Sebagaimana telah kita janjikan pada majelis terdahulu maka pada majelis ini akan kita telaah sebagian hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedudukan para sahabat, sehingga akan bertambah terang di hadapan kita kedudukan mereka yang sedemikian mulianya. Dengan demikian menjadi terang pula bahwa kaum muslimin memiliki teladan sejati yang layak dan bahkan sudah seharusnya untuk dijadikan teladan bagi mereka dalam menerapkan agama ini, sekaligus dalam menjalani hidup agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Para ulama telah menulis dan menjelaskan kedudukan mereka dengan mengumpulkan hadits-hadits tentang para sahabat. Di antaranya adalah al-Imam Ahmad bin Hambal secara khusus membuat kitab berjudul Fadhail ash-Shahabah, al-Imam al-Bukhari membuat judul bab:

بَاب فَضَائِلِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ رَآهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ

Bab: Keutamaan Sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang yang sempat melihat Nabi shallallahu ‘alaihi atau melihat beliau dari kalangan kaum muslimin maka termasuk dari kalangan sahabat beliau.

al-Imam Muslim bin Hajjaj dalam kitab shahih Muslim mengumpulkan secara khusus hadits-hadits tentang para shahabat yang kemudian diberi judul oleh al-Imam an-Nawawi dengan judul Fadhail ash-Shahabah, al-Imam ad-Daraquthni dengan kitab karyanya berjudul Fadhail ash-Shahabah, Abu Nu’aim al-Ashbahani dengan kitab karyanya berjudul Fadhail al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dalam kitab-kitab sunan juga dibawakan sejumlah bab tentang para sahabat, dan lain-lainnya. Belum lagi penjelasan para ulama yang tersebar dalam kitab-kitab akidah dan mushtalah hadits serta lainnya.

Hadits pertama:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik umatku adalah yang ada pada masaku kemudian yang setelahnya kemudian yang setelahnya lagi. HR. al-Bukhari.

  • Kata al-qarnu maknanya adalah orang-orang yang  hidup dalam satu masa yang sama dan berdekatan waktunya. Mereka memiliki persekutuan dalam satu perkara yang dituju. Dan bisa dikatakan pula bahwa kata ini ditujukan untuk mereka yang khusus berkumpul pada suatu zaman seorang nabi atau  seorang pemimpin yang menyatukan mereka di atas suatu ajaran, madzhab, atau suatu amalan. (Ibnu Hajar, Fathul Bari)
  •  Keutamaan menjadi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa disaingi oleh amalan apa pun karena mereka menjadi orang-orang yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun para sahabat yang benar-benar mendapatkan kesempatan membela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendahului dalam berhijrah dan dalam memberikan pembelaan, mengukuhkan syari’at yang diterima dari beliau, serta menyampaikan kepada kaum muslimin setelah mereka, maka keutamaan mereka tidak akan bisa disaingi oleh seorang pun yang datang setelah mereka. Karena pada setiap perangai atau sifat yang telah disebutkan pastilah sahabat yang mendahului dan menyampaikannya mendapatkan pahala seperti pahala yang mengerjakannya. Maka menjadi teranglah keutamaan mereka. (diringkas dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar).
  • Ahlussunnah bersepakat bahwa yang paling utama dan mulia dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin al-Khaththab. Kemudian jumhur Ahlussunnah menyatakan kemudian ‘Utsman bin ‘Affan kemudian ‘Ali radhiyallahu ‘anhum. Sebagian Ahlussunnah dari penduduk Kufah mendahulukan ‘Ali di atas ‘Utsman. Dan pendapat yang benar dan yang masyhur adalah didahulukannya ‘Utsman di atas ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma mengikuti urutan khalifah. (Selesai penukilan dari Syarah Muslim karya al-Imam an-Nawawi dengan sedikit diringkas)

Hadits kedua:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Andaikan ada di antara kalian yang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud maka tidaklah akan bisa menyamai satu mud infak mereka dan bahkan tidak pula setengahnya. HR. al-Bukhari dan Muslim.

Ibnu Hajar rahimahullah memberikan penjelasan yang kesimpulannya adalah sebagai berikut:

  • Makna hadits: bahwasanya infak dengan emas sebesar gunung Uhud yang kalian infakkan tidak akan bisa menyebabkan kalian mendapatkan kedudukan dan pahala salah seorang dari sahabat yang hanya berinfak dengan segenggam atau setengah genggam makanan.
  • Konteks larangan ini tertuju kepada sebagian sahabat yang belakangan masuk Islam ketika mencela sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam. Sehingga orang yang tidak menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dilarang lagi untuk mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Sebab perbedaan ini adalah:

1. Keikhlasan yang lebih dan niat yang jujur dan tulus.

2. Keberadaan infak mereka yang bertepatan dengan kebutuhan yang sangat terhadap infak pada masa itu. Karena sahabat yang berperang dan berinfak sebelum Fathu Makkah lebih utama dan lebih mulia dibanding sahabat yang baru ikut berperang dan berinfak setelah Fathu Makkah. Allah ta’ala berfirman:

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى

Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. (QS.al-Hadid: 10)

Berinfak dan berperang sebelum Fathu Makkah sangat agung dan mulia karena sangat dibutuhkan ketika itu. Juga masih sedikitnya orang yang dituju dengan perintah berinfak dan berperang. Berbeda halnya setelah Fathu Makkah  yang menjadi banyak jumlahnya dan orang-orang masuk Islam secara  berbondong-bondong. Sehingga berinfak dan berperang setelah Fathu Makkah tidak sama kedudukan dan kemuliaannya dengan infak dan berperang sebelum Fathu Makkah.

