Segala puji bagi Allah Ta’ala sehingga pada bulan penuh berkah ini bisa kita bawakan Insya Allah beberapa pernyataan para imam kaum muslimin terkait dengan kemuliaan dan keutamaan para sahabat. Dan akan kita simak pula insya Allah pernyataan mereka tentang orang yang mencela walaupun hanya satu orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum menyampaikan pernyataan mereka terlebih dahulu akan kita ketahui definisi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 

Definisi sahabat:

Ibnu Shalah rahimahullah mengatakan:

أَنَّ كُّلَّ مُسْلِمٍ رَأَى رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم فَهُوَ مِنَ الصَّحَابَةِ.

Setiap muslim yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia adalah sahabat. (Muqaddimah Ibnu Shalah)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

وَالصَّحَابِي: مَنْ رَأَى رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم فِي حَالِ إِسْلَامِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ تَطُلْ صُحْبَتُهُ لَهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ شَيْئاً.

هذا قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ، خَلَفاً وَسَلَفاً. وَقَدْ نَصَّ عَلَى أَنَّ مُجَرَّدِ الرُّؤْيَةِ كَافٍ فِي إِطْلَاقِ الصَّحَبَةِ: اَلْبُخَارِي وَأَبُو زُرْعَةَ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِمَّنْ صَنَّفَ فِي أَسْمَاءِ الصَّحَابَةِ، كَابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ، وَابْنِ مَنْدَةَ وَأَبِي مُوسَى الْمَدِينِي، وَابْنِ الْأَثِيرِ فِي كِتَابِهِ ” الْغَابَة فِي مَعْرِفَةِ الصَّحَابَة ” . وَهُوَ أَجْمَعُها وَأَكْثَرُهَا فَوَائِدَ وَأَوْسَعُهَا. أَثَابَهُمُ الله أَجْمَعِينَ.

Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masa Islamnya meskipun tidak lama ia menemani beliau, dan meskipun tidak meriwayatkan sesuatu pun dari beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Definisi ini adalah pendapat jumhur ulama baik yang belakangan maupun yang terdahulu.

Dan bahkan sejumlah ulama menyatakan bahwa semata melihat Nabi shallallahu ‘alaihi sudah cukup untuk dimutlakkan padanya gelar sahabat Nabi  (shallallahu ‘alaihi wa sallam) seperti al-Bukhari, Abu Zur’ah, dan selain mereka dari para penyusun nama-nama sahabat seperti Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Mandah, Abu Musa al-Madini, dan Ibnul Atsir dalam kitabnya al-Ghabah fi Ma’rifat ash-Shahabah, ktab ini adalah kitab yang paling lengkap dan paling banyak faedah serta paling luas. Semoga Allah memberikan pahala kepada mereka. (Selesai penukilan dari al-Baa’itsul Hatsits).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah memberikan definisi sahabat:

“Dan pendapat yang paling benar (dari sejumlah definisi) yang aku dapati bahwa sahahabat adalah orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman kepadanya serta mati di atas Islam.” (Nukhbatul Fikar)

Pernyataan sebagian ulama tentang sahabat:

Ulama dari jajaran sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

1. ‘Aisyah bintu Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma:

أُمِرُوا بالاسْتِغْفَارِ لِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ فَسَبُّوهُمْ

 Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi sahabat Muhammad namun mereka malah mencela para sahabat. (Fadhail ash-Shahabah karya al-Imam Ahmad)

2. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

لاَ تَسُبُّوا أصْحَابَ مُحَمَّدٍ فَلَمَقَامُ أَحَدِهِمْ سَاعَةً خَيرٌ مِنْ عَمَلِ أَحَدِكُمْ عُمُرَهُ

Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad. Sungguh kebersemaan mereka (dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam-pen) walau hanya sesaat adalah lebih baik dari amalan kalian walaupun sepanjang umur.

(Fadhail ash-Shahabah karya al-Imam Ahmad)

3. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

لاَ تَسُبُوا أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ فَإِنَّ الله عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَرَ بِالاسْتِغْفَارِ لَهُمْ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُمْ سَيَقْتُلُونَ

Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad karena Allah ‘azza wa jalla telah memerintahkan (hamba-Nya) untuk memohonkan ampunan bagi mereka padahal Ia mengetahui bahwa mereka akan saling berperang.

(Fadhail ash-Shahabah karya al-Imam Ahmad)

Pernyataan para imam setelah para sahabat radhiyallahu ‘anhum:

1. Maimun bin Mihran rahimahullah (ulama dari kalangan tabi’in):

Biografi singkat tentang Maimun bin Mihran:

  • Meriwayatkan hadits dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Aisyah, Abu Hurairah, Ibnu ‘Umar dan selainnya. (dari beberapa sumber rujukan)
  • Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan:

“Seorang  yang tsiqah faqih (terpercaya dan dalam ilmunya), ditunjuk sebagai qadhi di Jazirah oleh Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah.” (Taqribut Tahdzib)

  • adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan:

“Sang ‘alim di daerah Riqqah, seorang yang terpercaya, ahli ibadah, dan memiliki kedudukan yang tinggi”

