Kapan saatnya seorang berbicara?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Lihat al-Adzkar hal. 280)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.” (Lihat al-Adzkar hal. 284)

Bagaimana bila diam dan bicara sama maslahatnya?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Bila berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menyeret pada pembicaraan yang haram atau dibenci. Hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.” (Lihat Riyadhus Shalihin)

Semoga ini manjadi nasehat dan bermanfaat bagi kita semua.

Petunjuk untuk menjaga lidah ini telah ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya:

1. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)

2. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Apa diantara Keutamaan Menjaga Lidah atau lisan?

Mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. al-Bukhari)