Pada majlis kali ini kita masih membahas para sahabat Nabi shallallahu ‘aliahi wa sallam dikarenakan sangat pentingnya permasalahan ini dan banyaknya syubhat dan kerancuan yang ditujukan untuk menurunkan kredibilitas para sahabat, bahkan untuk menghilangkan sama sekali kedudukan para sahabat di dalam hati kaum muslimin. Dengan demikian mereka akan mendapatkan peluang yang besar untuk meng-update agama ini mengikuti pola pikir dan hawa nafsunya. Lalu kaum muslimin akan sangat mudah untuk digiring menjauhi ajaran Islam yang suci, indah, dan penuh rahmat serta kedamaian ini. Atau akan tergambarkan di hadapan sebagian kalangan yang bodoh dan orang-orang kafir gambaran dan aroma Islam yang tidak sedap.

Oleh karena itu kita masih membahas tentang para sahabat terlebih telah banyak kalangan awam yang tanpa sadar terbawa arus syubhat itu. Juga sebagai salah satu upaya kita mengikuti tuntunan Allah Ta’ala dan agar tidak termasuk orang yang mengingkari nikmat-Nya, yaitu keberadaan para sahabat yang mulia, radhiyallahu‘anhum wa radhu ‘anhu:

إِنَّ الله يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ الله لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (QS. al-Hajj:38)

Di antara celah terbesar yang mereka gunakan adalah menyimpangkan sejarah dan menggambarkan perpecahan dan peperangan yang terjadi sesama sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dengan gambaran dan penilaian serta sisi-sisi kemungkinan yang buruk. Dengan kata lain membawakan perselisihan mereka kepada kemungkinan-kemungkinan yang buruk atau bahkan paling buruknya, tidak menggunakan kode etik praduga tak bersalah. Padahal Rasulullah shallallahu wa sallam telah memerintahkan kita untuk menahan lisan kita dari membicarakan para sahabat. Demikian pula dengan teladan para Salaf dan para imam kita sebagaimana telah disampaikan dalam majlis bertemakan: Membersihkan Lisan dari Mencela Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Untuk meluruskan persepsi dan pemahaman yang terlanjur salah, serta ikut memberikan pembelaan kepada orang-orang yang telah dinyatakan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang beriman, maka pada majlis kali ini kita bawakan penjelasan dari al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarah Shahih Muslim dengan judul yang beliau berikan yaitu kitab Fadhail ash-Shahabah. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:

وَأَمَّا عُثْمَان رَضِيَ الله عَنْهُ فَخِلَافَته صَحِيحَة بِالْإِجْمَاعِ ، وَقُتِلَ مَظْلُومًا ، وَقَتَلَتْهُ فَسَقَة ؛ لِأَنَّ مُوجِبَات الْقَتْل مَضْبُوطَة ، وَلَمْ يَجْرِ مِنْهُ رَضِيَ الله عَنْهُ مَا يَقْتَضِيه ، وَلَمْ يُشَارِكْ فِي قَتْله أَحَد مِنْ الصَّحَابَة ، وَإِنَّمَا قَتَلَهُ هَمَج وَرُعَاع مِنْ غَوْغَاء الْقَبَائِل وَسَفَلَة الْأَطْرَاف وَالْأَرْذَال ، تَحَزَّبُوا وَقَصَدُوهُ مِنْ مِصْر ، فَعَجَزَتْ الصَّحَابَة الْحَاضِرُونَ عَنْ دَفْعهمْ ، فَحَصَرُوهُ حَتَّى قَتَلُوهُ رَضِيَ الله عَنْهُ . وَأَمَّا عَلِيّ رَضِيَ الله عَنْهُ فَخِلَافَته صَحِيحَة بِالْإِجْمَاعِ ، وَكَانَ هُوَ الْخَلِيفَة فِي وَقْته لَا خِلَافَة لِغَيْرِهِ ، وَأَمَّا مُعَاوِيَة رَضِيَ الله عَنْهُ فَهُوَ مِنْ الْعُدُول الْفُضَلَاء ، وَالصَّحَابَة النُّجَبَاء رَضِيَ الله عَنْهُ وَأَمَّا الْحُرُوب الَّتِي جَرَتْ فَكَانَتْ لِكُلِّ طَائِقَة شُبْهَة اِعْتَقَدَتْ تَصْوِيب أَنْفُسهَا بِسَبَبِهَا ، وَكُلّهمْ عُدُول رَضِيَ الله عَنْهُمْ ، وَمُتَأَوِّلُونَ فِي حُرُوبهمْ وَغَيْرهَا ، وَلَمْ يُخْرِجْ شَيْء مِنْ ذَلِكَ أَحَدًا مِنْهُمْ عَنْ الْعَدَالَة ؛ لِأَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ اِخْتَلَفُوا فِي مَسَائِل مِنْ مَحَلّ الِاجْتِهَاد كَمَا يَخْتَلِف الْمُجْتَهِدُونَ بَعْدهمْ فِي مَسَائِل مِنْ الدِّمَاء وَغَيْرهَا ، وَلَا يَلْزَم مِنْ ذَلِكَ نَقْص أَحَد مِنْهُمْ . وَاعْلَمْ أَنَّ سَبَب تِلْكَ الْحُرُوب أَنَّ الْقَضَايَا كَانَتْ مُشْتَبِهَة ، فَلِشِدَّةِ اِشْتِبَاههَا اِخْتَلَفَ اِجْتِهَادهمْ ، وَصَارُوا ثَلَاثَة أَقْسَام : قِسْم ظَهَرَ بِالِاجْتِهَادِ أَنَّ الْحَقّ فِي هَذَا الطَّرَف ، وَأَنَّ مُخَالِفه بَاغٍ ، فَوَجَبَ عَلَيْهِمْ نُصْرَته ، وَقِتَال الْبَاغِي عَلَيْهِ فِيمَا اِعْتَقَدُوهُ ، فَفَعَلُوا ذَلِكَ ، وَلَمْ يَكُنْ يَحِلُّ لِمَنْ هَذِهِ صِفَتُهُ التَّأَخُّرُ عَنْ مُسَاعَدَة إِمَام الْعَدْل فِي قِتَال الْبُغَاة فِي اِعْتِقَادٍ . وَقِسْم عَكْس هَؤُلَاءِ ، ظَهَرَ لَهُمْ بِالِاجْتِهَادِ أَنَّ الْحَقّ فِي الطَّرَف الْآخَر ، فَوَجَبَ عَلَيْهِمْ مُسَاعَدَته ، وَقِتَال الْبَاغِي عَلَيْهِ . وَقِسْم ثَالِث اِشْتَبَهَتْ عَلَيْهِمْ الْقَضِيَّة ، وَتَحَيَّرُوا فِيهَا ، وَلَمْ يَظْهَرْ لَهُمْ تَرْجِيح أَحَد الطَّرَفَيْنِ ، فَاعْتَزَلُوا الْفَرِيقَيْنِ ، وَكَانَ هَذَا الِاعْتِزَال هُوَ الْوَاجِب فِي حَقِّهِمْ ، لِأَنَّهُ لَا يَحِلُّ الْإِقْدَام عَلَى قِتَال مُسْلِم حَتَّى يَظْهَرَ أَنَّهُ مُسْتَحِقٌّ لِذَلِكَ ، وَلَوْ ظَهَرَ لِهَؤُلَاءِ رُجْحَان أَحَد الطَّرَفَيْنِ ، وَأَنَّ الْحَقّ مَعَهُ ، لَمَا جَازَ لَهُمْ التَّأَخُّر عَنْ نُصْرَته فِي قِتَال الْبُغَاة عَلَيْهِ . فَكُلّهمْ مَعْذُورُونَ رَضِيَ الله عَنْهُمْ ، وَلِهَذَا اِتَّفَقَ أَهْل الْحَقّ وَمَنْ يَعْتَدُّ بِهِ فِي الْإِجْمَاع عَلَى قَبُول شَهَادَاتهمْ وَرِوَايَاتهمْ ، وَكَمَال عَدَالَتهمْ رَضِيَ الله عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ .

“Adapun ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu maka kekhalifahan beliau adalah sah berdasar ijma’. Beliau dibunuh sebagai pihak yang dizhalimi, sedangkan pihak yang membunuhnya adalah orang-orang fasik karena hal-hal yang membolehkan membunuh seseorang telah ditentukan (oleh syari’at Islam-pen) dan tidak ada tindakan dari beliau yang mengharuskan beliau pantas untuk dibunuh.

Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang ikut andil dalam membunuh beliau. Hanyalah yang membunuh beliau adalah gerombolan yang dipenuhi kekacauan dan orang-orang rendahan dari kabilah yang ada dan kalangan pinggiran. Mereka datang secara bergelombang dari Mesir dan menuju kepada beliau, sehingga para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang hadir ketika itu tidak mampu untuk melawan mereka. Lalu mereka mengepung beliau radhiyallahu ‘anhu hingga berhasil membunuhnya radhiyallahu ‘anhu.

            Adapun ‘Ali radhiyallahu ‘anhu maka kekhalifahan beliau adalah sah berdasar ijma’. Pada masa beliau maka beliaulah sebagai satu-satunya khalifah, tidak ada khalifah lain  selain beliau.

            Adapun Muawiyah radhiyallahu ‘anhu maka beliau termasuk dari kalangan ‘udul (orang-orang adil) dan fudhala’ (orang-orang yang memiliki keutamaan), serta termasuk dari jajaran  para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sedangkan perang yang terjadi maka masing-masing kedua pihak yang berperang memiliki syubhat dan meyakini kebenaran kelompoknya karena adanya syubhat itu dan tetap masing-masing dari para sahabat yang berperang adalah ‘udul (orang-orang adil), sebagai pihak yang memiliki landasan takwil (tafsir) dalam peperangan yang mereka lakukan dan selainnya. Keberadaan perang yang terjadi sesama para sahabat ini tidak lantas mengeluarkan seorang dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum dari sifat ‘adalah (sebagai orang-orang yang adil), karena mereka mereka semua adalah para mujtahid  yang berselisih dalam beberapa masalah yang termasuk dalam ruang lingkup ijtihad sebagaimana berselisihnya para ahli ijtihad setelah mereka dalam penentuan masalah darah dan selainnya. Namun tidaklah yang demikian ini (perselisihan pendapat dalam masalah ijtihadiyah-pen) menyebabkan kekurangan pada mereka.

            Ketahuilah bahwa sebab terjadinya perang itu adalah keberadaan masalah yang masih samar. Dikarenakan saking tersamarnya maka ijtihad mereka menjadi berbeda dan mereka terbagi menjadi tiga kelompok:

Satu kelompok tampak berdasar ijtihad bahwa kebenaran ada pada kelompok ini, sedangkan pihak yang menyelisihinya adalah pihak yang menyimpang. Sehingga wajib membela pihak yang benar ini dan memerangi pihak yang menyimpang dalam permasalahan yang mereka yakini. Lalu mereka melaksanakan hasil ijtihad itu. Tidak boleh bagi keadaan seseorang yang berada di pihak yang benar untuk menunda dalam memberikan bantuan kepada sang imam yang adil dalam memerangi pihak pemberontak karena mengikuti suatu keyakinan.

            Satu kelompok berkebalikan dengan kelompok di atas. Kelompok ini melihat berdasar ijtihad bahwa kebenaran berada pada pihak yang lain sehingga wajib membantunya dan memerangi pihak yang menyerangnya.

            Kelompok ketiga: permasalahan benar-benar rancu di hadapannya dan bingung dalam menentukan pilihan. Kelompok ini tidak bisa menentukan mana yang lebih kuat dari dua kelompok sebelumnya. Sehingga kelompok ketiga ini lebih memilih meninggalkan kedua kelompok sebelumnya. Dan sikap menjauhkan diri dan mengasingkan diri ini adalah sikap yang wajib untuk mereka tempuh karena tidak dibolehkan memerangi seorang muslim hingga benar-benar jelas sebagai pihak yang berhak untuk diperangi. Andaikan terlihat bagi mereka lebih benarnya salah satu pihak, dan bahwasanya kebenaran bersamanya, maka tentu tidak dibolehkan menunda pemberian bantuan kepadanya dalam memerangi pihak yang memberontak. Sehingga mereka semua radhiyallahu ‘anhum mendapatkan ‘udzur. Oleh karena itu para pengusung al-haq dan kalangan yang diperhitungkan dalam ijma’ bersepakat menerima persaksian dan riwayat mereka serta kesempurnaan keadilan mereka radhiyallahu ‘anhum ajma’in.”

 Selesai penukilan.

Tambahan penjelasan :

1. Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan mereka adalah orang-orang yang adil meskipun sempat saling berperang sesama mereka. Tidaklah perselisihan dan perang yang terjadi sesama mereka menjadikan mereka layak untuk dicela dan dicaci karena mereka semua adalah para mujtahid. Pihak yang salah dalam ijtihadnya akan mendapatkan satu pahala sedangkan pihak yang benar dalam ijtihadnya akan mendapatkan dua pahala. Adapun yang tercela adalah orang yang merendahkan harkat, martabat, dan kedudukan serta kehormatan para sahabat radhiyallhu ‘anhum.

2. ‘Utsman radhiyallah ‘anhu lebih memilih jalan kesabaran dan tidak mengerahkan para sahabat menghunuskan pedang. Beliau mengambil sikap ini karena telah mendapatkan berita gembira dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau akan meninggal sebagai syahid:

وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ

Dan sampaikan berita gembira berupa jannah (surga) namun melewati musibah yang menimpanya. Muttafaq ‘alaihi.

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan arahan dalam menghadapi musibah yang akan menimpanya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عُثْمَانُ ! إِنَّ اللهَ مُقَمِّصُكَ قَمِيصًا فَإِنْ أَرَادَكَ الْمُنَافِقُونَ عَلَى خَلْعِهِ فَلَا تَخْلَعْهُ حَتَّى تَلْقَانِي

Wahai ‘Utsman, sesungguhnya Allah akan memakaikan sebuah baju kepadamu. Jika orang-orang munafik itu ingin melepaskannya darimu maka janganlah kamu melepaskannya hingga kamu bertemu denganku. HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah.

Baju yang dipakaikan kepada ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu adalah kekhalifahan. Sedangkan pihak yang memaksa beliau melepas baju itu adalah orang-orang munafik sebagaimana  yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu lebih memilih hidup yang penuh kedamaian hakiki, penuh dengan ketenangan, kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan yang abadi serta menyusul Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau yang mulia itu di jannatunna’im. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kesimpulan-kesimpulan penting:

  1. Para sahabat adalah orang-orang yang telah mendapatkan pengakuan dari Allah Ta’ala sebagai orang-orang yang adil dan jauh dari ambisi dunia.
  2. Kedudukan para sahabat tidak tercoreng karena kesalahan ijtihad mereka.
  3.  ‘Utsman radhiyallah ‘anhu sahabat yang mulia, seorang syahid, memimpin dengan penuh keadilan, dan beliau tidak pikun.
  4.  ‘Ali radhiyallahu ‘anhu khalifah setelah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Beliau sebagai khalifah yang sah ketika itu.
  5. Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma adalah sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa salam. Memiliki kehormatan dan kedudukan yang harus dihornati oleh seluruh kaum muslimin. Semoga dimudahkan unuk menulis pembahasan tersendiri terkait dengan kedudukan, keutamaan, dan kehormatan beliau agar kaum muslimin tidak latah ikut-ikutan mencela dan menghina beliau. Bahkan ada yang menyatakan beliau radhiyallahu ‘anhu sesat dan murtad. Na’udzubillah tsumma na’udzu billah dari pernyataan mereka itu.
  6. Perselisihan para sahabat dalam permasalahan yang dibolehkan ijtihad di dalamnya. Pihak yang salah mendapat satu pahala dan pihak yang benar mendapat dua pahala.
  7. Gerombolan yang mengepung dan membunuh ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, serta memaksa beliau untuk melepaskan kekuasaan adalah orang-orang munafik.
  8. Di antara ciri munafik adalah mencela ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.
  9. Di antara ciri munafik adalah memberontak pemerintah kaum muslimin.
  10. Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang ikut menumpahkan darah sang khalifah yang adil ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
  11. Pentingnya mempelajari sejarah dengan benar agar tidak tertipu oleh penyusupan dan pembelokan sejarah yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam.
  12. Di antara prinsip pokok Ahlussunnah adalah tidak membicarakan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dengan kebaikan.