Oleh: Al-Imam As-Son’ani

 

Ada beberapa landasan yang termasuk kaidah-kaidah dalam agama dan termasuk perkara yang paling penting yang harus diketahui oleh orang-orang yang bertauhid.
***
Landasan Pertama
Bahwasanya telah diketahui secara otomatis dalam agama bahwa semua yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah haq bukan kebathilan, kejujuran bukan kedustaan, petunjuk bukan kesesatan, ilmu bukan kebodohan, keyakinan yang tidak ada keraguan di dalamnya. Tidak sempurna keislaman dan keimanan seseorang kecuali dengan menetapkan landasan ini. Perkara ini adalah perkara yang telah disepakati atasnya dan tidak ada perselisihan padanya.

Landasan Kedua
Bahwa para rasul dan Nabi Allah -dari yang pertama sampai yang terakhir- diutus untuk mengajak para hamba agar menunggalkan Allah dengan menunggalkan ibadah (hanya kepadaNya). Dan setiap Rasul, awal kali yang mereka perdengarkan kepada kaumnya adalah firman Allah:

 

“Wahai kaumku sembahlah hanya kepada Allah, sama sekali tidak ada bagi kalian sembahan yang haq kecuali Dia.”(Al-A’raf: 59).

 

“Janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada Allah.” (Hud: 2).

 

“Sembahlah hanya kepada Allah dan bertaqwalah kalian kepadaNya dan taatilah Aku.” (Nuh: 3).

 

Inilah yang dikandung oleh ucapan “Laa Ilaha Illallah”. Karena para Rasul mengajak umat-umat mereka untuk mengucapkan kalimat ini dan meyakini maknanya bukan sekedar mengucapkannya dengan lisan. Makna Laa Ilaha Illallah adalah menunggalkan Allah dalam Ilahiyah dan Ibadah dan menolak segala sesuatu yang disembah dari selain Allah serta berlepas diri darinya. Landasan ini tidak diperdebatkan dan diragukan lagi, dan tidaklah sempurna keimanan seseorang sampai ia mengetahui dan mewujudkannya.

 

Landasan Ketiga

Bahwa Tauhid terbagi dua:

1. Tauhid Ar-Rububiyyah, Al-Khalqiyyah, Ar-Raaziqiyyah, dan yang semisalnya. Maknanya: bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala semata Yang Maha Mencipta seluruh alam semesta, Allah lah Rabb mereka, dan Allah lah yang memberikan rezki kepada mereka. Ini tidak diingkari oleh orang-orang musyrik. Mereka tidak menyekutukan Allah pada tauhid jenis ini, bahkan mereka menetapkannya sebagaimana yang akan datang pada ‘landasan keempat’.

2. Tauhid Ibadah. Maknanya adalah menunggalkan Allah semata pada seluruh jenis ibadah yang akan datang penjelasannya. Pada landasan inilah orang-orang musyrik mempersekutukan Allah. Lafazh “sekutu” memberikan kesan penetapan ibadah kepada Allah.

 

Para Rasul diutus untuk menetapkan yang pertama (Tauhid Rububiyyah) dan mengajak orang-orang musyrik kepada yang kedua (Tauhid Ibadah), seperti ucapan para Rasul ketika berkata kepada orang-orang musyrik:

“Apakah ada keraguan pada Allah yang mengatur langit-langit dan bumi?” (Ibrahim: 10).

“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberi kalian rezki dari langit dan bumi? Tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia”. (Fathir: 3).

Mereka melarang dari kesyirikan dalam ibadah. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sungguh kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap ummat menyerukan sembahlah hanya kepada Allah dan jauhilah menyembah thaghut.” (An-Nahl: 36).

