Manusia tentunya ingin hidup bahagia, di dunia dan akhirat ini. Lalu bagaimana dia akan bisa menggapainya, padahal sebagaimana pada artikel yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ))
“Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.” (HR. Muslim)
Dan telah lewat pada kita tentang Kisah Al-Hafizh Ibnu Hajar salah seorang ulama syafiiyah dengan seorang yahudi. Dimana beliau penuh dengan kenikmatan dan kesenangan dunia sedangkan yahudi itu berada dalam kesusahan dan penderitaan.

Intinya dengan mengikuti al-qur’an dan sunnah, niscaya manusia akan bisa menggapai kebahagiaan. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah:
(فَإِمّا يَأْتِيَنّكُم مّنّي هُدًى فَمَنِ اتّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلّ وَلاَ يَشْقَىَ * وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَعْمَىَ)
“Maka jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 123-124)
Oleh karena itu, kita selama-lamanya tidak akan mendapati seorang yang paling enak pikirannya, lapang dadanya, dan sangat tenang dibanding seorang mukmin. Meskipun mukmin itu adalah seorang yang fakir miskin. Seorang mukmin adalah orang yang sangat lapang dadanya dan paling tenang.
Orang yang mengerjakan amal shalih, dari orang beriman, akan diberi kehidupan yang baik oleh Allah. Apakah kehidupan yang baik itu?
Kehidupan yang baik adalah kelapangan dada dan ketenangan hati, hingga walaupun seorang dalam keadaan sangat kesusahan, namun dia dalam keadaan tenang hatinya dan lapang dadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ))
“Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman. Sungguh segala urusannya baik. Dan hal itu tidak diperoleh seseorang kecuali oleh orang yang beriman. Jika dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, itu baik baginya. Jika dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur, itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Orang kafir bila ditimpa kesusahan, apakah dia bersabar? Tidak. Dia bersedih dan dunia terasa sempit atasnya. Bahkan mungkin dia akan bunuh diri. Tetapi seorang mukmin bersabar dan mendapati kenikmatan sabar dengan lapang dada dan tenang. Oleh karena itu terwujud kehidupan yang baik di dalam hatinya dan jiwanya.
Seorang mukmin berada dalam kebaikan, bagaimanapun keadaannya. Dialah orang yang beruntung di dunia dan akhirat.
Sedangkan orang kafir dalam keburukan. Dialah orang yang merugi di dunia dan akhirat. Orang-orang kafir itu melalaikan agama Allah. Mereka sombong dalam kemewahan dan kesenanganan dunia mereka.
Namun mereka meskipun membangun gedung-gedung megah dan gemerlap, sesungguhnya mereka hakekatnya berada dalam neraka jahim.
Adapun orang-orang yang beriman mereka merasakan kenikmatan dengan bermunajat kepada Allah dan mengingat-Nya. Mereka menerima takdir Allah. Jika mereka ditimpa kesusahan, mereka bersabar. Jika mereka ditimpa kesenangan, mereka bersyukur. Mereka dalam keadaan yang paling enak, berbeda dengan para ahli dunia. Dimana jika mereka diberi nikmat oleh Allah mereka merasa ridha, sedang bila mereka tidak diberi nikmat oleh Allah, mereka marah dan murka.
(Sumber Kitab Al-‘Ilmi dan lainnya)