Satu hal yang telah menjadi penilaian yang dikenal oleh masyarakat banyak: Tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya upaya untuk mengenal lebih dekat tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam harus dilakukan, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah. Tak dipungkiri lagi bahwa keberadaan beliau sebagai rasul terakhir menjadi salah satu barometer Islam dan tidaknya seseorang. Sehingga ketika muncul pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar orang yang mengaku sebagai nabi, maka abu Bakar Ash-Shiddiq bersama para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain memerangi mereka karena mereka telah keluar dari Islam.

Ditambah lagi dengan ijma’ dari kaum muslimin bahwa barangsiapa yang mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia kafir, tidak lagi sebagai orang Islam.

Apabila demikian urusannya maka sudah seharusnya untuk kita mengenal sebagian siroh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menggali sebagian pelajaran yang terkandung.

            Terlebih lagi syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama, dan merupakan syarat pertama untuk masuk Islam, ada dua syahadat, yaitu:

لا إله إلا الله

Tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.

Dan syahadat:

محمد رسُول الله

Muhammad adalah utusan Allah.

Maka perhatikan dan camkan hal ini baik-baik agar anda tidak salah dalam memegangi Islam.

            Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua untuk meniti al-shirath al-mustaqim (jalan yang lurus), yaitu jalannya orang-orang yang Allah memberikan nikmat iman kepada mereka dari kalangan para nabi, para shiddiqin, syhuda’, dan orang-orang shalih. Amin

Isyarat dari al-Imam Asy-Syafi’i tentang pentingnya sejarah

Diantara yang melatarbelakangi pembahasan ini adalah  ucapan al-Imam Asy-Syafi’i dalam kitab ar-Risalah. Yaitu pada permulaan kitab, setelah menyampaikan pujian untuk Allah  dan syahadat, beliau mengatakan:

بَعَثَهُ وَالنَّاسُ صِنْفَان

Allah  mengutusnya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam keadaan manusia terbagi menjadi dua golongan.

Tersirat dari ucapan beliau pada awal kitab Ar-Risalah tentangnya pentingnya mempelajari sirah/sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena dari sirah beliau kita bisa mengambil banyak sekali faidah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Untuk kemudian kita bisa menimbang dan mengukur berbagai permasalahan yang ada di hadapan kita.

            Diantara faidah penting dari mempelajari sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kita bisa mengetahui bagaimana memahami A-Qur’an dan As-Sunnah. Karena kitab Ar-Risalah karya al-Imam Asy-Syafi’i memuat bidang ushul fiqih, ushul tafsir, dan musthalah hadits. Bahkan dinyatakan oleh muhaqqiq (peneliti) kitab Ar-Risalah, yaitu Syaikh Ahmad Syakir[1] rahimahullah: “Bahwa seorang yang mendalami ilmu musthalah hadits akan memahami bahwa semua kitab (dalam bidang musthalah hadits) yang ditulis setelahnya (setelah kitab Ar-Risalah) hanyalah cabang darinya dan sangat bergantung kepadanya. Dan ia akan memahami bahwa Al-Imam Asy-Syafi’i menyusunnya sebelum ada contoh kitab yang disusun sebelumnya (dalam bidang ilmu ushul).”[2]

Dengan memahami bidang-bidang tersebut seseorang bisa memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik dan benar. Tidak memahaminya dengan berdasar pendapat masing-masing, sehingga tidak benar apabila Al-Qur’an bersifat multitafsir, dalam artian bisa ditafsirkan oleh masing-masing kelompok atau sembarang orang. Wallah a’lam.

            Sekarang kita akan masuk kepada pembahasan sirah Nabi  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menandaskan sebagian perkara penting yang tersurat dan tersirat.