Maimun bin Mihran rahimahullah mengatakan:

ثَلاَثٌ اِرَفَضُوهنَّ سَبُّ أَصْحَابِ مُحّمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَالنَّظَرُ فِي النُّجُومِ وَالنَّظَرُ فِي القَدَرِ

Ada tiga perkara yang kalian harus membuangnya jauh-jauh: mencela para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, memperhatikan nujum, dan meneliti takdir. (Fadhail ash-Shahabah karya al-Imam Ahmad)

2. al-Imam Malik rahimahullah:

Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:

لَا يُصْلِحُ آخِرَ هذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهاَ

Tidaklah akan menjadi baik generasi belakangan umat ini kecuali dengan sesuatu yang menjadi baik dengannya generasi pertamanya. (asy-Syifa bi Ta’rif Huquqil Mushthafa, al-Qadhi ‘Iyadh)

Yaitu para sahabat sebagai acuan utama dalam melakukan perbaikan dan perubahan, bukan dengan mengikuti pola pikir dan teori-teori yang dimunculkan oleh orang-orang belakangan terlebih orang-orang kafir.

3. al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah:

al-Baihaqi meriwayatkan bahwa: Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab ar-Risalah al-Qadimah  setelah menyebutkan para sahabat dan mengagungkan mereka serta memuji mereka beliau mengatakan:

أَثْنَى اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْقُرْآنِ وَالتَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ ، وَسَبَقَ لَهُمْ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْفَضْلِ مَا لَيْسَ لِأَحَدٍ بَعْدَهُمْ ، فَرَحِمَهُمُ اللهُ ، وَهناهُمْ بِمَا آتَاهُمْ مِنْ ذلِكَ بِبُلُوغِ أَعْلَى مَنَازِلِ الصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ،

فَهُمْ أَدَّوا إِلَيْنَا سُنَنَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم . وَشَاهَدُوهُ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ ، فَعَلِمُوا مَا أَرَادَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم عامًّا وَخاصًّا ، وعزمًا وإرشادًا وَعَرَفُوا سُنَّتَهُ مَا عَرَفْنَا وَجَهِلْنَا

وَهُمْ فَوْقَنَا فِي كُلِّ عِلْمٍ وَاجْتِهَادٍ وَوَرَعٍ وَعَقْلٍ وَأَمْرٍ أُسْتُدْرِكَ بِهِ عِلْمٌ  واستنط به، وَآرَاؤُهُمْ لَنَا أَحْمَدُ وَأَوْلَى بِنَا مِنْ آرَائِنَا عِنْدَنَا لِأَنْفُسِنَا، وَالله أعْلَم

وَمَنْ أَدْرَكْنَا مِمَّنْ نَرْضَى أَوْ حُكِيَ لَنَا عَنْهُ بِبَلَدِنَا وَصَارُوا فِيمَا لَمْ يَعْلَمُوا لِرَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِيهِ سُنَّةً إلِىَ قَوْلِهِمْ اِنِ اجْتَمَعُوا أَوْ قَوْلِ بَعْضِهِمْ إِنْ تَفَرَّقُوا، فهكذا نَقُولُ وَلَمْ نَخْرُجْ مِنْ أَقَاوِيلِهِمْ

وَإِنْ قَالَ أَحَدُهُمْ وَلاَ يُخَالِفُهُ غَيرُهُ أَخَذْنَا بِقَولِهِ

Allah Tabaraka wa ta’ala memuji para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam al-Qur’an, Taurat, dan Injil. Dan telah ada keutamaan bagi mereka yang disampaikan melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelah mereka. Maka Allah telah merahmati mereka. Dan Allah memberikan kebahagiaan kepada mereka dengan kemuliaan yang diberikan kepada mereka itu dengan mencapai derajat tertinggi sebagai kalangan shiddiqin, syuhada’,dan shalihin.

Maka merekalah yang menyampaikan kepada kita sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka langsung melihat Rasulullah shallallah ketika wahyu turun kepada beliau. Sehingga mereka mengetahui maksud dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang bersifat umum (‘am) maupun yang khusus (khas), baik yang bersifat penekanan (‘azm) maupun hanya arahan (irsyad). Maka mereka mengetahui sunnah (ajaran) beliau baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Mereka (para sahabat radhiyallahu ‘anhum) jauh di atas kita dalam ilmu, ijtihad (kesungguhan), warak, akal, dan dalam perkara yang dengannya diketahui dan simpulkan sebuah ilmu. Pandangan mereka jauh lebih baik bagi diri kita dan lebih pantas untuk kita ikuti daripada pandangan kita.

Dan para ulama yang sempat kami jumpai dari kalangan yang kami ridhai atau dikisahkan kepada kami darinya (dari kalangan para ulama yang ada) di negeri kami – kemudian dalam perkara yang mereka tidak mengetahui adanya sunnah Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah itu maka mereka merujuk kepada pernyataan mereka (para sahabat) ketika mereka bersepakat atau kepada pernyataan sebagian dari mereka jika berselisih. Maka demikianlah yang kita katakan dan kita tidak akan keluar dari pendapat mereka yang ada (ketika berselisih-pen).

