<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Mazhab Asy-Syafiiyyah</title>
	<atom:link href="http://fatwasyafii.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fatwasyafii.wordpress.com</link>
	<description>Fatwa, petunjuk dan bimbingan Imam Syafii dan ulama syafiiyah sesuai dengan madzhab ahlussunnah wal jamaah.</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Jan 2012 02:03:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fatwasyafii.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Mazhab Asy-Syafiiyyah</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fatwasyafii.wordpress.com/osd.xml" title="Fatwa Al-Imam Asy-Syafii dan Ulama Mazhab Asy-Syafiiyyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fatwasyafii.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Peran Ibunda al-Imam asy-Syafii dalam Pendidikan Putranya</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2012/01/04/peran-ibunda-al-imam-asy-syafii-dalam-pendidikan-putranya/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2012/01/04/peran-ibunda-al-imam-asy-syafii-dalam-pendidikan-putranya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 06:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binbahr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi Tarjumah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[istri shalihah]]></category>
		<category><![CDATA[madrasah pertama]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Allah subhanahu adalah Dzat Yang Maha Berkehendak. Rahmat-Nya juga sangat luas dan pasti akan sampai kepada siapa saja yang Ia kehendaki untuk dirahmatiNya. Salah satu karunia besar yang diberikan kepada al-Imam asy-Syafi&#8217;i adalah ibundanya yang sangat paham akan pentingnya mencari ilmu (agama). Sehingga meskipun hidup sebagai anak yatim dan ibundanya tidak memiliki harta, jadilah Muhammad <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2012/01/04/peran-ibunda-al-imam-asy-syafii-dalam-pendidikan-putranya/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=450&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu</em> adalah Dzat Yang Maha Berkehendak. Rahmat-Nya juga sangat luas dan pasti akan sampai kepada siapa saja yang Ia kehendaki untuk dirahmatiNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu karunia besar yang diberikan kepada al-Imam asy-Syafi&#8217;i adalah ibundanya yang sangat paham akan pentingnya mencari ilmu (agama). Sehingga meskipun hidup sebagai anak yatim dan ibundanya tidak memiliki harta, jadilah Muhammad bin Idris menjadi al-Imam asy-Syafi&#8217;i yang kita kenal hingga sekarang sebagai salah seorang imam besar.<span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kemiskinan dan hidup sebagai anak yatim tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk menggapai kedudukan yang tinggi. Tentunya ini semua atas kehendak dan karunia Allah, kemudian keinginan yang kuat dari ibundanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam asy-Syafi&#8217;i menuturkan sendiri tentang kondisi ibunya yang miskin:<br />
&#8220;Aku tumbuh sebagai seorang yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Dan ketika itu guruku merasa lega dariku hanya dengan aku menggantikannya apabila ia pergi.&#8221;<br />
Beliau juga mengatakan: &#8220;Aku tidak memiliki harta. Dan aku menuntut ilmu ketika masih muda.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah tinggal beberapa lama untuk membesarkan Syafi&#8217;i kecil di daerah Ghazah, &#8216;Asqalan, Yaman, ibunda al-Imam asy-Syafi&#8217;i membawanya ke negeri Hijaz. Ibunda asy-Syafi&#8217;i memasukkan Syafi&#8217;i kecil ke dalam kaumnya, yaitu kabilah al-Azdi, karena ibunda Syafi&#8217;i keturunan kabilah al-Azdi. Dan mulailah Syafi&#8217;i kecil menghafal al-Qur&#8217;an hingga berhasil menghafal seluruh al-Qur&#8217;an pada usia tujuh tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Tinggallah ibunda asy-Syafi&#8217;i bersamanya di tengah-tengah kabilah ini hingga Syafi&#8217;i berusia sepuluh tahun. Ketika telah berusia sepuluh tahun, ibunda Syafi&#8217;i khawatir nasab keturunan beliau yang mulia akan dilupakan dan hilang. Yaitu nasab keturunan yang masih bertemu dengan nasab Nabi Muhammad <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>. Maka ibunda Syafi&#8217;i membawa memindahkannya ke kota Makkah. (<em>Tawali Ta&#8217;sis</em> karya Ibnu Hajar dengan beberapa penyusaian)</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara perhatian ibunda Syafi&#8217;i yang besar terhadap ilmu, ia tidak membukakan pintu untuk Syafi&#8217;i ketika pulang dari majelis salah seorang ulama di masa itu agar Syafi&#8217;i kembali ke majelis tersebut hingga mendapatkan ilmu. (<em>&#8216;Uluwwul Himmah</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pelajaran-pelajaran:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari sekilas kisah di atas kita dapatkan beberapa pelajaran yang penting yang semoga memberikan manfaat untuk kaum muslimin secara umum:<br />
1. Peran seorang ibu dalam membentuk dan mendidik anak.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Kemiskinan dan kesempitan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk meninggalkan upaya mendalami ilmu agama.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Kemiskinan dan kesempitan tidak selayaknya dijadikan sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah yang diwajibkan baginya.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Pentingnya menjaga semangat dalam meraih kesuksesan.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Pentingnya seseorang untuk memilih seorang wanita shalihah yang nantinya sebagai pendidik dan teladan bagi putra-putrinya. Sebab bila seorang ibu adalah orang yang tidak shalih, selain akan membuat susah suami di dunia dan akhirat, juga akan menghancurkan masa depan anak-anak. Mencari seorang calon ibu bagi anak-anak yang shalihah baik agamanya, tidak hanya memandang pada perkara dunia baik kedudukan, kecantikan, atau harta.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Orang tua yang baik memikirkan tidak sebatas bisa mem&#8217;bahagia&#8217;kan anak di dunia ini, tetapi orang tua yang baik juga berusaha menjadikan anak sebagai generasi yang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/biografi-tarjumah-ulama/'>Biografi Tarjumah Ulama</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/anak/'>anak</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/ibu/'>ibu</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/istri-shalihah/'>istri shalihah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/madrasah-pertama/'>madrasah pertama</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/pendidikan/'>pendidikan</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/rumah-tangga/'>rumah tangga</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=450&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2012/01/04/peran-ibunda-al-imam-asy-syafii-dalam-pendidikan-putranya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e941afa0e57f8db67122e631a646f27f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">binbahr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Asy-Syafii: Akal Manusia Punya Keterbatasan</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/17/imam-asy-syafii-akal-manusia-punya-keterbatasan/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/17/imam-asy-syafii-akal-manusia-punya-keterbatasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 02:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>binbahr</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmu kalam mantiq filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[mutiara nasehat syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[analogi]]></category>