Yaitu para Rasul mengatakan kepada ummat-ummat mereka “sembahlah hanya kepada Allah”. Firman Allah “pada setiap ummat” memberikan faedah bahwa: tidaklah diutus para Rasul kepada seluruh ummat, kecuali untuk menuntut penunggalan ibadah hanya kepada Allah, bukan sekedar pengenalan bahwa Allah Ta’ala Dialah yang Maha Mencipta seluruh alam semesta dan bahwa Dia adalah Rabbnya langit dan bumi, karena mereka sesungguhnya telah menetapkan hal tersebut.

Oleh karena itu, tidaklah datang penyebutan dalam ayat-ayat Al-Qur’an tentang tauhid rububiyyah -secara umum- kecuali dalam bentuk istifham at-taqrir (pertanyaan yang mengandung penetapan) seperti firman Allah Ta’ala:

“Apakah ada pencipta selain Allah?” (Fathir: 3).

“Apakah yang menciptakan sama seperti yang tidak bisa menciptakan?” (An-Nahl: 17).

“Apakah ada keraguan pada Allah yang mengatur langit dan bumi?” (Ibrahim: 10).

“Apakah selain Allah yang mengatur langit dan bumi saya jadikan sebagai penolong?” (Al-An’am: 14).

 

“Ini adalah ciptaan Allah! Maka perlihatkanlah kepadaku apa yang diciptakan oleh selain Allah.” (Luqman: 11).

 

“Perlihatkanlah oleh kalian kepadaku apa yang mereka (selain Allah) telah ciptakan dari bumi! Apakah mereka memiliki campur tangan pada (penciptaan) langit?” (Al-Ahqaf: 4).

Ini adalah Istifham At-Taqrir untuk mereka, sebab mereka menetapkan hal tersebut.

Dengan hal ini, kita mengetahui bahwa orang-orang musyrik tidaklah mengambil dan menyembah patung-patung dan berhala-berhala, dan menjadikan Al-Masih dan ibunya serta para malaikat sebagai sekutu bagi Allah karena mereka semua bersekutu dengan Allah dalam penciptaan langit dan bumi serta penciptaan diri mereka, akan tetapi orang-orang musyrik menjadikan mereka sembahan selain Allah karena sesembahan tersebut dapat mendekatkan orang-orang musyrik tersebut kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, sebagaimana yang mereka katakan. Mereka mengakui Allah pada kalimat-kalimat kekafiran mereka sendiri, dan bahwa mereka (sembahan selain Allah) adalah pemberi syafaat di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat bagi mereka dan mereka mengatakan bahwa mereka (sembahan selain Allah) adalah pemberi syafaat di sisi Allah. Maka katakanlah apakah kalian mau memberitahukan kepada Allah apa-apa yang tidak diketahuiNya di langit dan bumi. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (Yunus: 18).

 

Allah menjadikan perbuatan mereka mengambil pemberi syafaat sebagai bentuk kesyirikan dan Allah mensucikan diriNya dari perkara tersebut, sebab tidak ada seorang pun yang mampu memberikan syafaat di sisiNya kecuali dengan izinNya. Maka bagaimanakah mereka menetapkan pemberi syafaat bagi mereka dari (orang-orang) yang tidak diizinkan oleh Allah dan tidak berhak untuk memberi syafaat tersebut, dan tidak mampu mencukupi mereka sedikitpun dari Allah Ta’ala.

 

Landasan Keempat

Orang-orang yang musyrik -yang Allah mengutus para Rasul kepada mereka- menetapkan bahwa Allah adalah Pencipta mereka:

“Dan kalau kamu bertanya pada mereka siapakah yang menciptakan mereka, maka mereka akan menjawab Allah!” (Az-Zukhruf: 87).

“Dan jika kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Mereka pasti akan menjawab, yang telah menciptakan mereka adalah Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Berilmu.” (Az-Zukhruf: 9).

Mereka meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala yang Maha Mampu memberikan rezki, yang mampu untuk mengeluarkan yang hidup dari yang mati, yang mati dari yang hidup, dan bahwa Allah semata yang Maha Mengatur segala perkara dari langit ke bumi, dan Dialah semata yang menguasai pendengaran, penglihatan, dan hati.

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): Siapakah yang memberi kalian rezki dari langit dan bumi atau siapakah yang mengatur seluruh urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Mengapakah kalian tidak bertaqwa?” (Yunus: 31).

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi beserta isinya apabila kalian mengetahuinya? Maka mereka menjawab: Allah. Katakanlah: Mengapa kalian tidak mengingatnya? Katakanlah: Siapa Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Mengapa kalian tidak bertaqwa? Katakanlah: Siapakah yang di tangannya kekuasan segala sesuatu dan Dialah yang Maha melindungi dan tidak butuh perlindungan dari yang lain, apabila kalian mengetahuinya? Mereka akan menjawab: Allah. Katakanlah: Bagaimanakah kalian tersihir?”(Al-Mukminuun: 84-89).

Dan inilah Fir’aun, bersamaan dengan perbuatannya yang melampaui batas dalam kekafiran, mengaku dengan pengakuan yang paling jelek (mengaku sebagai robb yang paling tinggi), dan mengucapkan kalimat yang keji, Allah mengisahkan tentang Nabi Musa Alaihis salam yang berkata kepada Fir’aun:

“Sungguh kamu telah mengetahui tidak ada yang menurunkan semua itu kecuali Rabb langit dan bumi sebagai keterangan- keterangan.” (Al-Isra: 102).

Dan Iblis telah berkata:
“Sesungguhnya saya takut kepada Allah Rabbnya Alam semesta.” (Al-Hasyr: 16).

Dan dia juga berkata:

“Wahai Rabbku, disebabkan engkau telah menetapkan aku sebagai orang yang sesat ….” (Al-Hijr: 39).

Dan ia juga berkata:
“Wahai Rabbku tangguhkanlah aku!” (Al-Hijr: 36).

Dan setiap orang musyrik menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Penciptanya, Pencipta langit dan bumi, Pemelihara langit, bumi, beserta isinya, dan Dialah yang memberikan rezki kepada mereka. Oleh karena itu, para Rasul berhujjah kepada mereka dengan ucapan:

“Apakah yang menciptakan sama seperti yang tidak menciptakan?” (An-Nahl: 17)

dan ucapan mereka:

“Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah mereka tidak mampu menciptakan lalat walaupun mereka bersepakat untuk itu.” (Al-Hajj: 73)

Maka orang-orang musyrik menetapkan hal tersebut (Tauhid Ar-Rububiyyah) dan tidak mengingkarinya.

Landasan Kelima

Sesunguhnya ibadah adalah puncak bab ketundukan dan kerendahan diri, dan tidak dipergunakan kecuali pada ketundukan kepada Allah, karena Dialah pemberi (yang mencurahkan) kenikmatan yang terbesar. Oleh sebab itulah, Dialah yang paling berhak untuk diibadahi dengan puncak ketundukan sebagaimana dalam Kitab Al-Kasysyaf .

Kemudian, sesungguhnya inti dan pondasi ibadah adalah mentauhidkan Allah, Tauhid yang dikandung oleh kalimatNya yang didakwahkan oleh semua para Rasul, yaitu kalimat Laa Ilaha Illallah. Dan yang diinginkan adalah meyakini maknanya, mengamalkan keharusannya, bukan sekedar mengucapkan dengan lisan.

Dan makna Laa Ilaha Illallah adalah: menunggalkan Allah dalam Ibadah dan Ilahiyah (penghambaan), menafikan dan berlepas diri dari seluruh sembahan selain Allah. Dan orang-orang kafir telah mengetahui makna ini, sebab mereka adalah orang yang berbahasa Arab. Maka mereka berkata:

“Apakah dia (Muhammad) menjadikan sembahan yang banyak menjadi satu sembahan saja? Sungguh ini perkara yang mengherankan.” (Shaad: 5).

***

(Dinukil dari: Sucikan Aqidah Anda, Penerbit Gema Ilmu)