Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah ta’ala. Dan hanyalah Islam agama yang akan diterima dari seorang hamba ketika menghadap kepada-Nya. Dengan demikian Islam-lah agama yang benar, selain Islam adalah agama yang tidak benar, entah Yahudi, Nasrani, atau selainnya. Oleh karena itu kalangan ahli kitab (terutama kaum Yahudi) sangat berambisi untuk merobohkan Islam, karena mereka sangat memahami dan mengetahui bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan terakhir yang harus mereka ikuti. Bahkan mereka mengenali beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri. Sekian banyak makar dan tipu daya mereka lancarkan untuk menyerang Islam. Berbagai cara mereka tempuh agar Islam dijauhi dan dinilai buruk. Namun:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. (QS. Ash-Shaff:8)

Di antara cara mereka untuk menjatuhkan Islam adalah dengan menjatuhkan kewibawaan dan kredibilitas para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga muncullah sekte Syi’ah yang merupakan aliran bentukan ‘Abdullah bin Saba’ al-Yahudi dengan mengusung berbagai keyakinan sesat agar kaum muslimin menjadi ragu dan bingung tentang agamanya. Di antara kesesatan mereka adalah mencela dan memusuhi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama Abu Bakar as-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma.

Dalam tema kali ini kita hendak mengetahui prinsip dasar yang harus diyakini oleh seorang muslim berkaitan dengan hak para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagai konsekuensi baginya ketika telah mengucapkan syahadat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasul Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mencela para sahabat:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela para sahabatku, andaikan salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan bisa menyamai satu mud infak mereka, bahkan tidak pula bisa menyamai setengah mud (dari makanan atau apapun yang mereka infakkan)[1]. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah dalam Syarah Muslim mengatakan:
“Ketahuilah bahwasanya mencela sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah haram, termasuk perkara haram yang sangat keji. Baik kalangan sahabat yang dicela itu ikut dalam fitnah (perang Shiffin) atau yang tidak ikut serta dalam perang ini, karena mereka semua adalah para mujtahid dalam ikut perang itu. Dan masing-masing dari mereka memiliki takwilan (penafsiran) sebagaimana telah kami jelaskan dalam Fadhail ash-shahabah dari syarah ini.

Al-Qadhi (‘Iyadh) rahimahullah mengatakan: Mencela salah seorang dari mereka (para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk perbuatan maksiat (atau dosa) besar. Menurut madzhab kami dan jumhur orang yang mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diberi pelajaran, bukan dibunuh. Sedangkan sebagian kalangan Malikiyah berpendapat dibunuh.”

Kemudian Imam An-Nawawi rahimahullah menukilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh lagi:

“Apa yang telah kami paparkan dalam permulaan bab Fadhail ash-Shahabah dari jumhur (mayoritas) ulama mempertegas permasalahan ini, yaitu diutamakannya seluruh para sahabat di atas seluruh generasi setelah mereka.” Selesai penukilan.

Hukum mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari Syarah Shahih Al-Bukhari menjelaskan –ketika memberikan penjelasan untuk hadits di atas -:

“Telah diperselisihkan hukum tentang orang yang mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan:

  • Jumhur berpendapat orang yang mencela shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi ta’zir (hukuman yang menimbulkan efek jera).
  • Sedangkan dari sebagian kalangan Malikiyah berpendapat dibunuh.
  • Sebagian kalangan Syafi’iyyah mengkhususkan hukum bunuh ini bagi orang yang mencela Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Hasan dan Husain.

Kemudian al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menyampaikan bahwa tentang orang yang mencela al-Husain ada dua pendapat. Sedangkan as-Subki menguatkan pendapat hukum dibunuh bagi orang yang mengkafirkan Abu Bakar dan ‘Umar.

Demikian pula hukuman bagi orang yang mengkafirkan sahabat yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keimanannya dan beliau memberinya kabar gembira berupa al-jannah (surga) apabila mutawatir riwayatnya. Karena sikap yang demikian ini (mencela atau bahkan mengkafirkan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) termasuk perbuatan mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Selesai penukilan.

Perhatikanlah wahai saudaraku kaum muslimin, para ulama berselisih pendapat tentang hukum orang yang mencela sahabat radhiyallahu ‘anhum apakah dibunuh atau cukup diberi hukuman agar jera sebagaimana telah kita simak bersama penjelasan dari Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahumallah.

Lalu bagaimana halnya dengan orang yang mencela ‘Utsman dengan mengatakan mulai ‘pikun’. Bagaimana pula dengan gerombolan pengacau Syi’ah yang kerjaannya melaknat Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma? Lalu apakah Sunni akan sanggup bergandengan tangan dengan Syi’ah setelah mengetahui prinsip seperti ini? Masihkan seorang sunni akan menyerukan persekutuan Sunni-Syi’ah sedangkan mereka masih terus mencela dan bahkan mengutuk sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Ataukah memang si ‘sunni’ itu telah teracuni dan terjangkiti oleh pemahaman kotor dan najis dari Syi’ah? Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari kesesatan dan dosa besar itu.

Wallahul muwaffiq wal Hadi ila sawaishshirath.

Kesimpulan-kesimpulan:

  1. Mencela sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun hanya satu  orang adalah dosa besar.
  2. Di antara prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mendoakan kebaikan bagi para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
  3. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum orang-orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan tinggi dalam Islam.
  4. Tidak mencela semua para sahabat radhiyallahu ‘anhum termasuk yang terlibat dalam perang Shiffin dan Jamal karena mereka semua mujtahid.
  5. Perbedaan pendapat dalam hal memberikan hukuman bagi orang yang mencela sahabat radhiyallahu ‘anhum: di-ta’zir (hukuman yang memberikan efek jera) atau dibunuh. Bukan dengan memberikan toleransi kepada para pencela itu.
  6. Mencintai sahabat radhiyallahu ‘anhum menjadi bagian dari kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  7. Persatuan Sunni-Syi’ah tidak akan terwujud kecuali jika si ‘sunni’ mengikuti atau membiarkan keyakinan sesat Syi’ah atau si syi’ah bertaubat dan kembali kepada pemahaman Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah).
  8. Pentingnya mempelajari prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah agar tidak tergolong dalam 72 golongan  yang masuk neraka.

Doa seorang sunni untuk para sahabat radhiyallahu ‘anhum:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hasyr: 10)


[1] Tambahan penjelasan dalam kurung dari Fathul Bari karya Ibnu Hajar