Jika ada seorang sahabat yang berpendapat dan tidak ada sahabat lain yang menyelisihinya maka kita akan berpegang dengan pendapat (atau perkataan)nya itu. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Manaqib asy-Syafii 1/442)

4. Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah:

  • Namanya adalah Ubaidullah bin Abdul Karim lebih dikenal dengan Abu Zur’ah ar-Razi, lahir pada tahun 200 H dan meninggal pada bulan Dzulhijjah  264 H di kota Ray. (Thabaqat Hanabilah) Ada yang mengatakan lahir pada tahun 190 H.
  • Abu Hatim mengatakan:

“Tidak ada orang yang semisalnya setelah ia meninggal baik dalam bidang fikih (pemahaman), ilmu, penjagaan dan kejujuran. Ini adalah sesuatu yang tidak diragukan lagi tentang dirinya. Dan aku tidak mengetahui  baik di timur maupun di barat adanya orang yang memahami bidang ini (bidang ilmu hadits-pen) seperti dia.” (al-‘Ibar fi Khabari man Ghabar)

  • Abu Hatim mengatakan:

“Abu Zur’ah adalah seorang imam.” (Thabaqat Hanabilah)

  • Ishaq bin Rahuyah mengatakan:

“Setiap hadits yang tidak di hafalkan oleh Abu Zur’ah maka hadits itu tidak memiliki asal usul.” (al-‘Ibar fi Khabari man Ghabar)

  • Abdullah bin Ahmad bin Hambal mengatakan:

“Aku mendengar ayahku berkata: Tidak ada orang yang menyeberangi jembatan itu yang lebih faqih dari Ishaq bin Rahuyah dan lebih hafal (hadits) dari Abu Zur’ah ar-Razi.” (Thabaqat Hanabilah)

  • Abu Bakar bin Abi Syaibah (penulis kitab al-Mushannaf dan guru para imam al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah) mengatakan:

“Aku tidak pernah melihat adanya orang yang lebih hafal dibanding Abu Zur’ah ar-Razi.” (Thabaqat Hanabilah)

  • Di antara para imam yang meriwayatkan dari Abu Zur’ah adalah Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah, Abu ‘Awanah, dan lain-lainnya. (Thabaqat Hanabilah)

Abu Zur’ah rahimahullah mengatakan:

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ ، وَذلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ صلى الله عليه وسلم عِنْدَنَا حَقٌّ ، وَالْقُرْآَنَ حَقٌّ ، وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم ، وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يَجْرَحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ ، وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ

Apabila engkau melihat (mengetahui) ada orang yang mencela satu orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa ia adalah orang zindiq. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut kita adalah haq (benar) dan al-Qur’an juga haq (benar). Dan orang yang menyampaikan al-Qur’an dan sunnah-sunnah ini kepada kita adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang mereka inginkan adalah memberikan penilaian jelek terhadap saksi-saksi kita agar mereka  bisa menggugurkan kitabullah dan as-sunnah. Maka memberikan jarh (penilaian buruk dan cacat) pada mereka adalah lebih pantas, dan mereka itulah orang-orang zindiq. (al-Kifayah fii ‘ilmi ar-riwayah karya al-Khathib al-Baghdadi)

Kiranya cukup pernyataan para imam di atas. Yaitu para imam yang hidup pada masa yang masih dekat masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Sebenarnya masih banyak pernyataan para imam yang lain yang perlu untuk kita ketahui bersama, namun karena keterbatasan yang ada sehingga ini dahulu yang kita telaah.

Perhatikanlah pernyataan al-lmam asy-Syafi’i rahimahullah yang sedemikian dalamnya dalam memuji dan menempatkan para sahabat. Lalu bagaimana dengan diri kita? Sudahkah kita mengikuti perkataan beliau rahimahullah? Sudahkah kita meneladani beliau rahimahullah dalam berkeyakinan, berucap, dan berbuat?

Kita memohon keselamatan untuk diri-diri kita dan seluruh kaum muslimin. Semoga Allah Ta’ala mengembalikan kaum muslimin kepada jalan yang benar, yaitu jalan yang ditempuh oleh shiddiqin, syuhada’, dan shalihin dari kalangan sahabat dan generasi berikutnya yang mengikuti mereka dengan baik.

Di antara kesimpulan yang terpenting:

Bahwasanya kaum muslimin memiliki teladan sejati yang tidak seharusnya mereka lupakan. Merekalah teladan kita sepanjang masa,  yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu mengapa kita mencari teladan dari kalangan lain? Bahkan yang lebih parah menjadikan orang kafir dan orang-orang yang tidak jelas arah hidupnya sebagai idola dan panutan dalam hidup.

Doa:

Ya Allah, berikanlah pada hati kami kecintaan kepada para sahabat Nabi-Mu.

Jadikanlah kami sebagai orang-orang yang mengikuti mereka dengan  baik.

Jadikanlah kami sebagai pembela mereka.

Ya Allah, jadikanlah mereka sebagai teladan dan panutan bagi kami dan bagi keturunan kami.