Pada majelis ini kita masih membahas  para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedudukan mereka yang sedemikian tinggi wajib untuk kita akui dan kita yakini, lalu kita sebarkan di tengah kaum muslimin agar mereka mengenal siapa teladan sejati bagi mereka. Selain pula untuk meluruskan apa yang telah keliru dipandang oleh sebagian awam kaum muslimin.

Pada majelis kita akan melihat sebagian ayat al-Qur’an yang menjelaskan kedudukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Kemudian akan kita bawakan beberapa kesimpulan dari tiap-tiap  ayat berikut:

1. Surat at-Taubah ayat 100:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Beberapa kesimpulan dari ayat di atas:

  • Kaum Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang yang pertama-tama masuk Islam.
  • Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang Allah ridhai dan mereka sebagai orang-orang ridha kepada Allah Ta’ala.
  • Pahala bagi orang yang Allah ridhai adalah surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya dan mereka kekal di dalamnya.
  • Kemenangan yang besar adalah mendapatkan keridhaan dari Allah dan mendapatkan surga-Nya.
  • Keridhaan Allah akan diberikan pula kepada orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, bukan yang melaknat, mencaci, merendahkan, menghina, dan mengutuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Surat at-Taubah ayat 117:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling. Kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Beberapa kesimpulan dari ayat di atas:

  • Allah Ta’ala telah memberikan taubat dan ampunan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
  •  Allah Ta’ala sangat pengasih dan penyayang kepada mereka.

3. Surat al-Fath ayat 18:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).

Beberapa kesimpulan dari ayat di atas:

  • Para sahabat adalah orang-orang yang telah dinyatakan oleh Allah sebagai orang-orang mukmin.
  • Keutamaan para sahabat yang mengikuti bait Ridwan.
  • Keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ‘umrah Hudaibiyah.
  • Keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dalam bait Ridwan karena beliau diwakili oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bait ini.

4. Surat al-Fath ayat 29:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Beberapa kesimpulan dari ayat di atas:

  • Di antara sifat para sahabat adalah bersikap keras terhadap orang-orang kafir namun berkasih sayang terhadap sesama mereka.
  • Para sahabat senantiasa sujud dan rukuk, juga menjaga shalat berjama’ah di masjid-masjid
  • Para sahabat telah mendapatkan rekomendasi dari Allah sebagai orang-orang yang menjaga rukuk dan sujud dalam rangka mengharap karunia dan keridhaan dari Allah, ikhlas karena Allah Ta’ala dalam beramal.
  • Pada air muka para sahabat terpancar keimanan dan kesucian hati mereka.
  • Ciri-ciri dan keutamaan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disampaikan dalam kitab Taurat dan Injil.
  • Ampunan dan pahala besar diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
  • Di antara amal saleh adalah mencintai dan mendoakan serta menyebut-nyebut kebaikan para sahabat.

5. Surat al-Hasyr ayat 8-9:

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8) وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar (jujur). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.

.

Beberapa kesimpulan dari ayat di atas:

  • Keutamaan kaum Muhajirin: dinyatakan oleh Allah sebagai orang-orang yang meninggalkan kampung halaman dan harta bendanya dalam rangka mencari karunia dan keridhaan-Nya.
  • Kaum Muhajirin dinyatakan oleh Allah sebagai orang-orang yang benar-benar menolong Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi  wa sallam.
  • Gelar sebagai orang-orang yang shadiqun (benar/jujur) diberikan oleh Allah kepada kaum Muhajirin.
  • Keutamaan kaum Anshar: dinyatakan oleh Allah sebagai orang yang beriman, mencintai kaum Muhajirin dengan penuh ketulusan, mendahulukan kaum Muhajirin di atas diri mereka walaupun dalam kesusahan, dan terpelihara dari sifat kikir.
  •  Gelar sebagai muflihun (orang-orang yang beruntung) diberikan oleh Allah kepada kaum Anshar.

6. Surat an-Nisa’ayat 115:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Beberapa kesimpulan dari ayat di atas:

  • Para sahabat adalah generasi kaum mukminin pertama. Mereka telah mendapatkan gelar dari Allah sebagai orang-orang yang beriman.
  • Perintah untuk mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti metode para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam memahami dan menjalankan agama Islam.
  • Ancaman bagi orang-orang yang menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluar dari metode kaum mukminin (para sahabat).
  • Pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum menjadi acuan pertama dan utama dalam memahami nash-nash syari’at, bukan diserahkan kepada setiap orang yang membaca dan menelaahnya.

Demikianlah sebagian ayat dari al-Qur’an yang bisa kita telaah pada majelis kali ini . Semoga pemaparan ringkas ini menambah keimanan dan kokohnya keyakinan bagi seluruh kaum muslimin, untuk kemudian mau mempelajari dan kembali menjalankan Islam ini dengan baik dan benar. Sehingga kemuliaan di dunia dan akhirat akan kita dapatkan bersama.

Pembahasan pada majelis setelah ini insya Allah masih tentang para sahabat dengan menelaah sebagian hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan dan larangan mencela mereka. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan para ulama dari kalangan sahabat dan setelah mereka dari kalangan tabi’in dan para imam setelah mereka pada majelis berikutnya insya Allah.

Wa shallallahu wa sallam wa baraaka ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa ashhabihi ajmain.