		<category><![CDATA[aqlani]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu kalam]]></category>
		<category><![CDATA[matiq]]></category>
		<category><![CDATA[mu'tazilah]]></category>
		<category><![CDATA[rasionalis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[Berkata al-Imam asy-Syafii rahimahullah: كما أن للعين حدا تقف عنده كذلك للعقل حد يقف عنده Sebagaimana mata memiliki keterbatasan yang ia pasti berhenti padanya, maka akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti padanya. (Adabus Syafii) Sangat benar apa yang dinyatakan oleh al-Imam asy-Syafii di atas. Masing-masing dari kita telah merasakan keterbatasan mata kita. Bagaimana <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/17/imam-asy-syafii-akal-manusia-punya-keterbatasan/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=444&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berkata al-Imam asy-Syafii <em>rahimahullah</em>:</p>
<p style="text-align:center;">كما أن للعين حدا تقف عنده كذلك للعقل حد يقف عنده</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana mata memiliki keterbatasan yang ia pasti berhenti padanya, maka akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti padanya. <em>(Adabus Syafii)<span id="more-444"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Sangat benar apa yang dinyatakan oleh al-Imam asy-Syafii di atas. Masing-masing dari kita telah merasakan keterbatasan mata kita. Bagaimana ketika di malam hari ketika tiba-tiba listrik padam? Itulah keterbatasan mata kita. Seketika itu pula kita tidak bisa melihat apapun. Demikianlah ketika mata tidak mendapatkan cahaya. Tidak bisa melihat apapun. Ketika ada setitik cahaya ia bisa melihat dengan remang-remang. Demikian pula halnya dengan akal manusia. Sebagaimana tubuh manusia yang serba terbatas, akal juga memiliki keterbatasan yang ia harus berhenti ketika itu. Sebagai bukti terbatasnya akal, adakah orang yang bisa menjelaskan dimana ruhnya? Atau seperti apa ruhnya?</p>
<p style="text-align:center;">وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: &#8220;Ruh itu termasuk perintah Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit&#8221;.</em> (QS&#8217; al-Isra&#8217;:85)</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah salah satu bukti akal manusia terbatas. Sesuatu yang gaib yang ada dalam tubuhnya saja tidak ada yang mengetahui, kecuali Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> saja. Lalu bagaimana halnya dengan perkara gaib selainnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga manusia sangat butuh kepada petunjuk dari Allah<em> &#8216;azza wa jalla</em> dalam menjalani kehidupan yang fana ini agar menjadi bekal kelak di hari kiamat. Apabila tidak mendapatkan petunjuk, maka nasibnya akan seperti mata di dalam kegelapan. Apabila tidak berjalan dengan ekstra hati-hati, akan terjatuh dalam jurang atau menabrak tembok besar, lalu mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian halnya dengan akal, ketika tidak mendapatkan cahaya dan rahmat dari Allah <em>azza jalla</em>, ia akan berjalan dengan serampangan. Terlebih ketika si pemilik akal bukan orang yang memiliki kehati-hatian, sifat wara&#8217;, tidak takut kepada Allah Yang Maha Perkasa, tidak memiliki perhatian kepada dirinya. Maka yang muncul dari orang seperti ini hanyalah pendapat, perkataan, atau pikiran-pikiran &#8216;nyeleneh&#8217; yang hanya akan membuat dirinya sengsara dan rusak sebelum membuat orang lain sengsara dan rusak.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah <em>azza wa jalla</em> memberikan taufik, hidayah, rahmat, cahaya-Nya kepada kita, kepada kaum muslimin secara umum, dan kaum muslimin di negeri ini secara khusus.</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ilmu-kalam-mantiq-filsafat/'>ilmu kalam mantiq filsafat</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/akal/'>akal</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/analogi/'>analogi</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/aqlani/'>aqlani</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/ilmu-kalam/'>ilmu kalam</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/matiq/'>matiq</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/mutazilah/'>mu'tazilah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/rasionalis/'>rasionalis</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=444&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/17/imam-asy-syafii-akal-manusia-punya-keterbatasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e941afa0e57f8db67122e631a646f27f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">binbahr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Huruf al-Muqaththa’ah Di Awal Surat-Surat al-Qur’an</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/02/al-huruf-al-muqaththaah-di-awal-surat-surat-al-quran/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/02/al-huruf-al-muqaththaah-di-awal-surat-surat-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 23:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulama Syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[alif lam mim]]></category>
		<category><![CDATA[arti]]></category>
		<category><![CDATA[huruf]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[muqatta'ah]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Huruf-huruf hijaiyah yang ada di awal-awal surat seperti (الم) dan semisalnya ini disebut sebagai al-huruf al-muqaththa’ah. Ada 29 (dua puluh sembilan) surat yang diawali dengan huruf muqaththa’ah ini, yang pertama Surat al-Baqarah dan yang akhir Surat al-Qalam. Misalnya: ن, ص, ق, طه, يس, حم, طس, كهيعص dan lainnya. Cara membacanya adalah dengan mengucapkan seperti: nun, <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/02/al-huruf-al-muqaththaah-di-awal-surat-surat-al-quran/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=433&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Huruf-huruf hijaiyah yang ada di awal-awal surat seperti (الم) dan semisalnya ini disebut sebagai <strong>al-huruf al-muqaththa’ah</strong>. Ada 29 (dua puluh sembilan) surat yang diawali dengan huruf muqaththa’ah ini, yang pertama Surat al-Baqarah dan yang akhir Surat al-Qalam. Misalnya: ن, ص, ق, طه, يس, حم, طس, كهيعص dan lainnya.<span id="more-433"></span><br />
<strong>Cara membacanya</strong> adalah dengan mengucapkan seperti: <em>nun, shad, qaf, thaha, yasiin, hamiim, alif lam mim, alif lam ra, alim lam mim ra, alim lam mim shad, tha siim miim, kaf ha ya ‘ain shad,</em> dan semisalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<strong>Tidak ada riwayat yang shahih</strong> dari Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang menafsirkan tentangnya, sehingga ayat ini termasuk ayat mutasyabih yang ilmunya Allah simpan di sisi-Nya. Meskipun datang riwayat-riwayat dari para ulama dulu yang menyatakan bahwa itu adalah nama surat. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah nama Allah sebagai bentuk sumpah dengannya. Tetapi pendapat-pendapat itu mempunyai kelemahan. Bagi yang berkenan bisa melihat di Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim karya al-Imam Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Oleh karena itu Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tafsir al-Jalalain ketika menafsirkan ayat-ayat seperti itu berkata:<br />
الله أعلم بمراده بذلك<br />
“Allah yang lebih tahu tentang yang dikehendaki dengan hal itu.”</p>