 

Keadaan umat manusia sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus

 

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

بَعَثَهُ وَالنَّاسُ صِنْفَان

Allah mengutusnya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam keadaan manusia terbagi menjadi dua golongan:

أحَدُهُمَا: أهْل كِتَابٍ بَدَّلُوا مِنْ أحْكَامِهِ وَكَفَرُوا بالله فافْتَعَلَوا كَذِبًا صَاغُوه بِألْسنَتِهِم فَخَلَطُوهُ بِحَقِِّ الله الَّذي أنْزَلَ إلَيهِمْ

Golongan pertama: ahlu kitab. Mereka adalah orang-orang telah merubah sebagian hukum-hukum Al-Kitab (Taurat dan Injil-pen). Mereka kafir kepada Allah. Dan mereka membuat berbagi kedustaan yang mereka lontarkan dengan lisan-lisan mereka, kemudian mereka campuradukkan dengan kebenaran dari Allah yang Ia turunkan kepada mereka.

Dari ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah kita mengetahui keadaan sebagian umat ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Yaitu golongan ahli kitab, mereka adalah kaum Yahudi dan Nashrani.

            Keadaan mereka adalah sebagaimana dijelaskan di atas:

  1. Merubah sebagian hukum dan sebagin kandungan lainnya dalam al-Kitab.
  2. Kafir kepada Allah. Kafir kepada Allah tidak berarti mereka mengingkari keberadaan Allah sebagai pencipta dan pemberi rizki. Akan tetapi mereka menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas, seperti mengatakan ‘Isa adalah anak Allah, ‘Uzair anak Allah, atau Allah ke dalam rahim Maryam yang kemudian menjelma menjadi ‘Isa. Dan keyakinan-keyakinan batil dan kafir lainnya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.
  3. Membuat berbagai kedustaan dan kebohongan yang kemudian mereka campurkan dengan wahyu Allah yang diturunkan kepada mereka, yaitu kitab Taurat dan Injil.

Adapun sebagian pelajaran yang tersirat dari ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah di atas adalah:

  1. adab dalam berinteraksi dengan wahyu yang Allah turunkan, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits. Yaitu kita tidak boleh meniru perbuatan orang-orang ahli kitab yang merubah al-Kitabnya.
  2. kelebihan Al-Qur’an yang hingga sekarang masih terjaga kesuciannya. Setiap kali ada yang berupaya merubah, maka akan ada ulama dan kaum muslimin yang meredamnya.
  3. demikian pula dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun lebih rumit penjagaan yang dilakukan oleh para ulama, hingga sekarang kita masih bisa dengan mudah mengenali hadits-hadits yang shahih, seperti yang tercantum dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Kemudian juga keberadaan para ulama ahli hadits yang memilah-milah hadits shahih dan  hadits dhaif, seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dan Al-Imam An-Nawawi dan ulama-ulama lainnya, baik sebelum maupun sesudah mereka. Wal hamdulillah.
  4. dari penjelasan Al-Imam Asy-Syafi’i di atas terdapat pelajaran yang sangat penting, yaitu tidak boleh membuat kebohongan atas nama Allah. Baik itu berupa penambahan atau pengurangan terhadap kitabullah atau syari’at Allah. Atau dengan kata lain tidak boleh membuat ajaran dan amalan baru. Ini sebagaimana dinyatakan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Ar-Risalah pula:

وَلاَ يَقُولُ بِماَ اسْتَحْسَنَ فإِنَّ الْقَوْلَ بِمَا اسْتَحْسَنَ شَيءٌ يُحْدِثُهُ لاَ عَلَى مِثَالٍ سَبَقَ

Dan tidak boleh baginya (siapapun selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) berbicara/berkata berdasar pada istihsan. Karena berbicara/berpendapat dengan berdasar istihsan adalah sesuatu yang tidak ada contoh/perintah/persetujuan (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang mendahuluinya. (Ar-Risalah: 70)[3]

Bersambung ………….. إنْ شَاءَ الله


[1] Ahmad Muhammad Syakir, lahir 1309 H (1892 M) meninggal 1377 H (1958 M). Beliau adalah salah satu ulama yang mendalami ilmu hadits. Beliau adalah salah seorang lulusan Universitas Al-Azhar.

[2] Kitab Ar-Risalah hl. 13 cet. Al-Maktabah Al-‘Ilmiyyah Beirut Libanon

[3] Kitab Ar-Risalah yang ada pada penulis adalah cetakan Al-Maktabah Al-Ilmiyyah Beirut Libanon, dengan tahqiq Ahmad Muhammad Syakir.