Suatu fenomena yang menyedihkan namun menyebar sedemikian rupa, yaitu sikap meninggalkan suatu amalan, adab, atau tuntunan Islam karena hukumnya ‘sunnah’. Sedangkan suatu perkara yang dianggap makruh malah dilakukan. Perilaku dan sikap seperti ini sangat banyak dan sangat sering kita dapati di tengah-tengah kaum muslimin di negeri ini yang mereka mengaku bermadzhab dengan madzhab asy-Syafi’i padahal al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berlepas diri dari sikap dan cara pandang seperti ini.

Sering kita dengar jawaban dari sebagian kaum muslimin ketika disampaikan kepadanya bahwa perkara ini adalah ‘sunnah’ maka yang keluar dari mulutnya adalah ‘Cuma sunnah saja, gak wajib ini’, atau ‘kan hanya sunnah, kok ngotot banget’, atau kata-kata yang senada dengannya. Ditambah lagi ketika kaum muslimin melihat para tokoh agama yang tidak mengamalkan ‘sunnah’ maka penilaian, cara pandang, dan sikap di atas semakin menjadi. Mungkin di antara yang terparah adalah orang yang mengatakannya sebagai sekadar ‘simbol’ atau ‘kulit’.

Selain para tokoh agama yang demikian sikap dan cara pandangnya, ditambah lagi dengan kurang lengkapnya pemahaman yang didapatkan oleh kaum muslimin tentang arti dan makna kata sunnah itu sendiri. Sehingga yang lebih banyak dan lebih sering mereka dengar adalah definisi ‘sunnah’ dalam bidang fikih. Yaitu suatu amalan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat dosa. Dengan berdasar definisi ‘sunnah’ secara fikih ini maka semua yang dikatakan sebagai ‘sunnah Nabi’ dihukumi demikian, yaitu apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapatkan dosa. Padahal tidak demikian halnya.

Pada judul ini akan kita bawakan pernyataan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah terkait amalan yang hukumnya sunnah atau mandub atau mustahab. Sebelum beranjak kepada pembahasan tentang menyikapi ‘sunnah’ dalam artian ajaran dan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam secara umum.

Sebelumnya akan kita ketahui terlebih dahulu arti kata ‘sunnah’ secara bahasa dan definisi sunnah dalam syari’at Islam secara global serta definisi sunnah menurut bidang ilmu hadits dan fikih. Semoga penjelasan yang singkat ini bisa memberikan pencerahan bagi segenap kaum muslimin dalam menjalankan agamanya. Untuk kemudian akan hiduplah ajaran Islam di negeri seribu pulau ini, sehingga akan menjadi “Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Amin.

Definisi ‘sunnah’ menurut bahasa:

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

وَالسُّنَّة فِي أَصْل اللُّغَة الطَّرِيقَة

Dan as-sunnah secara asal bahasa bermakna thariqah (tarekat, metode, tata cara-pen).[1]

Untuk mendukung makna secara bahasa di atas Ibnu Manzhur (penulis Lisanul ‘Arab) membawakan perkataan Khalid bin ‘Utbah al-Hudzali:

فلا تَجْزَعَنْ من سِيرةٍ أَنتَ سِرْتَها فأَوَّلُ راضٍ سُنَّةً من يَسِيرُها

Janganlah kamu gusar terhadap suatu sirah (tarekat) yang kamu menempuhnya, karena orang pertama yang rela terhadap suatu sunnah (sirah-pen) adalah orang yang menempuhnya.