<p>Jadi tentang huruf muqaththa’ah pada awal-awal surat, maka lebih selamat adalah diam dari mereka-reka <strong>maknanya/artinya</strong> tanpa landasan syariat. Huruf-huruf itu mempunyai arti atau makna, tetapi kita tidak tahu.</p>
<p style="text-align:justify;">
Namun kita meyakini bahwa Allah tidaklah menurunkannya sia-sia bahkan untuk <strong>hikmah-hikmah</strong> yang kebanyakannya kita tidak ketahui. Diantara hikmahnya yang disebutkan al-Imam Abul Hajjaj al-Mizzi dan al-Hafizh Ibnu Katsir <em>rahimahumallah</em> dalam tafsirnya bahwa huruf muqaththa’ah ini adalah untuk menjelaskan mukjizat al-Qur’an. Manusia dan jin tidak mampu untuk membuat yang semisalnya padahal tersusun oleh huruf-huruf yang dipakai mereka dalam berbicara. Dimana dulu ketika kaum musyrikin mengingkari bahwa al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, maka huruf-huruf ini sebagai tantangan bagi mereka untuk membuat al-Qur’an yang semisalnya. Dan ketika mereka tidak mampu seharusnya mereka menerima bahwa al-Qur’an adalah kalamullah dan wahyu dari-Nya, dan seharusnya mereka mengimani dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
Demikian kami ringkaskan dari berbagai perkataan para imam dan ulama tafsir. Yang terpenting bagi kita dari pelajaran di atas adalah agar kita tidak meninggalkan membaca al-Qur’an, mendengarkan al-Qur’an, dan mempelajari makna-maknanya agar bisa menambah iman dan agama kita lebih baik sehingga kita mendapatkan kebaikan baik di dunia dan akhirat. Tidak seperti kaum musyrikin yang tak mau mendengarnya, tetapi meniru orang-orang beriman dari kalangan shahabat dan tabiin dan imam setelahnya yang beriman dan menyibukkan diri dengan mempelajari al-Qur’an. Wallahu a’lam.</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ulama-syafiiyah/'>Ulama Syafiiyah</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/alif-lam-mim/'>alif lam mim</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/arti/'>arti</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/huruf/'>huruf</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/makna/'>makna</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/muqattaah/'>muqatta'ah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/tafsir/'>tafsir</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=433&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/12/02/al-huruf-al-muqaththaah-di-awal-surat-surat-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Imam Syafii ke Madinah dan Pertemuan dengan Imam Malik</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/11/15/perjalanan-imam-syafii-ke-madinah-dan-pertemuan-dengan-imam-malik/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/11/15/perjalanan-imam-syafii-ke-madinah-dan-pertemuan-dengan-imam-malik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 02:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi Tarjumah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[mutiara nasehat syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[taqlid dan ittiba]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[kepada]]></category>
		<category><![CDATA[malik]]></category>
		<category><![CDATA[menuntut]]></category>
		<category><![CDATA[nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[rihlah]]></category>
		<category><![CDATA[syafii]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini akan dibawakan tentang perjalanan Imam Syafii dalam mencari ilmu. Sebelum Imam Syafii mengadakan perjalanan menuju Imam Malik, beliau mengadakan persiapan untuk pertemuan itu. Beliau menghafal Kitab al-Muwaththa. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa beliau menghafalnya pada umur sepuluh tahun, pada sebagian riwayat yang lain dikisahkan bahwa beliau menghafalnya pada saat umur tiga belas tahun. (Tawali <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/11/15/perjalanan-imam-syafii-ke-madinah-dan-pertemuan-dengan-imam-malik/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=404&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berikut ini akan dibawakan tentang perjalanan Imam Syafii dalam mencari ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum Imam Syafii mengadakan perjalanan menuju Imam Malik, beliau mengadakan persiapan untuk pertemuan itu. Beliau menghafal Kitab al-Muwaththa. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa beliau menghafalnya pada umur sepuluh tahun, pada sebagian riwayat yang lain dikisahkan bahwa beliau menghafalnya pada saat umur tiga belas tahun. (Tawali at-Ta’sis hal 54)</p>
<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syafii mengisahkan kisah perginya kepada Imam Malik:<span id="more-404"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“Aku keluar dari Mekkah, kemudian aku menetap tinggal bersama suku Hudzail di pedalaman dimana aku mempelajari ucapan mereka dan mengambil bahasa mereka, suku Hudzail ini adalah bangsa arab yang paling fasih, aku tinggal bersama mereka selama beberapa masa, dimana aku pergi dan tinggal bersama mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika aku kembali ke Mekkah, aku mulai mendendangkan syair dan aku menyebutkan sejarah orang-orang dulu. Kemudian ada seorang dari orang Zuhriy melewati aku dan berkata kepadaku: ‘Wahai Abu Abdillah (sebutan Imam Syafii, pent), sungguh aku rasa berat kefasihanmu dan balaghahmu ini tidak diletakkan dalam ilmu dan fiqih.’ Maka aku bertanya: ‘Siapakah orang yang tersisa yang menjadi tujuan (untuk hal itu)?’ Dia menjawab: ‘Malik bin Anas, sayyid kaum muslimin.’ Imam Syafii berkata: Hal itu menancap dalam hatiku. Kemudian aku meminjam kitab al-Muwaththa’ dari seseorang di Mekkah dan aku menghafalnya. Kemudian aku menemui Gubernur Mekkah dan meminta surat (rekomendasi)nya yang ditujukan kepada Gubernur Madinah dan kepada Malik bin Anas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian aku mendatangi Madinah dan menyampaikan surat kepada Gubernur Madinah. Ketika dia membaca surat itu dia berkata: ‘Wahai anakku, jika aku berjalan kaki dari Madinah sampai ke Mekkah tanpa tutup kepala, itu lebih mudah bagiku daripada aku berjalan ke rumah Imam Malik, sungguh aku tidak melihat kehinaan sampai aku berdiri di pintu rumahnya.’ Maka aku berkata: ‘Jika Tuan ingin, bisa mengutus seseorang untuk meminta dia menghadap.’ Dia menjawab: ‘Sekali-kali tidak. Duhai andainya aku dan orang yang bersamaku menaiki kendaraan kemudian kita terkena tanah al-aqiq agar dia memenuhi kebutuhan kita.’ Kemudian aku menjanjikannya pada waktu ashar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kami pergi ke rumah Imam Malik, lalu seseorang maju mengetuk pintu rumahnya, sampai keluar menemui kami seorang budak wanita hitam. Kemudian Gubernur Madinah berkata kepadanya: ‘Katakan kepada tuanmu, aku ada di pintu rumahnya.’ Kemudian budak wanita itu masuk. Setelah selang beberapa waktu budak itu keluar dan berkata: ‘Sesungguhnya tuanku mengatakan jika ada permasalahan, maka tulislah dalam lembaran, hingga keluar nanti jawabannya. Jika untuk berbincang, engkau telah mengetahui kapan waktu majlis, maka pergilah.’</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Gubernur Madinah berkata kepada budak wanita itu: ‘Katakan kepadanya bahwa bersamaku ada surat dari Gubernur Mekkah dalam permasalahan penting.’ Kemudian budak wanita itu masuk dan keluar dengan membawa kursi. Kemudian dia meletakkannya. Tiba-tiba keluar Imam Malik, beliau seorang syaikh berwibawa yang jangkung dengan memakai jubah hijau. Kemudian Gubernur Madinah menyerahkan surat kepadanya, hingga sampai perkataan: ‘orang ini mulia urusan dan keadaannya, hendaklah engkau ajak bicara dia’, maka Imam Malik melempar surat ini dari tangannya dan berkata: “Ya Subhanallah! Ilmu Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sekarang diambil dengan wasilah.’ Imam Syafii berkata: aku melihat Gubernur Madinah merasa segan untuk berbicara dengannya. Kemudian aku maju kepada Imam Malik dan berkata: ‘Semoga Allah memperbaiki keadaanmu. Aku ini seorang turunan Mutththalib, dengan keadaan dan kisahku.’ Ketika Imam Malik mendengar ucapanku, dia melihatku sesaat. Dan Imam Malik memang memiliki firasat, kemudian berkata kepadaku: ‘Siapa namamu?’ Aku menjawab: ‘Muhammad.’ Dia berkata: ‘Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah dan jauhilah kemaksiatan. Sungguh engkau nanti akan mempunyai urusan yang besar.’ Aku menjawab: ‘Ya. Dengan penuh pemuliaan.’ Kemudian Imam Malik berkata: ‘Besok engkau datang dan akan datang orang yang akan membacakan al-Muwaththa’ kepadamu.’ Aku menjawab: ‘Aku telah menghafalnya luar kepala.’</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian aku pergi pagi-pagi kepadanya dan aku memulai membacakan al-Muwaththa’ kepadanya. Setiap aku merasa segan kepada Imam Malik dan ingin memutusnya, dia merasa kagum dengan bacaanku dan <em>i’rab</em>ku, dia berkata: ‘Hai, pemuda, teruslah! Agar engkau bisa menyelesaikan bacaannya dalam beberapa hari.’&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">(Al-Manaqib karya al-Baihaqi 1/102-103, dan karya ar-Razi 9-10, dan ringkasannya di al-Hilyah 9/69, serta Tawali at-Ta’sis 53-56.)</p>
<p style="text-align:justify;">Di sela-sela beliau tinggal di Madinah belajar kepada Imam Malik, beliau kadang kembali ke Mekkah mengunjungi ibunya. Dan ketika dia Mekkah mempelajari syair-syair Kabilah Hudzail dan belajar dari para ulama Mekkah.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mulai belajar di Madinah pada umur 13 tahun sekitar pada tahun 163 H. Kemudian beliau bolak-balik antara Madinah, Mekkah dan Hudzail, meskipun yang paling banyak tinggalnya di Madinah di sisi Imam Malik, sampai Imam Malik rahimahullah meninggal pada tahun 179 H. Setelah itu beliau kembali setelah mendapat banyak ilmu Imam Malik dan menjadi ulama terkenal, yaitu ketika beliau berumur kira-kira 29 tahun. Pada masa ini beliau juga berguru kepada Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid az-Zinji, Ibrahim bin Abi Yahya dan lainnya sebagaimana kata Mush’ab az-Zubairi: “Tidaklah Syafii meninggalkan sesuatupun dari Imam Malik bin Anas, kecuali sedikit dan dari para syaikh di Madinah kecuali beliau telah mengumpulkannya.” (Mu’jam al-Adiba’ 17/283)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Disini ada beberapa pelajaran dari kisah dua imam ini:</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Disini ada <strong>perbedaan</strong> yang jauh antara <strong>Imam Syafii</strong> seorang imam besar ahlussunnah ahlul hadits, dengan yang diyakini oleh <strong>orang-orang sufi</strong> yang mengatakan bahwa mereka bisa mendapat ilmu laduni tanpa belajar. Para imam yang besar di sejarah Islam, mereka menjadi para imam dan ulama dengan belajar kepada para ulama sebelumnya, mempelajari al-Qur’an, sunnah Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan ilmu-ilmu lainnya , tidak dengan bersemedi atau bermimpi, tidak dengan sekedar merenung dan berkhayal.</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;" start="2">
<li>Teladan para imam ahlussunnah wal jamaah untuk <strong>mempelajari ilmu agama langsung dari seorang guru </strong>dan <strong>tidak mencukupkan dengan tulisan</strong> baik kitab, laman internet, blog atau yang lainnya, karena banyak faedah yang akan didapati seseorang dari keteladanan yang tidak didapati hanya melalui membaca. Karena banyak blog-blog atau laman-lama website itu menipu, pandai bersilat lidah, ternyata orang-orang di belakangnya orang-orang bejat yang tidak menaruh pemuliaan terhadap al-Qur’an, tuntunan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, para shahabat, dan para imam ahlussunnah. Mereka orang-orang bejat yang tidak punya ilmu agama dan akhlak, tidak punya ketakwaan, tidak beramal shalih, tidak menjauhi kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan, tidak wara’, tidak mengajak orang ke jalan Allah tetapi ke kelompoknya atau pribadinya atau gagasan atau idenya. Bahkan di antara mereka terbiasa dengan dusta dan rakus mengambil harta orang lain dengan cara tanpa hak. Kita berlindung kepada Allah dan perilaku seperti itu.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Imam Syafii telah menghafal kitab al-Muwaththa Imam Malik, tetapi beliau tetap mendatangi beliau untuk mempelajari ilmu hadits dan fikih dan lainnya.</p>
<ol style="text-align:justify;" start="3">
<li>Teladan mencari ilmu agama walaupun dengan <strong>mengorbankan waktu, tenaga dan biaya</strong>. Meskipun menempuh jarak yang jauh guna menemui seorang ulama, guru yang bertakwa yang berilmu.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Imam Syafii pergi meninggalkan keluarga di Mekkah ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik.</p>
<ol style="text-align:justify;" start="4">
<li>Pelajaran bagi kita untuk <strong>tidak ta’ashshub (fanatik)</strong> pada orang tertentu atau kelompok tertentu, tidak pada madzhab tertentu. Selama mereka ulama ahlussunnah kita mengambil ilmu dari mereka. Tidak mengatakan: “Ini madzhab maliki, ini madzhab syafii. Aku mengikuti pendapat ini karena ini madzhab ini.” Atau “Aku loyal kepada orang-orang yang mengikuti madzhab ini, dan benci dari orang-orang yang mengikuti madzhab itu.” Selama mereka semua adalah ulama ahlussunnah. Kita memilih pendapat para ulama selama sesuai dengan dalil yang shahih.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Di kisah ini, Imam Syafii sangat dekat  dan berguru dengan Imam Malik. Sedangkan orang sekarang banyak pengikut madzhab merasa tidak suka atau benci bila mendengar pendapat imam yang selain madzhabnya, bahkan membenci Imam Malik misalnya karena dia madzhabnya Syafii atau membenci Imam Syafii karena dia madzhabnya maliki, atau membenci Imam Ahmad bin Hambal padahal beliau juga merupakan murid mulia Imam Syafii.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah musibah, yang menyebabkan kaum muslimin terpecah belah karena perkara yang keliru.</p>
<ol style="text-align:justify;" start="5">
<li>Setiap bidang itu ada ahlinya. Jika orang berbicara tidak pada keahliannya akan banyak salahnya. <strong>Hendaknya seorang mempelajari sesuatu kepada ahlinya.</strong> Mempelajari ilmu kedokteran pada ahlinya. Mempelajari ilmu agama kepada ahlinya. Sehingga kita <strong>tidak tertipu dengan orang yang belagak pintar dalam masalah agama, padahal dia tidak membidanginya</strong>. Dia bukanlah ulama yang telah mendalami dan mengamalkan ilmu agama yang diajarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dia juga bukan seorang thallabul ilmi yang benar-benar mempelajari ilmu agama dan pengamalannya. <strong>Jangan tertipu dengan berbagai gelar kesarjanaan</strong> bila dia kosong dari ilmu agama dan tidak punya ketakwaan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Wallahu a&#8217;lam</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/biografi-tarjumah-ulama/'>Biografi Tarjumah Ulama</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/taqlid-dan-ittiba/'>taqlid dan ittiba</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/ilmu/'>ilmu</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/imam/'>imam</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/kepada/'>kepada</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/malik/'>malik</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/menuntut/'>menuntut</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/nasehat/'>nasehat</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/perjalanan/'>perjalanan</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/rihlah/'>rihlah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/syafii/'>syafii</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/404/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=404&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/11/15/perjalanan-imam-syafii-ke-madinah-dan-pertemuan-dengan-imam-malik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa Kecil Imam asy-Syafii dan Semangatnya Menuntut Ilmu Agama</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/10/02/masa-kecil-imam-asy-syafii-dan-semangatnya-menuntut-ilmu-agama/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/10/02/masa-kecil-imam-asy-syafii-dan-semangatnya-menuntut-ilmu-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 09:17:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi Tarjumah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[imam syafii]]></category>
