Persatuan dan kesatuan adalah suatu yang didambakan oleh banyak pihak. Bahkan juga didengungkan oleh semua bangsa, baik yang muslim maupun yang kafir. Karena dalam persatuan dan kesatuan akan didapatkan di dalamnya ketentraman, kedamaian, dan kebersamaan. Yang kemudian akan berdampak pada kesejahteraan bersama. Dan sebaliknya ketika persatuan dan kesatuan tidak terwujud akan muncul berbagai gesekan. Selanjutnya akan muncul panas dan bisa menjadi api yang berubah menjadi kebakaran yang besar. Lalu harapan hidup damai, tenang, dan sejahtera hanya sekadar angan-angan dan mimpi belaka.

Oleh karena itu Islam sangat menganjurkan persatuan dan kebersamaan sesama manusia untuk meraih kehidupan yang harmonis, damai, dan maju. Kehidupan yang didambakan ini tidak akan tercapai ketika masing-masing kompenan tidak lagi mau mengetahui perannya. Masing-masing memilih jalan pikiran sendiri-sendiri, mengambil teori-teori yang dihasilkan oleh pikiran manusia. Sehingga terlihat oleh kita perpecahan dimana-mana, huru hara menyebar, ketakutan lebih menguasai, dan kekhawatiran demi kekhawatiran terus membayangi tiap anak negeri ini. Ditambah lagi dengan Iblis dan pasukannya yang memang musuh utama manusia. Ia tidak akan senang melihat anak manusia bisa berjalan dengan damai dan sejahtera. Iblis telah bersumpah di hadapan Allah:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad:82)

Dalam sebuah hadits dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Bahwasanya Setan telah berputus asa dari ia disembah oleh orang-orang yang mendirikan shalat di jazirah Arab. Akan tetapi (ia masih memiliki celah) dalam membuat pertengkaran sesama mereka. HR. Muslim

Dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi asy-Syafii rahimahullah: “Setan telah melemah harapannya untuk ia disembah di jazirah Arab. Akan tetapi ia masih akan berusaha untuk menimbulkan perpecahan di antara mereka, baik dengan percekcokan, permusuhan, peperangan, fitnah-fitnah (huru hara), dan semacamnya.” (Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi)

Inilah sumpah Iblis untuk menyimpangkan kita semua. Juga cara-cara Iblis untuk menyimpangkan manusia, yaitu di antaranya dengan menimbulkan percekcokan, pertengkaran, fitnah-fitnah, dan peperangan. Sehingga tiada jalan lain bagi kita kecuali bersatu padu untuk melawannya agar kita bisa selamat dari godaan, tipuan, propaganda, slogan-slogan serta hasutan yang diusungnya. Untuk kemudian bisa mewujudkan kehidupan yang damai, sejahtera, adil, makmur, aman dan sentosa.

Hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala  yang mampu menyatukan hati para hamba

Allah ta’ala berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal:63)

Ibnu Katsir al-Qurasyi asy-Syafi’i rahimahullah dalam tafsirnya yang terkenal menjelaskan:

“Allah yang menyatukan mereka (para sahabat dari kalangan Anshar radhiyallahu ‘anhum ajma’in-pen) di atas keimanan kepadamu (wahai Nabi). Dan di atas ketaatan, pembelaan, dan dukungan untukmu. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka karena adanya permusuhan dan kebencian sesama mereka. Karena dahulu di masa jahiliyah terjadi sekian banyak pertempuran sesama kaum Anshar (sebelum mereka masuk Islam-pen), yaitu sekian lama peperangan antara suku Aus dan Khazraj. Juga karena adanya berbagai hal yang berdampak pada kejahatan yang berkelanjutan. Hingga kemudian Allah subhanahu memupus itu semua dengan cahaya iman. Sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan:

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian Karena nikmat Allah sebagai orang-orang yang bersaudara; padahal kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dalam kisah kaum Anshar yang membicarakan harta ghanimah perang Hunaian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka:

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَمْ أَجِدْكُمْ ضُلَّالًا فَهَدَاكُمُ الله بِي، وَعَالَةً فَأَغْنَاكُمُ الله بِي، وَكُنْتُمْ مُتَفَرِّقِينَ فَأَلَّفَكُمُ الله بِي

Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah dahulu aku jumpai kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberikan hidayah kepada kalian melalui aku. Aku dapati kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah membuat kalian kaya melalui aku. Dan dahulu kalian berpecah belah lalu Allah menyatukan kalian denganku.

Kemudian Allah subhanahu berfirman:

وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Akan tetapi Allah yang mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Selesai penukilan dari Tafsir Ibnu Katsir.

Dengan demikian jelaslah bahwaa meskipun seluruh manusia berupaya sekuat tenaga dan mencurahkan semua harta kekayaan yang mereka miliki untuk menyatukan manusia, maka tidaklah akan bisa terwujud ketika Allah tidak menghendakinya.

Oleh karena itu ketika kita telah memiliki keinginan dan niatan untuk bersatu hendaklah kita menempuh jalannya sesuai dengan apa yang Allah syari’atkan. Bukan dengan pandangan akal dan pendapat pribadi masing-masing. Bukan pula berdasar pada sekadar semangat untuk berkumpul dan bersatu namun jauh dari nilai-nilai persatuan yang hakiki.

Kejujuran kita untuk meraih persatuan

Jujurlah dalam mewujudkan niatan dan cita-cita kita ini agar Allah ta’ala memberikan kemudahan bagi kita. Kita telah mengikrarkan minimalnya 17 kali dalam sehari semalam bahwa:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanyalah kepada-Mu ya Allah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. (QS.al-Fatihah)

Kita telah berikrar bahwa hanyalah kepada Allah kita memohon pertolongan. Dan pertolongan itu akan Allah berikan ketika kita benar-benar mewujudkan tuntunan syari’at-Nya.

Maka bersatulah dalam naungan wahyu-Nya. Pastilah kesejahtaraan dan kedamaian yang kita cita-citakan akan terwujud.

Lalu apa saja yang harus kita lakukan agar persatuan dan kesatuan yang kita cita-citakan itu terwujud? Untuk permasalahan ini akan kita bawakan sebagiannya dalam pembahasan tersendiri insya Allah.

Beberapa kesimpulan penting:

  1. Hanyalah Allah ta’ala yang bisa menyatukan hati-hati manusia.
  2. Walaupun seluruh harta di muka bumi digunakan untuk menyatukan manusia namun tidak di atas tuntunan-Nya, upaya ini hanyalah sia-sia belaka. Terlebih apabila digunakan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin.
  3. Keimanan yang benar menjadi modal utama dalam meraih persatuan dan kesatuan yang hakiki.

***