Manusia digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti kerajaan dengan rajanya. Jika raja itu baik maka akan baiklah rakyat yang dipimpinnya. Dan jika raja itu rusak maka akan rusak pula rakyatnya. Dan raja itu adalah hati atau kalbu, sedangkan rakyatnya adalah anggota badan. Sehingga ada korelasi dan hubungan erat antara bagusnya hati dengan bagusnya amalan yang dilakukan oleh anggota badan.

            Untuk kali ini kita akan mengetahui tanda-tanda rusaknya hati sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاء الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاء تَأْوِيلِهِ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. (Ali Imran:7)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini:

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan“: yaitu orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan dan ingin keluar dari al-haq (kebenaran) untuk menuju (memperkuat mengusung/ melariskan/ mempertahankan) kebatilan.

“Maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat darinya”: ia hanyalah akan mengambil bagian yang mutasyabih, yaitu bagian ayat yang memungkinkan bagi mereka untuk menyeret maknanya kepada tujuan-tujuan/ambisi-ambisi rusaknya. Lalu mereka akan menempatkan yang mutasyabih pada ambisi/pikiran rusak tersebut karena adanya sisi kemungkinan yang masih bisa mereka gunakan untuk menyeret paksa makna ayat. Adapun bagian ayat yang muhkam, maka tidak ada lagi sisi bagi mereka (yang bisa mereka manfaatkan untuk melariskan pemikiran rusak atau mewujudkan ambisi rusaknya-pen), karena ayat yang muhkam akan menjadi penghancur dan menghujat mereka sendiri.

“untuk menimbulkan fitnah”: yaitu untuk menyesatkan pengikut mereka. Dengan cara mengelabuhi para pengikut bahwa mereka memiliki hujah dalam kebid’ahan mereka dari al-Qur’an. Padahal hujah yang mereka gunakan akan menjadi bumerang bagi mereka, bukan sebagai penguat bagi mereka.

Sebagai contoh kasus: apabila ada orang Nasrani membawakan dalil bahwa al-Qur’an telah menyatakan bahwa ‘Isa adalah ruh Allah, kalimat-Nya yang diletakkan pada rahim Maryam, dan ruh dari-Nya. Namun sebaliknya mereka tidak mau menjadikan ayat ini sebagai dalil, yaitu:

إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (QS. az-Zukhruf:59)

Dan firman Allah:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. Ali Imran:59)

Dan ayat-ayat selainnya yang muhkam dan menjelaskan dengan gamblang bahwa ‘Isa adalah salah satu makhluk dari makhluk-makhluk (yang) Allah ciptakan. Beliau seorang hamba dan salah seorang rasul (utusan) dari sekian banyak rasul Allah.

“dan untuk mencari-cari takwilnya”: yaitu menyimpangkan ayat-ayat mutasyabih sesuai dengan takwilan (pemahaman/penafsiran) yang mereka inginkan.” Selesai penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir Surat Ali Imran ayat 7.

Kemudian Ibnu Katsir rahimahullah membawakan sebuah hadits dengan menjelaskan jalur-jalur periwayatannya dan para imam ahli hadits yang meriwayatkannya. Di antara yang meriwayatkan hadits di bawah ini adalah al-Imam al-Bukhari, al-Imam Muslim, Abu Daud, dan selain mereka. Mereka meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallaha ‘anha: Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat:

هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات …. وما يذكر إلا أولو الألباب

Yaitu ayat ke-7 dari surat Ali Imran.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فإذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih dari al-Qur’an, maka itulah orang-orang yang telah Allah sebutkan (sebagai orang-orang yang hatinya telah menyimpang-pen). Maka berhati-hatilah kalian darinya.

Ibnu Katsir menyatakan: Redaksi hadits ini adalah riwayat al-Bukhari.

            Demikianlah para pemerhati blog yang dirahmati Allah…

            Di antara kandungan dari ayat ke-7 dari surat Ali Imran, yaitu menjelaskan kepada kita orang-orang yang hatinya telah menyimpang dan condong kepada kesesatan. Yaitu mereka akan mengikuti ayat-ayat yang bisa dibawa ke sana ke mari sesuai dengan kemauan dan keinginan mereka untuk membenarkan pendapat, pandangan, teori, keyakinan, akidah, amalan, dan semua yang mereka maukan. Sehingga ketika mereka membawakan ayat al-Qur’an akan membuat orang-orang yang tidak berilmu menjadi terpukau, kagum, dan meyakini serta terpengaruh dan mengikuti propaganda sesat yang ia tebarkan.