		<category><![CDATA[kecil]]></category>
		<category><![CDATA[masa]]></category>
		<category><![CDATA[thalabul ilmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=399</guid>
		<description><![CDATA[Imam asy-Syafii tumbuh di Gaza dalam keadaan yatim, setelah ayah beliau meninggal di sana. Sehingga beliau hidup dalam keadaan fakir miskin dan yatim, serta jauh dari kerabat. Namun semua ini tidak berpengaruh buruk kepada beliau setelah Allah memberikan taufik kepada kemudahan untuk menempuh metode yang benar. Setelah ibu beliau membawa beliau ke Mekkah atau daerah <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/10/02/masa-kecil-imam-asy-syafii-dan-semangatnya-menuntut-ilmu-agama/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=399&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Imam asy-Syafii tumbuh di Gaza dalam keadaan yatim, setelah ayah beliau meninggal di sana. Sehingga beliau hidup dalam keadaan fakir miskin dan yatim, serta jauh dari kerabat. Namun semua ini tidak berpengaruh buruk kepada beliau setelah Allah memberikan taufik kepada kemudahan untuk menempuh metode yang benar.<span id="more-399"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah ibu beliau membawa beliau ke Mekkah atau daerah dekat Mekkah, beliau mulai menghafal al-Qur’an. Dikatakan bahwa beliau menyelesaikannya pada waktu berumur tujuh tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mengisahkan dirinya: “Aku dulu hidup yatim dibawah pengasuhan ibuku. Dan ibuku tidak punya harta yang diberikan untuk seorang pengajar. Namun pengajar itu ridha dengan aku menggantikannya jika dia pergi. Setelah aku mengkhatamkan al-Qur’an, aku masuk masjid dan duduk di majlis-majlis ulama sampai aku menghafal satu hadits atau satu masalah. Dan rumah kami berada di Syi’b al-Khaif. Dulu aku mencatat ilmu di tulang, jika sudah banyak aku taruh di satu keranjang besar.” (Tawali at-Ta’sis 54)</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah beliau menghafal al-Qur’an di Makkah beliau suka dengan syair dan bahasa arab. Beliau bolak-balik ke suku Hudzail untuk menghafal syair-syair mereka dan bahasa mereka. Yang nampak beliau menghafal syair mereka pada awal usia beliau. Suku Hudzail ini termasuk bangsa arab yang paling fasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau setelah itu mempelajari ilmu fiqih, karena satu sebab. Ada dua versi alasan mulainya Imam asy-Syafii mempelajari ilmu fiqih:</p>
<ol style="text-align:justify;" start="1">
<li>Mush’ab bin Abdillah az-Zubairi mengisahkan seorang sekretaris Bapak Mush’ab bin Abdillah az-Zubairi berkata kepada Imam asy-Syafii: “Orang seperti kamu pergi dengan muruahnya dalam bidang ini. Dimana posisimu dalam masalah fiqih.” Hal itu mendorong Imam asy-Syafii. Sehingga beliau pergi menuju Muslim bin Khalid Az-Zinji Mufti Makkah waktu itu dan belajar kepadanya, kemudian mendatangi Imam Malik di Madinah.” (Manaqib karya Al-Baihaqi 1/97)</li>
<li>Diriwayatkan orang yang mengarahkan beliau untuk mempelajari ilmu fiqih adalah guru beliau Muslim bin Khalid az-Zinji. Imam Baihaqi meriwayatkan Imam asy-Syafii mengisahkan beliau sendiri: “Aku keluar mempelajari ilmu nahwu dan adab. Kemudian aku bertemu dengan Muslim bin Khalid az-Zinji, dia berkata: ‘Wahai anak muda, engkau berasal dari mana?’ Aku menjawab: ‘Dari penduduk Makkah.’ Dia bertanya: ‘Dimana rumahmu di sana?’ Aku menjawab: ‘Di Syi’b al-Khaif.’ Dia bertanya lagi: ‘Dari kabilah apa engkau ini.’ Aku menjawab: ‘Dari keturunan Abdu Manaf.’ Dia berkata: ‘Wah wah, Allah telah memuliakanmu di dunia dan akhirat, tidakah engkau menjadikan pemahamanmu ini untuk ilmu fiqih. Dan itu lebih baik untukmu’.” (Manaqib karya Al-Baihaqi 1/97)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sebab manapun yang menjadikan beliau seperti itu, maka ini menunjukkan bahwa Imam asy-Syafii rahimahullah setelah menghafal al-Qur’an melakukan perjalanan ke suku Hudzail di pinggiran Makkah kemudian setelah menghafal syair-syair mereka dan bahasa mereka, himmah beliau berubah kepada ilmu fiqih. Beliau berguru kepada Mufti Makkah Muslim bin Khalid az-Zinji. Setelah mapan beliau mengadakan perjalanannya yang pertama ke Madinah.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau tekun dalam menuntut ilmu dan menghafal al-Qur’an pada umur tujuh tahun, dan menghafal kitab al-Muwatha’ karya Imam Malik pada umur sepuluh tahun. Beliau mulai berfatwa pada umur lima belas tahun –ada yang berkata: delapan belas tahun- dengan ijin dari guru beliau Muslim bin Khalid az-Zinji. Beliau perhatian dengan syair dan bahasa. Beliau menghafal syair al-Hudzaliyyin dan tinggal di antara mereka sekitar sepuluh tahun, dikatakan: dua puluh tahun. Beliau mempelajari bahasa arab dan kefasihan dari mereka. Beliau mendengar banyak hadits dari sekumpulan guru dan para imama. Beliau membacakan al-Muwatha kepada Imam Malik dari hafalannya, sehingga Imam Malik pun kagum atas bacaan dan himmahnya. Kemudian Imam asy-Syafii mengambil ilmu dari ulama hijaz setelah beliau mengambil ilmu dari Muslim bin Khalid az-Zinji. Beliau meriwayatkan dari banyak guru. Beliau mempelajari al-Qur’an kepada Ismail bin Qusthanthin dari Syibl  dari Ibnu Katsir dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas dari Ubai bin Ka’b dari Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. (al-Bidayah wa an-Nihayah 1/263)</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/biografi-tarjumah-ulama/'>Biografi Tarjumah Ulama</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ulama-syafiiyah/'>Ulama Syafiiyah</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/imam-syafii/'>imam syafii</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/kecil/'>kecil</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/masa/'>masa</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/thalabul-ilmi/'>thalabul ilmi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/399/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/399/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=399&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/10/02/masa-kecil-imam-asy-syafii-dan-semangatnya-menuntut-ilmu-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>An-Nawawi tentang shalat raghaib dan shalat nishfusy sya&#8217;ban</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/07/08/an-nawawi-tentang-shalat-raghaib-dan-shalat-nishfusy-syaban/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/07/08/an-nawawi-tentang-shalat-raghaib-dan-shalat-nishfusy-syaban/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 00:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ibadah dan fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[mutiara nasehat syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[an-nawawi]]></category>