Adapun tentang hukum mencela sahabat maka telah disampaikan pada majelis berjudul: Kedudukan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum (Membela Kehormatan Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam)

Al-Imam an-Nawawi mengatakan:

وَاعْلَمْ أَنَّ سَبَّ الصَّحَابَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ حَرَام مِنْ فَوَاحِش الْمُحَرَّمَات ، سَوَاء مَنْ لَابَسَ الْفِتَن مِنْهُمْ وَغَيْره ؛ لِأَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ فِي تِلْكَ الْحُرُوب ، مُتَأَوِّلُونَ كَمَا أَوْضَحْنَاهُ فِي أَوَّل فَضَائِل الصَّحَابَة مِنْ هَذَا الشَّرْح

“ketahuilah bahwasanya mencela sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah perkara haram termasuk keharaman yang sangat keji. Baik sahabat itu termasuk yang ikut dalam perseteruan fitnah dan yang tidak. Karena mereka semua adalah para mujtahid dalam peperangan itu. Mereka juga ahli tafsir sebagaimana yang kami jelaskan dalam permulaan Fadhail ash-Shahabah dari kitab syarah ini (yang dimaksud adalah Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi-pen).”

Kemudian al-Imam an-Nawawi rahimahullah membawakan pernyataan dari al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berikut ini:

“Hal ini (sangat mulia dan agungnya infak satu segenggam bahkan setengah genggam makanan oleh para sahabat) diperkuat oleh penjelasan yang telah kami kemukakan pada permulaan bab Fadhail ash-Shahabah dari jumhur tentang diutamakannya seluruh para sahabat di atas seluruh generasi setelah mereka.”

Dan sebab diutamakannya infak mereka karena dilakukan pada saat-saat yang sangat darurat dan sangat sempit. Berbeda halnya dengan generasi selain mereka.

Juga dikarenakan infak mereka benar-benar tertuju langsung dalam pembelaan dan menjaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kelebihan dan keutamaan ini tidak akan ada lagi setelah beliau meninggal. Demikian pula dengan jihad dan ketaatan mereka.

Kemudian al-Imam an-Nawawi rahimahullah melanjutkan:

Keutamaan ini semua dibarengi dengan sifat yang ada pada diri mereka berupa kasih sayang, saling mencintai, khusyu’, tawadhu’, benar-benar mendahulukan saudaranya seiman, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad.

Keutamaan para sahabat walaupun hanya sebentar bertemu atau melihat Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam tidak bisa ditandingi oleh amalan apa pun. Dan derajat sebagai sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa diraih dengan amalan apa pun. Sisi keutamaan ini tidak bisa disimpulkan dengan kiyas. (Selesai penukilan dari Syarah Muslim).

 

Hadits ketiga:

خَيْر هَذِهِ الْأُمَّة الْقَرْن الَّذِينَ بُعِثْت فِيهِمْ

Umat Islam yang terbaik adalah generasi yang aku dibangkitkan di tengah mereka.

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad.

Kiranya penjelasan pada dua hadits sebelumnya telah mencukupi sehingga hadits ketiga ini tidak kita tambahkan dengan penjelasan. Dan masih sangat banyak hadits yang menjelaskan keutamaan para sahabat baik secara umum maupun masing-masing sahabat. Untuk membawakannya pada majelis ini tentu tidak memungkinkan sehingga para pembaca bisa merujuk pada kitab-kitab induk yang sebagiannya telah kami sebutkan.

Kesimpulan-kesimpulan:

1. Infak sahabat Nabi shallallahu ‘alaih  wa sallam walaupun hanya sebanyak setengah genggam tidak bisa disamai oleh infak dengan emas sebesar gunung Uhud oleh generasi setelah mereka.

2. Melihat dan bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaih  wa sallam adalah keutamaan tersendiri. Yang dimaksud dengan melihat dan bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah secara langsung bukan lewat mimpi. Karena melihat dan bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi melalui mimpi bisa didapatkan oleh generasi-generasi setelah para sahabat.

3. Prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mencintai dan loyal kepada para sahabat serta mendoakan mereka dengan kebaikan.

4. Terlihat sangat jelas keanehan sebagian kalangan yang mengaku sebagai Ahlussunnah namun mencela dan merendahkan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Entah mengatakannya sebagai orang yang telah pikun atau nepotisme dan seterusnya.

5. Para sahabat mendapatkan pahala dari amalan generasi berikutnya karena mereka yang pertama kali melaksanakannya dan menyampaikan kepada generasi berikutnya. Sehingga sangat besar pahala yang mereka dapatkan.

6. Pahala yang sedemikian besar akan menghapus dosa-dosa yang dilakukan oleh sebagian sahabat. Di tambah lagi Allah Ta’ala telah menerima taubat mereka, sehingga tidak ada jalan lagi bagi orang-orang yang ingin merendahkan dan mencari celah untuk menghina sahabat.

Wal hamdulillah.

Wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashhabihi ajma’in.