Perjalanan Imam Syafii ke Madinah dan Pertemuan dengan Imam Malik

1 Komentar

Berikut ini akan dibawakan tentang perjalanan Imam Syafii dalam mencari ilmu.

Sebelum Imam Syafii mengadakan perjalanan menuju Imam Malik, beliau mengadakan persiapan untuk pertemuan itu. Beliau menghafal Kitab al-Muwaththa. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa beliau menghafalnya pada umur sepuluh tahun, pada sebagian riwayat yang lain dikisahkan bahwa beliau menghafalnya pada saat umur tiga belas tahun. (Tawali at-Ta’sis hal 54)

Imam asy-Syafii mengisahkan kisah perginya kepada Imam Malik: Lagi

Imam Asy-Syafii: Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku

Tinggalkan Komentar

“Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.” Ini sebagaimana dihikayatkan oleh An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ 1/63, dan Asy-Sya’rani 10/57
Dan ini diamalkan oleh para tokoh madzhab syafiiyah, semoga Allah merohmati mereka semua.

Lagi

Kesepakatan Para Imam Madzhab di Dalam Mengikuti Dalil dan Meninggalkan Pendapat Yang Menyelisihinya

Tinggalkan Komentar

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti 
pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya).”
(QS. Al-’Araf: 3)
Sangat bermanfaat bila kita mengetahui perkataan para Imam madzhab yang empat (madzhab hanafi, maliki, syafii dan hambali). Dimana merupakan sikap mereka mendahulukan perkataan Allah dan Rasul-Nya daripada pendapat selain keduanya. Mereka memutuskan perkara dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ketika sebuah permasalahan tidak disebutkan secara nas dalam dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka berijtihad dan beristimbat dari dalil-dalil yang mereka ketahui.

Imam Asy-Syafii dan imam-imam yang lain, tidak pernah sekalipun mengajarkan kepada para pengikut-pengikutnya, untuk taklid (fanatik buta) kepada mereka.
Berikut perkataan para imam tersebut, semoga Allah merahmati mereka:
Lagi

Imam Asy-Syafii dan taqlid

Tinggalkan Komentar

Sesungguhnya para ahli fikih yang ditaqlidi, mereka menolak taqlid. Mereka melarang para muridnya dari taqlid kepada mereka. Yang paling keras dalam hal itu adalah Imam Asy-Syafi’i. Sesungguhnya beliau rohimahulloh sangat tegas dalam permasalahan ittiba’ (mengikuti) atsar (hadits, sunnah) yang sohih dan mengambil kandungan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, ketika yang lainnya tidak sampai, dan beliau berlepas tangan dari ditaqlidi secara global, beliau mengatakan yang demikian dengan terang-terangan. Semoga Alloh memberi manfaat yang demikian dan memperbesar pahalanya. Hal itu menjadi sebab kebaikan yang banyak. (Ibnu Hazm berkata dalam Kitab Al-Ihkam 6/118)
Al-Hakim rohimahulloh dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam AsySyafi’i, bahwa beliau berkata kepada Ibrohim Al-Muzani rohimahulloh: “Wahai Ibrohim! Janganlah kamu taqlid kepadaku pada setiap apa yang aku katakan, lihat dalam urusan hal itu untuk diri kamu, karena itu adalah agama. Bukanlah perkataan seseorang itu hujjah kecuali perkataan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam.” (Al-Yawakit karya Asy-Sya’roni).
Di dalam Al-Mizan 1/49 karya Asy-Sya’roni rohimahulloh: Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Robi’ (murid beliau): “Wahai Abu Ishak (panggilan Robi’)! Janganlah engkau taqlid kepadaku dalam semua pendapat yang aku katakan! Perhatikan hal itu utuk diri kamu, karena sesungguhnya hal itu adalah agama.”
(Disadur dari Tarikh Ahlul Hadits, Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad Ad-Dahlawi Al-Madany rohimahulloh)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.