Kemudian Ibnu Manzhur membawakan firman Allah Ta’ala di bawah ini untuk menguatkan makna ‘sunnah’ di atas:

وما مَنَعَ الناسَ أَن يُؤمنوا إذا جاءهم الهُدى ويستغفروا رَبَّهم إلاَّ أَن تأْتيهم سُنَّةُ الأَوَّلين

Dan  tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Rabbnya, kecuali (keinginan menanti) datangnya sunnah  umat-umat yang dahulu. (QS. al-Kahfi: 55)

Ibnu Manzhur menukilkan pernyataan az-Zajjaj tentang penafsiran sunnah umat terdahulu:

“Sunnah orang-orang terdahulu ini adalah mereka menyaksikan adzab yang menimpa mereka, sehingga kaum musyrikin itu mengatakan: Ya Allah kalau memang ini (ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) adalah benar maka turunkanlah hujan batu kepada kami dari langit.”

Yaitu kaum musyrikin di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti sunnah (perilaku atau sikap) orang-orang terdahulu berupa permintaan diturunkannya adzab.

Sehingga penjelasan ini memperjelas arti sunnah secara bahasa, yaitu sikap, metode, tuntunan, atau perilaku, entah baik atau buruk. Wallahu ‘alam.

Perlunya mengenal kata ‘sunnah’ secara syari’at:

Setelah mengenal makna ‘sunnah’ secara bahasa maka kita akan mengenal kata ‘sunnah’ dalam agama Islam. Telah kita kemukakan sekilas adanya kekurangan dalam memahami makna atau definis ‘sunnah’ dalam istilah syari’at islam sehingga banyak sekali tuntunan Islam  yang seharusnya dipegangi oleh kaum muslimin malah ditinggalkan, bahkan dinilai sebagai suatu yang ganjil, aneh, nyeleh, dan asing. Orang-orang  yang mengamalkannya pun juga ikut dikatakan sebagai orang yang ‘nganeh-anehi’ dan tidak jarang pula dimusuhi. Bahkan diisukan sebagai teroris dan seterusnya karena dianggap sebagai ciri-ciri teroris. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kaum muslimin agar bisa mengenal lebih dekat ajaran Islam yang merupakan ajaran dan bimbingan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penggunaan kata ‘sunnah’ dalam hadits:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah al-khulafa’ al-mahdiyyin ar-rasyidin, hendaklah kalian berpegang dengannya dan gigitlah ia dengan geraham kalian. HR. Ahmad dan Abu Daud.

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Barang siapa yang benci kepada sunnahku maka ia bukan dari golonganku. HR. al-Bukhari dan Muslim[2]

Ibnu Hajar dalam Fathul Baari menjelaskan hadits al-Bukhari dan Muslim di atas:

الْمُرَاد بِالسُّنَّةِ الطَّرِيقَة لَا الَّتِي تُقَابِل الْفَرْض وَالرَّغْبَة عَنْ الشَّيْء الْإِعْرَاض عَنْهُ إِلَى غَيْره ، وَالْمُرَاد مَنْ تَرَكَ طَرِيقَتِي وَأَخَذَ بِطَرِيقَةِ غَيْرِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Yang dimaksud dengan ‘as-sunnah’ (pada hadits ini) adalah ath-thariqah (tarekat/metode/tata cara), bukannya ‘sunnah’  yang menjadi kebalikan dari kata fardhu (wajib).

Sedangkan sikap membenci sesuatu adalah berpaling darinya untuk kemudian menuju kepada selain dari sesuatu itu (dalam hal ini ‘sunnah Nabi shallallahu ‘alai wa sallam’). Dan maksud dari hadits di atas adalah orang yang meninggalkan tarekatku dan mengambil (menempuh) tarekat selainku maka ia bukan dari golonganku.” Selesai penukilan.

Dari penjelasan al-Hafizh Ibnu Hajar di atas kita bisa menyimpulkan bahwa kata ‘sunnah’ dalam Islam memiliki tiga definisi:

1. Definisi menurut syari’at Islam

2. Definisi dalam bidang ilmu hadits

3. Definisi dalam bidang fikih dan ushul fikih:

Adapun masing-masing definisi di atas adalah sebagai berikut:

1. Definisi ‘sunnah’ secara syari’at:

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan tentang maksud ‘sunnah’:

مَا جَاءَ عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَقْوَاله وَأَفْعَاله وَتَقْرِيره وَمَا هَمَّ بِفِعْلِهِ

“Semua yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, dan apa yang beliau ingin lakukan.”[3]

2. Definis ‘sunnah’ menurut bidang ilmu hadits :

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقرير  أو صفة خلقية أو خلقية

Semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan, atau sifat jasmani atau akhlak.

