Al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab berkata: Yang dituduh membuat shalat raghaib adalah Abdullah bin Juhdham. Ia mengadakan shalat itu berdasar hadits yang semua perawinya tidak dikenal dan belum pernah ditemui dalam semua kitab yang ada.

Asalnya ialah apa yang diceritakan oleh at-Thurthusyi dalam kitabnya, ia berkata: Abu Muhammad al-Maqdisi mengabarkan kepadaku, katanya:

“Shalat raghaib yang dikerjakan pada bulan rajab dan sya’ban itu tidak pernah ada di kalangan kita di Baitul Maqdis. Dan pertama kali terjadi pada kita yaitu pada tahun 448 H. Saat itu ada seorang dari Nablis datang ke tempat kita di Baitul Maqdis yang bernama Ibnu Abi Hamra. Ia adalah orang yang baik dalam membaca al-Qur’an. Lalu ia mengerjakan shalat di Masjidil Aqsha pada malam pertengahan bulan sya’ban (nishfusy sya’ban) dan datanglah seorang untuk turut shalat di belakangnya, lantas bergabunglah orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya hingga jamaahnya menjadi banyak.

Kemudian ia datang lagi pada tahun kedua dan mengerjakan sebagaimana semula bersama orang banyak, sehingga shalat itu tersebar di Masjidil Aqsha dan meluas hingga rumah-rumah dan tempat-tempat penduduk. Dan sejak saat itu terus berkelanjutan seakan-akan shalat itu adalah sunnah, hingga pada zaman kita sekarang.

Dan ditanyakan ke orang itu setelah dia meninggalkan shalat raghaib itu: ‘Kami melihat engkau melakukan shalat itu secara berjamaah?’ Dia menjawab: ‘Ya. Dan aku sekarang meminta ampun kepada Allah dari mengada-adakan shalat itu’.” At-Thurthusyi juga berkata: “Sedangkan shalat pada bulan rajab tidak pernah terjadi di kalangan kita di Baitul Maqdis, kecuali setelah tahun 480 H. Sebelum itu kami tak pernah melihat dan tidak mendengarnya.”

Sumber: Al-Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘An Al-Ibtida’