            Contoh kasus orang yang telah menyimpang hatinya dan ia menjadikan sebagian ayat al-Qur’an sebagai penguat dan pendukung keyakinannya yang salah adalah contoh kasus yang dibawakan oleh Ibnu Katsir di atas. Yaitu orang nasrani yang membawakan ayat al-Qur’an untuk mendukung keyakinan salah mereka tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Dan untuk memahami yang benar tentang Nabi ‘Isa ‘alaihissalam telah dibawakan oleh Ibnu Katsir tentang beliau setelahnya.

            Semoga para pemerhati blog ini semakin berhati-hati dan tidak mudah tertipu oleh mereka yang menamakan dirinya sebagai dai, juru dakwah, ustadz, kiyai, syaikh, atau alim ulama, namun yang mereka bawakan hanyalah untuk mendukung ide, kelompok, golongan, partai, keyakinan batil, amalan batil, dan sebagainya dari kebatilan-kebatilan.

            Hendaklah kita memerhatikan dan mengingat pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

maka itulah orang-orang yang telah Allah sebutkan, maka berhati-hatilah kalian darinya.

 

Peringatan lain dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

            Al-kisah, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu menuturkan:

“Dahulu orang-orang bertanya tentang kebaikan dan aku bertanya tentang kejelekan karena khawatir akan menimpaku. Maka aku bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, dahulu kami di dalam kejahiliyahan dan keburukan. Kemudian Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan? Beliau menjawab: Ya, ada.

Kemudian aku tanyakan lagi: Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan? Beliau menjawab: Ya, ada. Namun ada dakhan (kekeruhan) padanya.

Aku tanyakan: Apakah dakhannya itu?

Beliau menjawab: Kaum yang mengambil petunjuk bukan petunjukku. Kamu bisa mengenali mereka kemudian kamu mengingkarinya.

Aku tanyakan lagi: Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan?

Beliau menjawab: Ya, ada. Para dai yang mengajak ke pintu Jahannam. Barang siapa yang memenuhi ajakannya akan ia lemparkan ke dalamnya.

Aku bertanya: Wahai Rasulullah, terangkan ciri mereka kepada kami!

Beliau menjawab: Mereka masih dari kalangan yang sama dengan kita, berbahasa dengan bahasa kita.

Aku tanyakan: Lalu apa yang engkau perintahkan jika aku menjumpai keadaan itu?

Beliau menjawab: Berpeganglah dengan jama’ah kaum muslimin dan imam mereka. apabila tidak ada jama’ah dan tidak ada imam?

Beliau menjawab: Tinggalkan semua kelompok yang ada walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga kematian menjemputmu sedangkan kamu masih seperti itu. HR. al-Bukhari

Sebuah kisah yang sangat bermanfaat untuk kita renungi, mencermati, dan memerhatikannya. Semoga kita dan seluruh kaum muslimin dijauhkan dari para dai yang mengajak ke pintu-pintu Jahannam.

Lalu bagaimana untuk mengenali ayat yang muhkam dan mutasyabihat? Insya Allah akan kita bahas pada kesempatan yang lain. 

Kesimpulan-kesimpulan penting:

  • Allah subhanahu wa ta’ala Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga Ia juga menjelaskan hakikat qalbun salim (hati yang sehat) dan hati yang sakit dan senang kepada kesesatan.
  • Adanya ayat yang muhkam dan ayat yang mutasyabih.
  • Ciri orang yang hatinya menyimpang adalah mencari-cari ayat mutasyabih.
  • Pentingnya mendalami ilmu agama agar bisa memahami dengan baik ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Menjauhi dan berhati-hati dari orang-orang yang telah menyimpang hatinya meskipun membawakan ayat dan hadits karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan yang demikian ini:
  1. فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم

maka itulah orang-orang yang telah Allah sebutkan, maka berhati-hatilah kalian darinya.

  • Pentingnya mengenali dai yang mengajak kepada pintu surga dan yang mengajak kepada pintu jahannam agar tidak terjerumus ke dalam Jahannam.