		<category><![CDATA[asy-syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah munkarah]]></category>
		<category><![CDATA[shalat nishfu sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[shalat raghaib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ditanya tentang shalat raghaib dan shalat nishfusy sya&#8217;ban: Apakah dua shalat itu mempunyai dasar? Beliau menjawab: Segala puji bagi Allah, dua shalat ini tidak pernah dilakukan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan tidak pula oleh salah seorang shahabatnya radhiyallahu &#8216;anhum, juga tidak dilakukan oleh salah seorang dari imam yang empat rahimahumullah, tidak <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/07/08/an-nawawi-tentang-shalat-raghaib-dan-shalat-nishfusy-syaban/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=381&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ditanya tentang shalat raghaib dan shalat nishfusy sya&#8217;ban: Apakah dua shalat itu mempunyai dasar?</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjawab: Segala puji bagi Allah, dua shalat ini tidak pernah dilakukan Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan tidak pula oleh salah seorang shahabatnya radhiyallahu &#8216;anhum, juga tidak dilakukan oleh salah seorang dari imam yang empat rahimahumullah, tidak pula diisyaratkan oleh salah seorang dari mereka untuk dilakukan shalat ini. Demikian juga tidak dilakukan oleh seorang ulama yang dijadikan teladan. Namun itu baru muncul pada masa-masa akhir. Melakukan dua shalat itu merupakan bid&#8217;ah yang mungkar dan perkara batil yang diada-adakan.<span id="more-381"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Telah shahih dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: &#8220;Hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan, sesungguhnya setiap bid&#8217;ah itu sesat.&#8221;<br />
Dalam shahihain dari Aisyah radhiyallahu &#8216;anha, beliau berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang mengada-adakan dalam agama kami perkara yang tak ada asalnya, maka itu tertolak.&#8221;<br />
Dalam Shahih Muslim bahwa Rasululullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa melakukan satu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya, maka itu tertolak.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sepantasnya setiap orang untuk mencegah shalat ini dan memperingatkannya, membuat lari darinya, memperburuk perbuatan itu, dan menyebarkan larangan darinya. Telah shahih dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam beliau bersabda: &#8220;Barangsiapa diantara kalian melihat satu kemungkaran maka ubahlah dia dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kewajiban ulama untuk memperingatkan darinya dan berpaling darinya lebih daripada orang lain, karena mereka ditiru oleh orang lain.<br />
Janganlah seorang tertipu karena shalat itu sudah tersebar dilakukan oleh orang awam dan semisalnya. Sesungguhnya keteladanan itu hanya dengan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan dengan perintah dan larangannya, serta peringatan beliau. ..<br />
Semoga Allah melindungi kita dari perkara bidah dan memelihara kita dari melakuka perkara-perkara menyimpang. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat al-musajalat hal 45-46.</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ibadah-dan-fadhilah-amal/'>ibadah dan fadhilah amal</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/an-nawawi/'>an-nawawi</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/asy-syafiiyah/'>asy-syafiiyah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/bidah-munkarah/'>bid'ah munkarah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/shalat-nishfu-syaban/'>shalat nishfu sya'ban</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/shalat-raghaib/'>shalat raghaib</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/381/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/381/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=381&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/07/08/an-nawawi-tentang-shalat-raghaib-dan-shalat-nishfusy-syaban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Timbangan Amal Rahib, Tak Membanggakan amal shalih dan meremehkan dosa</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/28/kisah-timbangan-amal-rahib-tak-membanggakan-amal-shalih-dan-meremehkan-dosa/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/28/kisah-timbangan-amal-rahib-tak-membanggakan-amal-shalih-dan-meremehkan-dosa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 03:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[mutiara nasehat syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[sirah dan tarikh]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[perkara sepele]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[shodaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[timbangan amal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah atsar shahih mauquf yang diriwayatkan al-Imam al-Baihaqi rahimahullah dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu, beliau mengisahkan &#8230; Ada seorang rahib ahli ibadah, mengibadahi Allah di biaranya selama enam puluh (60) tahun. Kemudian datanglah seorang wanita dan singgah di biaranya. Si rahib itu kemudian berzina dengan wanita itu selama enam malam. -Wal ’iyadzu billah- Kemudian <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/28/kisah-timbangan-amal-rahib-tak-membanggakan-amal-shalih-dan-meremehkan-dosa/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=378&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dalam sebuah atsar shahih mauquf yang diriwayatkan al-Imam al-Baihaqi rahimahullah dari Ibnu Mas&#8217;ud radhiyallahu &#8216;anhu, beliau mengisahkan &#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ada seorang rahib ahli ibadah, mengibadahi Allah di biaranya selama enam puluh (60) tahun. Kemudian datanglah seorang wanita dan singgah di biaranya. Si rahib itu kemudian berzina dengan wanita itu selama enam malam. <em>-Wal ’iyadzu billah-<span id="more-378"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian karena menyesal, si rahib itu pergi lari dan singgah di satu masjid dan tinggal di sana selama tiga hari tidak makan apapun. Dia pun diberi satu potong roti. Ketika ada dua orang miskin, dia belah roti itu menjadi dua dan memberikan setengah roti ke salah seorang yang ada di sebelah kanannya dan memberikan setengah yang lain kepada orang lain yang ada di sebelah kirinya. Padahal sebenarnya dialah yang sangat membutuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Allah mengutus malaikat maut untuk mencabut ruhnya. Dan dicabutlah ruhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika hari perhitungan amal, amal ibadahnya selama 60 tahun ditimbang dengan perbuatan zina dia selama enam malam. Namun yang lebih berat adalah perbuatan zinanya selama enam malam. Masih ada lagi satu amalan shalihnya, yaitu sedekahnya dia dengan roti. Kemudian ditimbang dengan perbuatan zinanya selama enam malam. Dan yang lebih berat timbangannya adalah sedekahnya dia dengan roti tersebut. <em>(Dari al-Mathalib al-Aaliyah karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah no. 3561 dan dinyatakan Ibnu Hajar: Shahih Mauquf)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga dia terselamatkan dengan sedekahnya dengan roti tersebut. Padahal seringnya kita menganggap sepele bersedekah dengan perkara yang kita anggap kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapakah di antara kita sekarang yang mengkhususkan diri untuk beribadah selama enam puluh (60) tahun tanpa diselingi dengan perbuatan jelek? Ini dia si rahib perbuatan jeleknya selama enam hari tapi mengalahkan ibadahnya kepada Allah selama enam puluh tahun. Enam malam mengalahkan ibadah enam puluh tahun. Sedang kita setiap hari tidak luput dari kekeliruan dan kesalahan. Kita memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sekarang mengganggap bahwa amal shalih kita banyak dan amal jelek kita sedikit, dan merasa yakin akan masuk surga tanpa masuk neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga hendaknya kita tidak menganggap sepele ibadah yang kelihatannya kecil, karena mungkin dengan keikhlasan dan sesuainya dengan tuntunan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sehingga bernilai besar di sisi Allah. Sehingga kita berusaha untuk mengisi hidup kita dengan amal shalih.