Rentetan majelis tentang para sahabat telah kita telaah bersama, meskipun masih menyisakan banyak sekali ayat dan hadits serta pernyataan para imam tentang keutamaan dan kedudukan  para sahabat yang tinggi dalam Islam dan di tengah kaum muslimin. Hanya saja sebagian kecil dari apa yang kita paparkan semoga bisa memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar bagi seluruh kaum muslimin. Serta bisa membantu mereka dalam mengenali akidah dan keyakinan tentang para sahabat.

Mungkin ada yang bertanya-tanya apa faedah dari membahas dan menjelaskan kedudukan para sahabat? Dan bahkan memberikan pembelaan sedemikian rupa?

Sebenarnya untuk menjawabnya telah tersirat dari ayat, hadits, maupun pernyataan para imam yang telah kita telaah bersama.

Berikut adalah sebagian faedah yang sekaligus alasan kita memberikan pembelaan sedemikian rupa kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum ajma’in:

1. Mengenali rujukan pertama dalam mempelajari dan mempraktikan Islam, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mengetahui praktik para sahabat dalam menerapkan Islam tentunya butuh kepada waktu yang cukup panjang dan berkesinambungan serta tekad yang kuat, tidak hanya sekali atau dua kali membaca atau menghadiri majelis, akan butuh berkali-kali dan diulang-ulang agar benar-benar tertancap dalam hati kita. Oleh karena itu umat Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu dan mendalami permasalahan agamanya.

2. Setelah mengenali kedudukan dan kehormatan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita mengetahui bahwa kaum muslimin memiliki teladan sejati. Dengan demikian kaum muslimin tidak lagi bisa dikecoh oleh orang yang meragukan Islam atau bahkan menjauhkan diri dari Islam hanya gara-gara kecewa ketika mendapati kekurangan dalam bermuamalah dan bergaul dengan sebagian kaum muslimin yang tidak mempraktikan Islam dengan baik dan benar. Lantas orang itu dengan sengaja mengajak umat manusia untuk membenci dan menjauhi Islam. Jenis orang seperti ini sangat banyak bertebaran di tengah umat dan menyebarkan kekecewaannya itu melalui berbagai cara. Semoga Allah Ta’ala melindungi kaum muslimin dari orang-orang yang seperti ini.

3. Mengenali teladan sejati dan teladan yang sesungguhnya. Terkhusus bagi para pendiddik dan orang tua dalam mencarikan teladan bagi putra putri dan anak didiknya. Janganlah menyuguhkan kepada mereka tokoh-tokoh yang tidak jelas jalan hidupnya, bahkan tokoh-tokoh kartun yang hanya hayalan belaka, tidak ada realitanya.

4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang ia cintai.[1] HR. Al-Bukhari dan Muslim

Sebab wurud hadits ini sebagaimana dalam riwayat al-Bukhari bab: ‘Alamat Hubbillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang mencintai suatu kaum namun ia tidak bisa mensejajarkan diri dengan mereka?

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits di atas.

Semoga Allah Ta’ala membangkitkan kita bersama orang-orang yang kita cintai dari kalangan para sahabat, yaitu Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka, radhiyallahu ‘anhum.

5. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (QS. al-Hajj: 38)

Dan orang-orang yang telah dinyatakan beriman oleh Allah Ta’ala sebagaimana telah diketahui dari majelis-majelis terdahulu, yaitu mereka adalah para sahabat. Mereka pula adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى

Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.”  (QS. an-Naml: 59)

Ibnu Katsir rahimahullah membawakan tafsiran dari para Salaf tentang “hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya”:

1. ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam[2] dan selainnya menyatakan: Mereka adalah para nabi, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Maha Suci Rabbmu yang Mahaperkasa dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul.  Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. (QS. ash-Shaffat: 180-182)

2. Sufyan ats-Tsauri dan as-Suddi menyatakan: “Mereka adalah para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma penafsiran yang hampir sama dengan penafsiran ini.

Kemudian Ibnu Katsir menjelaskan bahwasanya tidak ada pertentangan dari kedua penafsiran di atas karena ketika dinyatakan oleh Allah Ta’ala bahwa mereka sebagai para hamba-Nya yang Ia pilih maka para nabi adalah orang-orang yang pertama kali yang termasuk dalam golongan para hamba ini dan lebih pantas. (selesai penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir dengan diringkas)

Dengan demikian jelaslah bahwa para sahabat adalah orang yang telah mendapatkan jaminan keselamatan dan pembelaan dari Allah Ta’ala. Walhamdulillah.

Maka sebagai seorang muslim yang beriman taat kepada Allah Ta’ala dan kepada Rasul-Nya kita harus membela para sahabat dalam rangka mengikuti tuntunan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

 

6. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Dan barang siapa yang membela Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya hizbullah itulah yang pasti menang. (QS. al-Maidah: 56)

Ibnu Katsir rahimahullah memberikan penjelasan terkait ayat di atas dengan mengatakan:

كُلُّ مَنْ رَضِيَ بِوَلَايَةِ الله وَرَسُولِهِ وَالْمُؤْمِنِينَ فَهُوَ مُفْلِحٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْصُورٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة

Setiap orang yang rela kepada pembelaan Allah dan Rasul-Nya serta kaum mukminin maka ia adalah orang yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Dan ia akan mendapatkan pertolongan baik di dunia maupun di akhirat.

Dari ayat dan penjelasan di atas sangat terang bagi kita bahwa orang yang membela Allah, yaitu dengan menjalankan ketaatan, dan memberikan pembelaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin maka ia adalah:

1. Hizbullah (tentara atau golongan Allah Ta’ala).

2. Mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala baik di dunia maupun di akhirat. Dengan kata lain ia sebagai pihak yang menang baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala pada surat al-Maidah ayat 56 di atas.

Di antara sifat hizbullah adalah membela kaum mukminin, bukan malah mencela dan merendahkan serta menghina mereka. Tidak ada perselisihan di tengah kaum muslimin bahwa kaum mukminin yang pertama kali atau generasi pertama dari kaum mukminin adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa radhiyallahu ‘anhum.

Berbeda halnya dengan sekte Rafidhah atau Syi’ah yang senantiasa menghujat dan mencari-cari kekurangan serta kesalahan para sahabat. Semoga Allah Ta’ala melindungi kaum muslimin dari kejahatan dan makar kaum Syi’ah.

Sehinggga memberikan pembelaan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sebab kita mendapatkan kemenangan di dunia dan akhirat, juga mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala ketika di dunia dan akhirat.

Semoga apa yang kami tuangkan dalam beberapa majelis ini menjadi sebab keselamatan dan kemenangan bagi kaum muslimin di dunia dan akhirat. Amin.

Doa:

Ya Allah, berikanlah pertolongan-Mu kepada orang-orang yang membela agama-Mu. Satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran.

Ya Allah, berikanlah kehinaan kepada mereka yang melecehkan dan merendahkan agama-Mu. Hancurkanlah musuh-musuh-Mu, yang mereka itu adalah musuh agama-Mu dan musuh kaum muslimin. Ceraiberaikanlah barisan dan turunkanlah kegagalan kepada mereka.


[1] Al-Bukhari, bab: ‘Alamat Hubbillah, no. hadits. 5702, 5703, dan 5704.

Muslim, bab: al-Mar-u ma’a man ahabba, no. hadits 4779

[2] Seorang atba’ut tabiin, putra Zaid bin Aslam seorang tabi’in maula ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu