Allah subhanahu wa ta’ala Memilih Pilihan-Nya

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Mahaberkehendak. Allah juga memilih sesuatu sesuai dengan kehendak dan hikmah-Nya. Dari sekian banyak makhluk yang Allah Ta’ala pilih untuk mengemban risalah terakhir dan sekaligus sebagai penutup para nabi adalah seorang dari bangsa Arab. Demikian pula Allah memilih Jibril sebagai penyampai wahyu kepada Nabi-Nya yang terakhir itu. Kemudian Allah ‘azza wa jalla memilihkan untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang terbaik setelah para nabi untuk menemani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendakwahkan Islam. Kemudian Allah Ta’ala menjadikan orang-orang terbaik itu sebagai generasi pertama yang melanjutkan dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu mendakwahkan Islam kepada seluruh umat manusia dan kepada seluruh suku bangsa. Mereka adalah para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anum.

Allah Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمْ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ الله وَتَعَالى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. al-Qashash: 68)

            Sehingga akan sangat aneh dan janggal mereka yang mengatakan adanya kesalahan penyampaian wahyu yang seharusnya diberikan kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu malah diberikan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau telah salah memilihkan orang-orang yang menemani Nabi-Nya yang terakhir shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendakwahkan Islam. Pada hakikatnya keyakinan seperti ini dan yagn semisalnya adalah keyakinan yang intinya adalah mengkritisi Allah Ta’ala dalam memilih. Tidak lain dan tidak bukan upaya melancarkan keyakinan batil seperti ini adalah untuk meruntuhkan dan menghancurkan Islam dari pondasi-pondasi pokoknya.

Pilihan Allah Ta’ala untuk Umat Manusia

  Sebagaimana telah dikemukakan pada awal pembahasan bahwasanya di antara pilihan Allah  Ta’ala adalah memilih orang-orang tertentu untuk menemai Nabi-Nya dalam menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh umat manusia. Dan menjadikan orang-orang itu sebagai penerus beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyampaikan risalah Islam sehingga menyebar di seluruh penjuru dunia. Kemudian di masa mereka dunia benar-benar dilingkupi keamanan, ketentraman, keadilan sosial, kedamaian, kesejahteraan, dan benar-benar penuh kerakyatan. Orang-orang itu kemudian dikenal dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

            Sehingga tidak heran banyak makar jahat yang dilancarkan untuk menjatuhkan kredibiltas para sahabat. Tentunya selain agar bisa melancarkan hawa nafsu kebinatangannya dan agar tidak terkekang, juga untuk merobohkan salah satu pondasi tegaknya Islam.

Namun tidak jarang pula kita mendengar sebagian kaum muslimin, terlebih kalangan awam yang latah meniru dan sekaligus – tanpa ia menyadarinya – sebagai penyambung lidah para penjahat itu dalam menyebarkan celaan dan kritikan terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

            Pada pembahasan kali ini kita bawakan pernyataan seorang khalifah yang dikenal keadilannya, yaitu Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah. Pernyataan beliau di bawah ini disampaikan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Hilyatul Auliya’ (Perhiasan Para Wali):

“al-Imam asy-Syafi’i mengatakan:

سُئِلَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ قَتْلَى صِفِّين فَقَال دِمَاءٌ طَهَّرَ اللهُ يَدِي مِنْهَا لَا أُحِبُّ أُلَطِّخُ لِسَانِي بِهَا.

‘Umar bin ‘Aziz pernah ditanya tentang sebagian sahabat yang meninggal pada perang Shiffin. Lalu ia menjawab: Darah mereka adalah darah yang Allah telah menyelamatkan (membersihkan) tanganku dari darah mereka, maka aku tidak senang untuk mengotori lisanku dengan membicarakan mereka.

Hilyatul auliya’ (4/105, Maktabah Syamilah)

Demikianlah seharusnya seorang muslim dalam menilai, memandang, dan menyikapi para sahabat. Terlebih telah ada wasiat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita menjaga nama baik para sahabat. Sedangkan para ulama telah berselisih pendapat tentang hukuman bagi orang yang mencela satu orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dibunuh atau dihukum hingga jera dan tidak lagi mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah kita ketahui pada tema Membela Kehormatan Para Sahabat Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam’.

            Sedangkan pada tema kali ini kita telah mengetahui bagaimana seharusnya sikap kita berkaitan dengan perselisihan yang terjadi di antara para sahabat. Yaitu berusaha menjaga lisan kita agar tidak ikut campur di dalamnya dengan mencela atau merendahkan sebagian sahabat. Dan ini pula sikap seorang muslim dan seorang Ahlussunnah wal Jama’ah yang merupakan sikap seorang sunni, bukan malah bergandengan tangan dengan para pencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan pula dengan latah menirukan kata-kata para pencela itu.

            Demikianlah, semoga pembahasan ini menambah ilmu kita sehingga bisa melangkah dan bersikap dengan benar terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Beberapa kesimpulan:

 1. Umat sangat butuh mengetahui teladan para Salaf dalam menjalani kehidupan di dunia agar selamat di dunia dan akhirat.

2. Tidak menjadi manusia yang latah, asal melihat banyak orang mengatakan lantas ikut menyuarakan.

3. Pilihan Allah Ta’ala adalah pilihan yang terbaik bagi si hamba jika mereka mau memahaminya, namun kebanyakan manusia tidak bersyukur.