al-Humaidi mengatakan: Pada suatu hari asy-Syafi’i meriwayatkan sebuah hadits (yang shahih tentunya-pen). Lalu aku tanyakan kepadanya: Apakah Anda akan berpegang dengan hadits ini? Beliau menjawab: Apakah kamu melihatku keluar dari gereja atau pada bagian tengah bajuku ada tali ikat sehingga ketika aku mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits lalu aku tidak berpendapat dengan hadits itu?

Faedah:

1. Sikap yang tegas terhadap orang yang menolak hadits Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam yang shahih. Yaitu beliau menganggap diri beliau sama seperti pendeta apabila tidak mau menerima hadits yang shahih.

2. Setiap orang yang sampai kepadanya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih maka yang menjadi kewajiban baginya adalah menerima hadits itu walaupun bertentangan dengan pendapat dan pandangan akalnya semula.

7. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i ketujuh:

  قال الربيع: وسمعته يقول: أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي، وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم حَدِيثًا فَلَمْ أَقُلْ بِهِ.

Ar-Rabi’ mengatakan: Aku mendengarnya mengatakan: Langit yang manakah yang akan menaungiku dan bumi manakah yang mau memikulku hingga ketika aku meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits lalu aku tidak berpendapat dengannya?

 

Faedah:

1. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah sangat takut untuk menyelisih hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sangat bertolak belakang dengan sikap sebagian kalangan yang mengaku bermadzhab syafi’iyyah namun ketika disampaikan kepadanya hadits yang shahih ia mengatakan “Ini tidak sesuai dengan perkataan kiyaiku”, “Ini bukan pendapat organisasiku”, dan seterusnya.

8. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i kedelapan:

وقال أبو ثور: سمعته يقول: كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم فَهُوَ قَوْلِي، وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنِّي.

Abu Tsur mengatakan: Aku mendengar asy-Syafi’i berkata: Semua hadits yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam maka hadits itu adalah pendapatku meskipun kalian tidak mendengarnya dariku.

 

Faedah:

1. Sikap seorang muslim dan sunni adalah menerima hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam siapapun yang menyampaikannya.

9. Perkataan al-Imam asy-Syafi’i kesembilan:

ويروى أنه قال: إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي، وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ، فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ.

Diriwayatkan bahwanya asy-Syafi’i berkata: Apabila haditsnya shahih maka hadits itu adalah madzhabku. Apabila haditsnya shahih maka lemparkanlah perkataanku ke dinding.

Faedah:

1. Hadits yang shahih adalah madzhab al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah.

2. Pendapat yang tidak benar, yaitu pendapat yang bertentangan dengan hadits yang shahih harus ditinggalkan.

Demikianlah pernyataan-pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah terkait dengan sikap terhadap as-sunnah. Sehingga tidak layak bagi kita untuk menyelisihi prinsip ini terlebih kita mengaku sebagai pengikut madzhab asy-Syafi’i.

                Sekali lagi sangat disayangkan banyaknya kalangan kaum muslimin yang tidak mengetahui sikap seperti di atas. Sehingga kita saksikan adanya orang yang menolak ‘sunnah’ dengan alasan tidak sesuai dengan ‘penemuan modern’, ‘tidak sesuai dengan pendapat ustadz atau kiyaku’, ‘tidak sesuai dengan kelompokku yang besar ini’, dan seterusnya dari perkataan-perkataan yang tidak seharusnya terucap dari mulut seorang muslim. Yang lebih parah lagi adanya orang yang mencemooh dan merendahkan ‘sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

                Semoga Allah memberikan hidayah kepada seluruh kaum muslimin agar mau kembali dan menghidupkan ajaran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan menjadikan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai landasan  dan berbuat, bertindak, dan beramal, bukannya berpijak dan berangkat dari golongan, kelompok, yayasan, atau partai.

Semoga sepenggal tulisan ini menjadi sebab bersatunya kaum muslimin di atas al-haq dan di atas prinsip Islam sehingga akan menjadikan negeri ini menjadi negeri yang disegani dan penuh berkah dan kebaikan. Amin.


[1] Siyar A’lam an-Nubala’ (10/34) (versi al-Maktabah asy-Syamilah)