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kisah ini tidak bisa dijadikan alasan kita untuk hidup seperti rahib, sebab dalam islam tidak <em>rahbaniyyah</em>, bahkan Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan kepada orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah dengan tidak menikah, beliau mengucapkan: <em>&#8220;Ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah daripada kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.</em>” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Wallahu a&#8217;lam.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/sirah-dan-tarikh/'>sirah dan tarikh</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/amal-shalih/'>amal shalih</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/perkara-sepele/'>perkara sepele</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/sedekah/'>sedekah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/shodaqoh/'>shodaqoh</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/timbangan-amal/'>timbangan amal</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/378/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/378/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=378&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/28/kisah-timbangan-amal-rahib-tak-membanggakan-amal-shalih-dan-meremehkan-dosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>As-Suyuthi: Siapakah yang Mengadakan Shalat Raghaib Pertama Kali</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/27/as-suyuthi-siapakah-yang-mengadakan-shalat-raghaib-pertama-kali/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/27/as-suyuthi-siapakah-yang-mengadakan-shalat-raghaib-pertama-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 04:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ibadah dan fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan dan hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[asy-syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Suyuthi]]></category>
		<category><![CDATA[nishfu sya'ban]]></category>
		<category><![CDATA[rajab]]></category>
		<category><![CDATA[shalat raghaib]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab berkata: Yang dituduh membuat shalat raghaib adalah Abdullah bin Juhdham. Ia mengadakan shalat itu berdasar hadits yang semua perawinya tidak dikenal dan belum pernah ditemui dalam semua kitab yang ada. Asalnya ialah apa yang diceritakan oleh at-Thurthusyi dalam kitabnya, ia berkata: Abu Muhammad al-Maqdisi mengabarkan kepadaku, katanya: &#8220;Shalat raghaib yang dikerjakan <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/27/as-suyuthi-siapakah-yang-mengadakan-shalat-raghaib-pertama-kali/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=376&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Al-Imam al-Hafizh Abul Khaththab berkata: Yang dituduh membuat shalat raghaib adalah Abdullah bin Juhdham. Ia mengadakan shalat itu berdasar hadits yang semua perawinya tidak dikenal dan belum pernah ditemui dalam semua kitab yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Asalnya ialah apa yang diceritakan oleh at-Thurthusyi dalam kitabnya, ia berkata: Abu Muhammad al-Maqdisi mengabarkan kepadaku, katanya:<span id="more-376"></span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Shalat raghaib yang dikerjakan pada bulan rajab dan sya&#8217;ban itu tidak pernah ada di kalangan kita di Baitul Maqdis. Dan pertama kali terjadi pada kita yaitu pada tahun 448 H. Saat itu ada seorang dari Nablis datang ke tempat kita di Baitul Maqdis yang bernama Ibnu Abi Hamra. Ia adalah orang yang baik dalam membaca al-Qur&#8217;an. Lalu ia mengerjakan shalat di Masjidil Aqsha pada malam pertengahan bulan sya&#8217;ban (nishfusy sya&#8217;ban) dan datanglah seorang untuk turut shalat di belakangnya, lantas bergabunglah orang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya hingga jamaahnya menjadi banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian ia datang lagi pada tahun kedua dan mengerjakan sebagaimana semula bersama orang banyak, sehingga shalat itu tersebar di Masjidil Aqsha dan meluas hingga rumah-rumah dan tempat-tempat penduduk. Dan sejak saat itu terus berkelanjutan seakan-akan shalat itu adalah sunnah, hingga pada zaman kita sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ditanyakan ke orang itu setelah dia meninggalkan shalat raghaib itu: &#8216;Kami melihat engkau melakukan shalat itu secara berjamaah?&#8217; Dia menjawab: &#8216;Ya. Dan aku sekarang meminta ampun kepada Allah dari mengada-adakan shalat itu&#8217;.&#8221; At-Thurthusyi juga berkata: &#8220;Sedangkan shalat pada bulan rajab tidak pernah terjadi di kalangan kita di Baitul Maqdis, kecuali setelah tahun 480 H. Sebelum itu kami tak pernah melihat dan tidak mendengarnya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: Al-Amru Bil Ittiba&#8217; Wan Nahyu &#8216;An Al-Ibtida&#8217;</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ibadah-dan-fadhilah-amal/'>ibadah dan fadhilah amal</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/perayaan-dan-hari-raya/'>perayaan dan hari raya</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/asy-syafiiyah/'>asy-syafiiyah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/imam-suyuthi/'>Imam Suyuthi</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/nishfu-syaban/'>nishfu sya'ban</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/rajab/'>rajab</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/shalat-raghaib/'>shalat raghaib</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/syaban/'>sya'ban</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=376&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/27/as-suyuthi-siapakah-yang-mengadakan-shalat-raghaib-pertama-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>As-Suyuthi: Hukum Shalat Raghaib pada Bulan Rajab</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/26/as-suyuthi-hukum-shalat-raghaib-pada-bulan-rajab/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/26/as-suyuthi-hukum-shalat-raghaib-pada-bulan-rajab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 23:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[ibadah dan fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan dan hari raya]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama Syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[asy-syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa rajab]]></category>
		<category><![CDATA[rajab]]></category>
		<category><![CDATA[shalar raghaib]]></category>
