Beradu pendapat yang baik adalah bertujuan untuk mencari kebenaran dan tidak terkandung maksud lainnya.
Ketika terjadi adu pendapat, berhati-hati agar tidak menjadi sebab perpecahan, pertentangan dan permusuhan antara sesama saudara sesama muslim. Dan sedikit sekali suatu perdebatan yang bisa lepas dari akibat yang seperti itu. Kita memohon kepada Allah pemafaan dan keselamatan.

Berkata Al-Imam Asy-Syafii: “Tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja, kecuali aku suka kalau dia menunjuki aku, meluruskanku dan membantuku. … Dan tidaklah aku berbicara kepada seorangpun begitu saja, kecuali saya tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran melalui lisanku atau lisannya.” (Al-Faqiih wal Mutafaqqih 2/26 dan Aadabu Thalibil ‘Ilm hal.60)
Berkata Abu Musa Yunus Ash-Shafadi: Tidak pernah saya melihat seorang yang lebih berakal dari Asy-Syafii. Suatu hari saya mendebatnya dalam suatu masalah, kemudian kami berpisah. Lalu ia menemuiku dan memegang tanganku kemudian berkata: “Wahai Abu Musa, tidakkah salah kita menjadi saudara, walaupun kita tidak sepakat dalam satu masalah?”

Imam Adz-Dzahabi berkata dalam mengomentari kejadian tersebut: ” Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal dan kefaqihan imam ini, yang mana para ahli debat itu (biasanya) senantiasa berselisih.” (Siyar A’laamin Nubalaa` 10/16-17)