Dalam sebuah atsar shahih mauquf yang diriwayatkan al-Imam al-Baihaqi rahimahullah dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengisahkan …

Ada seorang rahib ahli ibadah, mengibadahi Allah di biaranya selama enam puluh (60) tahun. Kemudian datanglah seorang wanita dan singgah di biaranya. Si rahib itu kemudian berzina dengan wanita itu selama enam malam. -Wal ’iyadzu billah-

Kemudian karena menyesal, si rahib itu pergi lari dan singgah di satu masjid dan tinggal di sana selama tiga hari tidak makan apapun. Dia pun diberi satu potong roti. Ketika ada dua orang miskin, dia belah roti itu menjadi dua dan memberikan setengah roti ke salah seorang yang ada di sebelah kanannya dan memberikan setengah yang lain kepada orang lain yang ada di sebelah kirinya. Padahal sebenarnya dialah yang sangat membutuhkan.

Kemudian Allah mengutus malaikat maut untuk mencabut ruhnya. Dan dicabutlah ruhnya.

Ketika hari perhitungan amal, amal ibadahnya selama 60 tahun ditimbang dengan perbuatan zina dia selama enam malam. Namun yang lebih berat adalah perbuatan zinanya selama enam malam. Masih ada lagi satu amalan shalihnya, yaitu sedekahnya dia dengan roti. Kemudian ditimbang dengan perbuatan zinanya selama enam malam. Dan yang lebih berat timbangannya adalah sedekahnya dia dengan roti tersebut. (Dari al-Mathalib al-Aaliyah karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah no. 3561 dan dinyatakan Ibnu Hajar: Shahih Mauquf)

Sehingga dia terselamatkan dengan sedekahnya dengan roti tersebut. Padahal seringnya kita menganggap sepele bersedekah dengan perkara yang kita anggap kecil.

Siapakah di antara kita sekarang yang mengkhususkan diri untuk beribadah selama enam puluh (60) tahun tanpa diselingi dengan perbuatan jelek? Ini dia si rahib perbuatan jeleknya selama enam hari tapi mengalahkan ibadahnya kepada Allah selama enam puluh tahun. Enam malam mengalahkan ibadah enam puluh tahun. Sedang kita setiap hari tidak luput dari kekeliruan dan kesalahan. Kita memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

Kita sekarang mengganggap bahwa amal shalih kita banyak dan amal jelek kita sedikit, dan merasa yakin akan masuk surga tanpa masuk neraka.

Demikian juga hendaknya kita tidak menganggap sepele ibadah yang kelihatannya kecil, karena mungkin dengan keikhlasan dan sesuainya dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga bernilai besar di sisi Allah. Sehingga kita berusaha untuk mengisi hidup kita dengan amal shalih.

Kemudian kisah ini tidak bisa dijadikan alasan kita untuk hidup seperti rahib, sebab dalam islam tidak rahbaniyyah, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah dengan tidak menikah, beliau mengucapkan: “Ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah daripada kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu a’lam.