3. Definisi ‘sunnah’ menurut bidang ilmu fikih dan usul fikih:

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم من قول أو فعل أو تقرير

Semua yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

وَفِي اِصْطِلَاح بَعْض الْفُقَهَاء مَا يُرَادِف الْمُسْتَحَبّ

“Dan menurut istilah sebagian fuqaha’ adalah kata lain dari mustahab’”[4]

Dalam istilah sebagian fuqaha’ yang lain adalah masnun, mandub, dan sunnah, maknanya adalah amalan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Yaitu kata ‘sunnah’ dalam bidang fikih digunakan untuk menjelaskan hukum suatu amalan yang bukan wajib.

Dengan demikian kita telah mengetahui makna kata ‘sunnah’ dalam agama Islam,  yaitu ada beberapa definisi yang harus kita fahami dan kita ketahui. Sehingga ada di sana ‘sunnah’ yang bersifat wajib sehingga tidak boleh bagi siapa pun untuk meninggalkannya, barang siapa yang meninggalkannya maka ia tidak termasuk dalam golongan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun menamakan dirinya sebagai ahlussunnah atau sunni.

Bagaimanakah sikap terhadap amalan yang hukumnya ‘sunnah’ (mustahab/mandub)?

Terkait dengan judul rubrik ini, yaitu amalan yang hukumnya ‘sunnah’ (mustahab/mandub) yang apabila dikerjakan mendapat pahala sedangkan jika ditinggalkan tidak mendapat dosa maka al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan:

ولسنا نُحِبُّ لأحدٍ تَرْكَ أن يَتَهجَّدَبِمَا يَسَّرَهُ الله عَلَيهِ مِنْ كِتَابِهِ مُصَلِّيًا بهِ وَكَيفَ مَا أكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إلَينَا

“Dan tidaklah kami menganjurkan bagi seorang pun untuk meninggalkan shalat tahajjud dengan membaca apa yang Allah mudahkan baginya dari kitab-Nya untuk ia baca dalam shalat. Ketika shalat tahajjud diperbanyak bacaannya maka hal ini yang lebih kami senangi.” Ar-Risalah no. 343)

Pernyataan di atas beliau sampaikan terkait dengan shalat tahajjud yang hukumnya sunnah/mandub. Yaitu ketika hukumnya sunnah/mustahab tidak lantas ditinggalkan, malah sebaliknya ketika diperpanjang bacaannya atau diperbanyak raka’atnya maka akan lebih beliau senangi (dianjurkan). Tentunya sikap seperti ini sangat jauh berbeda dengan sikap sebagian kaum muslimin yang meremehkan amalan-amalan yang hukumnya ‘sunnah’.

Sehingga seorang muslim tidak sepantasnya untuk menjadikannya dirinya miskin pahala dengan meninggalkan amalan-amalan sunnah/mandub. Dan lebih buruk lagi dengan  meremehkan ‘sunnah-sunnah’ (ajaran dan tuntunan) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum, entah penampilan  seperti jenggot atau tata cara yang diwajibkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti makan dan minum dengan tangan kanan. Bahkan ikut-ikutan menyatakannya sebagai sekadar simbol atau kulit. Na’udzubillah min dzalik.


[1] Fathul Baari: Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-sunnah

[2] HR. al-Bukhari: bab: at-Targhib fi an-Nikah (no. 4675), Muslim: bab: Istihbab an-Nikah liman Taaqat nafsuhu … (no. 2487)

[3] Fathul Baari: Kitab al-I’tisham bi al-Kitab wa as-sunnah

[4] sda