Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

Imam Asy-Syafii, para pengikutnya, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah dan ulama lain mengatakan: mustahab untuk melakukan puasa pada tanggal sembilan dan sepuluh muharram semuanya, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan puasa pada hari kesepuluh muharram dan berniat untuk berpuasa pada hari kesembilan muharram. Telah lewat di dalam Shahih Muslim dalam Kitab Ash-Shalah dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَل الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْر اللَّه الْحَرَام

“Puasa paling utama setelah puasa ramadhan adalah puasa bulan muharram.”

Sebagian ulama menjelaskan: mungkin alasan untuk melakukan puasa pada hari kesembilan bersama dengan hari kesepuluh, agar tidak bertasyabbuh (menyerupai) yahudi yang melakukan puasa hanya pada hari kesepuluh saja. Dan di dalam hadits ini adalah isyarat kepada hal ini.

Ada ulama yang berkata: untuk hati-hati dalam memperoleh hari asyura.

Namun pendapat pertama yang lebih utama. Wallahu a’lam.

(Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim bin Al-Hajjaj: Bab Ayyu Yaumin Yushamu Fi Asyura)

قَالَ الشَّافِعِيّ وَأَصْحَابه وَأَحْمَد وَإِسْحَاق وَآخَرُونَ : يُسْتَحَبّ صوم التَّاسِع وَالْعَاشِر جَمِيعًا ؛ لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ الْعَاشِر ، وَنَوَى صِيَام التَّاسِع ، وَقَدْ سَبَقَ فِي صَحِيح مُسْلِم فِي كِتَاب الصَّلَاة مِنْ رِوَايَة أَبِي هُرَيْرَة أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” أَفْضَل الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْر اللَّه الْحَرَام ” قَالَ بَعْض الْعُلَمَاء : وَلَعَلَّ السَّبَب فِي صَوْم التَّاسِع مَعَ الْعَاشِر أَلَّا يَتَشَبَّهَ بِالْيَهُودِ فِي إِفْرَاد الْعَاشِر . وَفِي الْحَدِيث إِشَارَة إِلَى هَذَا ، وَقِيلَ : لِلِاحْتِيَاطِ فِي تَحْصِيل عَاشُورَاء ، وَالْأَوَّل أَوْلَى ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .

About these ads