		<category><![CDATA[sya'ban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[Jenis ini di antaranya banyak tersebar di sebagian besar negara-negara Islam dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang awam. Mengenai shalat raghaib ini, banyak dibuat hadits-hadits yang bukan bersumber dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Melalui hadits-hadits dusta bohong ini, orang meyakini sesuatu keyakinan yang tidak ada pada perkara yang diwajibkan Allah, dan dengan hadits-hadits ini terbawa pula <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/26/as-suyuthi-hukum-shalat-raghaib-pada-bulan-rajab/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=370&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Jenis ini di antaranya banyak tersebar di sebagian besar negara-negara Islam dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang awam. Mengenai shalat raghaib ini, banyak dibuat hadits-hadits yang bukan bersumber dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Melalui hadits-hadits dusta bohong ini, orang meyakini sesuatu keyakinan yang tidak ada pada perkara yang diwajibkan Allah, dan dengan hadits-hadits ini terbawa pula berbagai kerusakan dan berlarut-larut dalam hal itu menimbulkan berbagai perbuatan munkar, lalu bertebaranlah bunga-bunga apinya dan tampaklah keburukannya. Diantaranya adalah <strong>shalat raghaib yang dilakukan setiap awal jumat pada bulan rajab</strong>.<span id="more-370"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketahuilah rahimakallah, bahwa pengagungan malam dan hari ini sebenarnya baru diadakan dalam agama islam setelah empat ratus tahun dari masa diturunkannya islam kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wasallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan dalam sebuah hadits maudhu&#8217; (palsu) menurut ittifaq ulama tentang keutamaan berpuasa pada hari itu dan shalat pada malam harinya yang dinamakan shalat raghaib.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang yang menjadi pijakan para ulama ahli peneliti yang kompeten ialah karena adanya larangan mengkhususkan hari itu dengan berpuasa pada siang harinya, dan melaksanakan shalat khusus yang diada-adakan ini pada malam harinya, serta adanya larangan atas semua bentuk amalan yang mengandung pemuliaan terhadap hari itu, seperti membuat makanan, berhias diri dan lain sebagainya. Hari ini sebenarnya seperti hari lainnya (tidak mengandung keutamaan tertentu).</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga dengan hari lain <strong>pada pertengahan bulan rajab</strong>, yaitu dengan mengerjakan shalat yang bernama <strong>shalat ummi dawud</strong>, sebab shalat itu juga tidak punya landasan hukum (al-Quran dan as-Sunnah).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sumber: Al-Amru bil Ittiba Wan Nahyu &#8216;an  Al-Ibtida&#8217;</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ibadah-dan-fadhilah-amal/'>ibadah dan fadhilah amal</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/perayaan-dan-hari-raya/'>perayaan dan hari raya</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/ulama-syafiiyah/'>Ulama Syafiiyah</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/asy-syafiiyah/'>asy-syafiiyah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/puasa-rajab/'>puasa rajab</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/rajab/'>rajab</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/shalar-raghaib/'>shalar raghaib</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/syaban/'>sya'ban</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/370/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/370/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=370&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/06/26/as-suyuthi-hukum-shalat-raghaib-pada-bulan-rajab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Imam Asy-Syafii dan An-Nawawi Tentang Berbicara dan Menjaga Lidah</title>
		<link>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/05/23/nasehat-imam-asy-syafii-an-nawawi-berbicara-menjaga-lidah/</link>
		<comments>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/05/23/nasehat-imam-asy-syafii-an-nawawi-berbicara-menjaga-lidah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 07:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[mutiara nasehat syafiiyah]]></category>
		<category><![CDATA[bicara]]></category>
		<category><![CDATA[lidah]]></category>
		<category><![CDATA[lisan]]></category>
		<category><![CDATA[mulut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fatwasyafii.wordpress.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Kapan saatnya seorang berbicara? Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Lihat al-Adzkar hal. 280) Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika <a href="http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/05/23/nasehat-imam-asy-syafii-an-nawawi-berbicara-menjaga-lidah/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=363&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align:justify;"><strong>Kapan saatnya seorang berbicara?</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (Lihat al-Adzkar hal. 280)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.” (Lihat al-Adzkar hal. 284)<span id="more-363"></span></p>
<h2 style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana bila diam dan bicara sama maslahatnya?</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Bila berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menyeret pada pembicaraan yang haram atau dibenci. Hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.” (Lihat Riyadhus Shalihin)</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga ini manjadi nasehat dan bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk untuk menjaga lidah ini telah ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">1. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ</p>
<p style="text-align:justify;">“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p style="text-align:justify;">3. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:</p>
<p style="text-align:justify;">إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ</p>
<p style="text-align:justify;">“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<h2 style="text-align:justify;"><strong>Apa diantara Keutamaan Menjaga Lidah atau lisan?</strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masuk surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p style="text-align:justify;">مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ</p>
<p style="text-align:justify;">“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. al-Bukhari)</p>
<br />Filed under: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/category/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a> Tagged: <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/bicara/'>bicara</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/lidah/'>lidah</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/lisan/'>lisan</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/mulut/'>mulut</a>, <a href='http://fatwasyafii.wordpress.com/tag/mutiara-nasehat-syafiiyah/'>mutiara nasehat syafiiyah</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fatwasyafii.wordpress.com/363/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fatwasyafii.wordpress.com/363/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fatwasyafii.wordpress.com&amp;blog=2888839&amp;post=363&amp;subd=fatwasyafii&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fatwasyafii.wordpress.com/2011/05/23/nasehat-imam-asy-syafii-an-nawawi-berbicara-menjaga-lidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4045bb742ba1479c33b38e4cd4dda9ed?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">admin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
